Newly painted exterior of a North American home during summertime with green grass and flower beds Ilustrasi. Foto: Rumah123/Istock

Pembangunan rumah tapak untuk Kota Jakarta sudah tidak bisa. Mengapa? Menurut Ketua DPD Arebi Jakarta, Lukas Bong, minimnya lahan dan harga tanah yang sangat mahal di Jakarta, membuat para pengembang properti enggan mengadu keuntungan di Ibu Kota ini.

"Di Jakarta, landed house sudah sangat terbatas. Tetapi, untuk pembangunan apartemen masih bisa. Untuk rumah di Jakarta, orang lebih minat beli rumah seken," katanya pada acara perkenalan Serpong Garden Apartment, Cisauk, Selasa (15/11).

Baca juga: Harga Tanah Perumahan di Depok Capai Rp7 Juta Meter Persegi

Suatu hunian, lanjut Lukas, cenderung memilih berdekatan dengan mal, kampus, atau sekolah ternama. Jadi untuk lokasi, sekarang bukan hal yang utama selama fasilitas publiknya lengkap dan aksesnya mudah.

Bicara tentang rumah seken di Jakarta, menurutnya, kawasan Selatan Jakarta paling banyak diminati. Lain Serpong, lain lagi Jakarta. Penjualan properti di Jakarta memang sedang menurun.

Baca juga: Undang-Undang Pengadaan Tanah Penting Disosialisasikan

"Rata-rata di Jakarta kan penjualan propertinya berharga di atas satu miliar rupiah. Memang sejak 2015, penjualan properti secara umum lagi slow. Tetapi, mudah-mudahan dengan adanya tax amnesty bisa meningkatkan sektor penjualan properti. Apalagi 60 persen dana dari tax amnesty disalurkan ke properti," ucapnya. (Wit)

Bagikan:
1607 kali