OK
Dijual
Disewa
Properti Baru
Panduan

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Ngaret, Biaya Bengkak Hingga Rp26,9 Triliun!

19 Juli 2022 · 3 min read Author: Siti Nurhikmah

kereta api cepat bandung jakarta

Sumber: JawaPos

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung terus mengalami peningkatan biaya. 

Pembengkakan biaya proyek disebut mencapai US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp26,9 triliun. 

Angka ini didapatkan setelah perbaikan dan efisiensi dilakukan di tubuh PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku perusahaan induk yang menangani Kereta Cepat Jakarta-Bandung. 

Jika dijumlahkan, biaya proyek kerja sama Indonesia-China mencapai US$ 7,97 miliar atau mencapai Rp113 triliun. 

Pembengkakan Biaya Proyek Terjadi Berkali-kali

Pembengkakan biaya proyek sendiri memang sudah terjadi berkali-kali.

Melansir Detik.com, awalnya pihak China menawarkan pinjaman US$ 5,5 miliar. 

Pinjaman itu memiliki jangka waktu 50 tahun dan tingkat bunga 2 persen per tahun. 

Bila ditaksir dalam rupiah dengan kurs terkini, maka jumlah pinjaman yang awalnya ditawarkan adalah Rp78 triliun.

Kemudian, saat proyek dijalankan biayanya melonjak menjadi US$ 5,98 atau sekitar Rp 84 triliun dalam kurs terkini. 

Biaya itu kembali membengkak menjadi US$ 6,07 miliar atau sekitar Rp86 triliun. 

KCIC, Gabungan dari BUMN dan Perusahaan Beijing Yawan

KCIC sendiri selaku pemilik proyek kereta cepat Jakarta Bandung adalah gabungan dari beberapa BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). 

Tak hanya itu, KCIC juga gabungan dari perusahaan China dalam perusahaan Beijing Yawan.

Sebanyak 60 persen dari KCIC adalah milik PSBI, sementara sisanya adalah milik gabungan perusahaan China. 

Sementara, KAI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang berada di dalam PSBI.

Mulai Terjadi Sejak September 2020

Indikasi membengkaknya biaya proyek kembali terjadi pada September 2020.  

Kala itu, perkembangan pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengalami keterlambatan dan kendala terkait pembebasan lahannya. 

Maka dari itu, pemerintah meminta KCIC untuk melakukan peninjauan ulang.

Hasil peninjauan pertama keluar pada November 2020 silam yang memperlihatkan adanya pembengkakan yang terjadi. 

Pada peninjauan ulang yang pertama, pembengkakan biaya proyek tercatat mencapai US$ 2,5 miliar atau totalnya menjadi US$ 8,6 miliar.

Imbas dari temuan pembengkakan biaya itulah yang membuat PSBI melakukan tinjauan ulang sendiri. 

Hasil peninjauan dengan konsultan, PSBI justru menemukan pembengkakan lebih besar. 

Pembengkakan bisa terjadi mencapai US$ 3,8-4,9 miliar atau kalau ditotal dengan biaya proyek di awal menjadi US$ 9,9-10 miliar.

Setelah dilakukan berbagai peninjauan ulang, ditemukan angka pembengkakan proyek sementara ini mencapai US$ 1,9 miliar atau mencapai Rp 26,9 triliun. 

Kata Salusra Wijaya Soal Pembengkakan Biaya

Menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAI Salusra Wijaya manajemen KCIC sempat dirombak, kemudian efisiensi biaya banyak dilakukan. 

Hal itulah yang akhirnya membuat pembengkakan menjadi di angka tersebut. 

“Dengan manajemen yang baru, kami sudah melakukan pergantian manajemen KCIC, dibantu konsultan kami efisiensi alias melakukan cost cutting. Mulai dari efisiensi rencana TOD, pengelolaan stasiun melalui relokasi dan sebagainya,” papar Salusra dilansir dari Detik.com.

Pembengkakan biaya proyek paling banyak terjadi pada pembiayaan pembebasan lahan dan biaya konstruksi. 

Dalam paparannya, kenaikan biaya konstruksi terjadi dengan perkiraan sebesar US$ 600 juta-1,25 miliar dan kenaikan pembebasan lahan mencapai US$ 300 juta.

Kemudian ada pula kenaikan biaya keuangan mencapai US$ 200 juta.  

Dia menyatakan kenaikan ini terjadi karena beban interest during construction yang besar karena keterlambatan proyek.

Kenaikan biaya juga terjadi untuk biaya pra-operasi dan head office sebesar US$ 200 juta. 

Kenaikan terjadi disebabkan kenaikan biaya konsultan keuangan, pajak, dan hukum. 

Di sisi lain keterlambatan proyek membuat biaya operasional keseharian proyek juga ikut naik.

Terakhir, ada juga biaya untuk keperluan lainnya yang naik mencapai US$ 50 juta yang didominasi oleh biaya keperluan sinyal yang bekerja sama dengan Telkomsel.

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Tesla Residence hanya di www.rumah123.com.


Tag: ,


IKLAN

Tutup iklan
×

SCROLL UNTUK TERUS MEMBACA