Ilustrasi Foto: Rumah123/Getty
 

Rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus dibangun pemerintah demi memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat. Tapi, sampai saat ini pemenuhan kebutuhan primer ini belum tercapai sesuai target, yakni sejuta rumah.

Pengembang properti memang dilibatkan dalam membangun rumah MBR agar tujuan itu tercapai, tapi masih ada tantangan yang harus mereka hadapi antara lain harga beli lahan yang semakin mahal. Sehingga, berdampak pada harga jual rumah MBR.

Baca juga: 2018, Pembangunan Infrastruktur dan Rumah MBR Tetap Jadi Prioritas Pemerintah

Sebenarnya pasar rumah MBR potensial dan sangat besar. Kebutuhannya 800.000 unit hingga 1 juta unit per tahun. Segmen pasar MBR memiliki pendapatan per kapita US$ 3.500 setahun atau sekitar Rp3,8 juta per bulan. Sedangkan kemampuan cicilan MBR sekitar Rp1,2 juta per bulan.

Harga rumah MBR yang diharapkan oleh SPS Group di kisaran Rp150 juta–Rp 250 juta per unit, dengan target penjualan tahun ini 15.000–20.000 unit.

Sedangkan pengembang rumah MBR yang lainnya, PT Intiland Development Tbk, menargetkan penjualan 60 unit rumah MBR di Pacitan, Jawa Timur. Hingga Juni 2018, sudah terjual 31 unit MBR, kata Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi, seperti dikutip Kontan.co.id, Selasa (7-8-2018). Intiland melibatkan pengembang lokal, PT Menara Tinggi Bertumbuh, dengan harga jual rumah sekitar Rp130 juta per unit.

Baca juga: Harga Rumah MBR Ini Cuma Rp133,5 Juta!

Problem perumahan MBR belakangan ini, antara lain pemerintah menurunkan porsi pembiayaan rumah subsidi dengan skema FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan), dari 90% menjadi 75%. Hal ini tertulis pada Keputusan Menteri PUPR No. 463/KPTS/M/2018.

Penurunan tersebut dilakukan pemerintah untuk mengurangi beban fiskal dan meningkatkan target pembangunan rumah bersubsidi. Masalahnya, pengembang kini kesulitan menentukan harga rumah subsidi karena harga lahan yang meningkat, sementara harga rumah subsidi sudah dipatok pemerintah.

Bagikan: 939 kali