Ilustrasi Foto: Rumah123/Getty
 

Apa merek rokokmu? Berapa harganya? Ah, masih kebeli kok! cuma antara Rp20 ribu-Rp28 ribu per bungkus. Tapi, berapa bungkus sehari kamu konsumsi? Berapa harganya kalau ditotal sebulan? Setahun?

Mungkin kamu termasuk yang berpikir: Ah, ribet bener sih soal rokok, kan gak nyampe harga satu rumah? Emang bener sih, tapi kalau duit buat beli rokok itu kamu kumpulin buat beli rumah, setelah beberapa tahun bisa kok buat nge-DP-in rumah. Gak DP 0% lagi. Paling gak kamu bisa kasih DP 1%.

Baca juga: Beli Rumah Nunggu Bunga KPR Makin Naik Aja!

Gak ada yang menyangkal sih bahwa merokok itu ada nikmatnya. Tapi, lebih nikmat mana, kamu punya rumah dengan kamu menuai penyakit akibat merokok? Sama-sama berinvestasi kan? Yang satu berinvestasi rumah, yang satunya lagi berinvestasi penyakit. Milenial gak nyadar kan bahwa setiap rokok yang kamu isap berarti kamu telah berinvestasi penyakit di dalam tubuhmu. Mau bukti? Wah, gak usah dicari, di sekitar kamu aja deh, banyak kan yang mati muda karena stroke akibat merokok bertahun-tahun. Belum lagi kalau kamu googling, wah gak ke-itung tuh jumlahnya.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto, seperti dikutip Harian Kompas, Kamis (31-5-2018), rokok mengandung nikotin, zat toksik (racun), dan karsinogenik (pemicu kanker). Juga logam berat, formaldehida, aldehida, silikat, nanopartikel, dan particulate matter. Kandungan zat berbahayanya sama antara rokok konvensional dan rokok elektrik.

Baca juga: Nekat Beli Rumah Bakal Bikin Kamu Ga Malas Nabung, Cobain Deh!

Kalau kamu merokok sekarang, menuai penyakitnya ya nanti. Ini kan seperti orang menanam tanaman, buahnya dipetik nanti. Nah, kalau yang kamu tanam adalah duit alias menabung, ya lama-lama juga kebeli rumah. Kalau merokok ya buahnya penyakit. Pilih mana?

"Dia (rokok) lebih tinggi dari perumahan, bayangkan orang lebih care rokok daripada punya rumah, jadi kamu lebih senang kena hujan daripada nggak rokok," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, yang dikutip detikFinance, Selasa (17-7-2018).

Baca juga: Masih Mentingin Gaya Hidup? Mendingan Beli Rumah Deh!

Menurutnya, merokok adalah salah satu faktor yang berkontribusi pada angka kemiskinan (10,21%), selain beras (27%), sayur-mayur dan buah-buahan. Angka kemiskinan yang tercatat saat ini adalah 9,82%. Bambang juga menyebutkan komoditas lain yang berpengaruh pada angka kemiskinan, antara lain bensin, telur ayam, gula pasir, mi instan, dan daging ayam ras.

Porsi rokok penyebab kemiskinan lebih tinggi dibanding perumahan. Dalam catatan BPS (Biro Pusat Statistik), perumahan berkontribusi sebanyak 6,91% di perdesaan.

Baca juga: Gaji Berapa pun Cukup Kok untuk Mencicil KPR, Asal Kamu Ga Banyak Gaya!

Hasil pemantauan harga rokok oleh Yayasan Lentera Anak dan FCTF (Framework Convention on Tobacco Control) Warrior, sampe Februari 2018, harga rokok di Indonesia itu terjangkau oleh warga, termasuk oleh para milenial tentunya (apalagi kalau si milenial udah punya penghasilan ya), bahkan oleh anak-anak. Pemantauan dilakukan pada 10 merek rokok di 46 warung di 19 kota, antara lain di Bogor dan Pekanbaru.

Dibanding harga rumah, emang harga rokok lebih murah. Tapi, yang murah itu kalau diakumulasi dengan konsisten ya dananya bisa buat beli rumah, minimal buat bayar uang muka atau Down Payment (DP)-nya. Sekali lagi, nabung itu bisa buat investasi rumah, kalau merokok investasi penyakit. Nah, kamu lebih milih yang mana?

*

Bagikan: 908 kali