Penembakan di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat (Rumah123/Standard)

Senin, 2 Oktober 2017, Steven Paddock (64 tahun) menembaki 22.000 penonton konser di Las Vegas Strip, Las Vegas, negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Sebanyak 59 orang tewas dan 527 lainnya mengalami luka ringan hingga berat.

Paddock menembaki penonton dari lantai 32 Mandalay Bay Resort and Casino dengan menggunakan beberapa senjata otomatis laras panjang. Ribuan orang yang sedang menyaksikan penampilan penyanyi Jason Aldean pun langsung berhamburan mencari perlindungan. Aldean juga ngacir ke balik panggung.

Baca juga: Mau Aman Tinggal di Area Rawan Bencana? Bikin Dong Hunian Tahan Bencana

Pertunjukan yang digelar adalah festival musik country Route 91. Konser yang digelar selama tiga hari ini sebelumnya berjalan lancar sebelum terjadi insiden penembakan ini.

Saat polisi datang menyerbu ke kamar pelaku, Paddock sudah ditemukan tewas. Dia diduga bunuh diri. Sejumlah senjata laras panjang ditemukan di kamarnya.

Baca juga: Tinggal di Wilayah Rawan Bencana? Perencanaan Kawasan Jadi Solusinya

Insiden ini menjadi penembakan paling mengerikan sepanjang sejarah AS. Sebenarnya, negara ini punya sejarah panjang soal penembakan.

Swaziland yang berada di Afrika menjadi negara yang paling banyak memiliki korban tewas akibat senjata api. Namun, AS justru menjadi negara yang paling banyak dalam persentase per 100 orang penduduk.

Baca juga: Badai Besar Datang, Industri Properti Bakal Terancam?

Pada 2013, ada 102 orang meregang nyawa akibat dar der dor di Swaziland. Sementara di AS, ada 16.121 orang yang kehilangan nyawa.

Jumlah senjata yang beredar di masyarakat mencapai 114 juta pucuk senjata. Hampir 25 persen pemiliknya berusia di atas 45 tahun. Menurut riset Small Arms Survey, AS menjadi negara dengan orang sipil bersenjata paling banyak di dunia. Dari 100 orang, 88,8 persen punya senjata api. Kepemilikan senjata memang dilindungi konstitusi.

Baca juga: Meksiko Kena Gempa Lagi, Ingat Jangan Panik Kalau Ada Gempa Ya

Lucunya, sepanjang 2005 hingga 2015, ada 301.787 orang AS tewas karena senjata api. Sementara berapa yang mati karena teroris? Hanya 71 orang!

New York Times pernah melansir kalau statisik kematian terkait senjata api di banyak negara selain AS jarang sekali terjadi. Kemungkinan orang dibunuh oleh senjata di Jerman adalah 2 banding 1 juta. Kalau di Jepang malah 1 banding 10 juta.

Baca juga: Tujuh Tahun Beruntun Jadi Kota Paling Nyaman di Dunia, Kota Apa Sih?

Pada 2012, Business Insider melansir kalau ada 51.438 toko senjata api di AS. Bayangkan kalau di toko kelontong di AS hanya 36.536. Jumlahnya kalah banyak.

Jangan heran juga kalau dalam laporan Global Livability Report 2017,  tidak ada satu pun kota di AS yang masuk 10 besar. Kota paling nyaman didominasi kota-kota yang ada di Kanada dan Australia.

Baca juga: Perangi Teroris di Perkotaan? Lawan Pakai Pepohonan Aja

Aksi terorisme, penembakan, dan kejahatan lainnya membuat kota-kota di AS tidak nyaman. Hmm, kamu masih terpikir untuk kuliah atau bekerja di AS? Hati-hati lho.

By the way, kamu sendiri bagaimana? Kamu merasa nyaman nggak tinggal di kota-kota di Indonesia? Paling nggak hujan batu di negeri sendiri masih lebih baik dari hujan emas di negeri orang kan?

 
Bagikan:
1262 kali