jam kerja karyawan produktivitas Sumber: Pexels
Baru-baru ini, para pengusaha mengajukan usulan revisi durasi kerja dari 40 jam per minggu menjadi 45-48 jam per minggu.

Wacana penambahan jam kerja diajukan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja. 

Namun, apakah durasi kerja lebih panjang bisa memacu pekerja lebih produktif atau justru sebaliknya?

Usulan penambahan jam kerja untuk tingkatkan produktivitas seakan diakomodasi oleh Draf omnibus law RUU Cipta Kerja

Indonesia menerapkan aturan 40 jam kerja dalam seminggu. Ketentuan tersebut tertuang dalam UU Nomor 13 tahun 2003. 

Ini mengacu pada standar ketenagakerjaan internasional yang diadopsi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Konvensi Empat Puluh Jam, 1935 (No. 47).

Dilansir dari Lokadata.id, usulan revisi durasi kerja dari 40 jam per minggu menjadi 45-48 jam per minggu diajukan pengusaha. 

jam kerja produktivitas Lokadata.id

Draf omnibus law RUU Cipta Kerja pun seakan mengakomodasi kemungkinan penambahan jam kerja.

Sebagai tolok ukur, pengusaha memakai durasi kerja buruh di Vietnam. Batas durasi kerja mereka 48 jam per minggu.

Tanpa penambahan, pada praktiknya banyak para pekerja menjalankan waktu kerja yang berlebih

Di Indonesia, Tanpa revisi UU pun sebenarnya praktik kerja 8 jam sehari 5 hari sepekan tidak berlaku sama rata. 

Ini terlihat dalam olah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019.

Lebih spesifiknya, durasi bekerja migran-tetap. 

Migran-tetap yang dimaksud adalah penduduk yang bekerja dan tinggal di wilayah Jakarta lebih dari 5 tahun, tapi lahir di wilayah lain.

Di Jakarta Timur, hanya 25 persen migran-tetap yang durasi bekerjanya sesuai aturan. Padahal ini persentase tertinggi di seantero Jakarta. 

Artinya, kondisi di belahan lain Jakarta lebih menyedihkan.

Menurut penelitian, produktivitas kerja seseorang tidak ditentukan dari durasi kerja

Apakah jam kerja yang begitu panjang menandakan produktivitas tinggi? Bisa jadi itu salah kaprah.

James Clear, penulis Atomic Habits menawarkan definisi sederhana. Produktivitas adalah ukuran seberapa efisien seseorang dalam menyelesaikan tugas.

Meningkatkan produktivitas artinya menghasilkan output lebih banyak dengan sumber daya yang sama. Bisa juga mencapai output lebih banyak dalam hal volume dan kualitas dengan memanfaatkan input yang sama.

Jika seorang pekerja bisa membuat 10 baju sehari (8 jam kerja). Meningkatkan produktivitas artinya menambah jumlah baju yang dihasilkan, misal menjadi 15 baju sehari.

Menambah jam kerja, menurut Triyono, Peneliti Ketenagakerjaan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bukan solusi tepat jika tujuan yang ingin dicapai adalah peningkatan produktivitas.

Tidak ada korelasi langsung antara jam kerja dan produktivitas. Tapi ada tahapannya. “Kalau menuju produktivitas salah satu caranya meningkatkan motivasi pekerja,” ujar Triyono.

Cara meningkatkan produktivitas kerja tanpa harus menambah durasi kerja

1. Menguatkan kapasitas dan keterampilan kerja

Salah satu opsi adalah penguatan kapasitas dan keterampilan pekerja. 

Hasil survei LIPI pada 2016 di sebuah kawasan industri di Indonesia mengungkap, berbekal keterampilan selangkah lebih maju, pekerja bisa bersaing dengan kompetitor di negara lain.

Sebaliknya, jika jam kerja ditambah, efek psikologisnya bagi para pekerja bisa jadi mengkhawatirkan. 

Apalagi dalam masa transisi menuju kenormalan baru di tengah pandemi.

2. Menggantikan peran manusia dengan mesin

Pilihan lain, meningkatkan produktivitas dengan cara paling cepat yakni mengganti manusia dengan mesin. 

Dalam penelitian di industri garmen dan tekstil, Triyono dan tim membuktikan ini berhasil.

Namun, Ia menegaskan ini bukan jawaban atas persoalan bagaimana buruh tetap bekerja dan produktivitas perusahaan meningkat.

3. Menumbuhkan rasa percaya dari para pekerja

Tawaran solusi lain adalah memupuk rasa percaya pekerja. 

Caranya dengan alokasi jaminan sosial, perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dari perusahaan.

jam kerja produktivitas Lokadata.id

Menurut peneliti, ini cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas karyawan

Dua dari tiga profesi migran-tetap dengan durasi kerja paling panjang datang dari kawasan industri. 

Mereka adalah operator dan perakit mesin serta pekerja kasar.

Setidaknya 8 dari 10 migran-tetap yang bekerja sebagai operator mesin bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu. 

Kira-kira 7 dari 10 migran-tetap yang menjabat tenaga usaha jasa dan penjualan serta pekerja kasar juga bernasib sama.

Masalah ketenagakerjaan tidak bisa selesai dengan pemenuhan satu indikator. Pertama, keterampilan pekerja perlu ditingkatkan. 

Kedua, hak-hak mereka harus dipenuhi. Selain itu kenyamanan kerja juga akan sangat menentukan.

“Saya kira ini jalan tengah terbaik. 

Kalau ini diterapkan otomatis tingkat kepercayaan terhadap pengusaha tinggi,” ujar Triyono kepada Lokadata.id, Selasa (9/6/2020).

Dari rasa percaya itu, pekerja bisa sadar diri akan kondisi perusahaan yang kini harus bersaing mati-matian. 

Baru kemudian muncul keinginan untuk memberi kontribusi maksimal.

Peningkatan keterampilan bisa dilakukan perusahaan lewat berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta, atau Kementerian Ketenagakerjaan. 

Bisa juga melibatkan teknisi yang mampu meningkatkan kapasitas pekerja.

Selain itu, tentu intervensi pemerintah berperan sangat besar. Misal, bagaimana meningkatkan keamanan bagi investor dan pengusaha.

Ini sangat krusial. Sebab, kondusifitas kerja terjaga sangat mempengaruhi reaksi hubungan industrial. 

Kalau hubungan industrial berubah, misal ada hak-hak pesangon, hak pekerja, dan sebagainya, pasti akan menghambat produktivitas.

“Kalau ada reward pekerja akan berjuang, ketika nggak ada reward lebih, produktivitas akan berkurang. Semangat kerja akan terjadi kalau ada motivasi, reward, dan punishment,” pungkas Triyono.

Bagikan:
752 kali