20161105_1316001 Gedung Olveh, Jakarta. Foto: Rumah123/IAI

Kota Tua Jakarta merupakan wilayah yang memiliki banyak bangunan bersejarah dan menjadi cagar budaya. Kawasan inilah yang sempat menjadi pusat pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Revitalisasi dan konservasi diperlukan untuk menghidupkan kawasan ini, apalagi wilayah ini ditargetkan masuk ke dalam Warisan Dunia UNESCO, badan dunia yang mengurusi kebudayaan.

Baca juga: 210 Bangunan di Yogyakarta Jadi Cagar Budaya

Upaya menghidupkan kembali dan melestarikan kawasan ini memang tidak mudah karena membutuhkan peran serta banyak pihak termasuk pemerintah, masyarakat, serta pakar terutama arsitek.

Minimnya, pembekalan ilmu revitalisasi dan konservasi saat ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya pemahaman dan minat arsitek. Padahal arsitek yang terlibat harus bersertifikat dengan klasifikasi yang tertinggi dalam arsitektur serta menurut standar UNESCO.

Baca juga: Tiga Budaya di Rumah Antik Adrianus

Hal ini menjadi sekelumit bagian yang dipaparkan dalam Seminar Bangunan Benda Cagar Budaya dengan tema “Strategi Arsitek dalam Menyikapi Pengembangan dan Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Berdasarkan Kondisi dan Wajah Kota Serta Tuntutan Fungsi, Studi Kasus : Peran Gedung Olveh terhadap Wajah Arsitektur Kawasan Kota Tua.”

Seminar ini diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta di Gedung Olveh, Jakarta pada Sabtu (5/11). Beberapa pembicara hadir di antaranya Boy Bhirawa dan Arya Abieta, keduanya arsitek yang peduli terhadap pelestarian benda cagar budaya.

Baca juga: Intip Nih Rancangan Luar Biasa Museum Sains Mesir

Gedung Olveh ini sendiri bersejarah. Ini adalah kantor Onderlinge Verzekeringsmaatschappij Eigen Hulp (OLVEH). Kantor ini didesain oleh biro arsitek C.P. Schoemaker en Associatie-Architecten & Ingenieurs dan dibangun antara 1921 hingga 1922.

Biro arsitek ini dimiliki oleh Richard Leonard Arnold Schoemaker dan Charles Prosper Wolff Schoemaker. Schoemaker bersaudara ini juga menjadi guru besar arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng, cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca juga: Hmm, Ini Dia Arsitektur Khas Afrika yang Tidak Menjiplak Gaya Barat

Olveh adalah perusahaan asuransi di jaman Belanda. Gedung ini bergaya art deco. Sekarang gedung ini di bawah naungan  aset PT Asuransi Jiwasraya.

Setelah sekian lama, Gedung Olveh ini terancam bahaya. Bayangkan setelah 94 tahun setelah selesai pembangunannya, tapak dasar gedung ini sudah nyaris satu meter di bawah permukaan jalan saat ini, tepatnya sekitar 95 cm.

Baca juga: Transformasi Pusat Kota Tel Aviv Menjadi Lebih Modern

Gedung Olveh ini menjadi saksi bisu pembangunan Jakarta yang selalu meninggikan jalan saat terjadi banjir dan juga penurunan tanah Jakarta.

By the way, konservasi Gedung Olveh sudah dilakukan oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan konsultan arsitektur dari Bhirawa Architects.

Bagikan: 1333 kali