Potensi angka golput pada Pemilu 2019 nanti diprediksi mencapai 30% . Sebenarnya, mana sih yang lebih baik? Memilih atau tidak memilih?

Pemilu 2019 tinggal menghitung hari. Ungkapan kekecewaan masyarakat akan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pun semakin santer terdengar. Bahkan menurut survei dari peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), potensi angka golput Pemilu 2019 bahkan mencapai 30%.

Kenapa sih banyak orang golput?

golput - rumah123.com Sumber: medium.com

Fenomena golput memang banyak terjadi menjelang masa Pemilu di Indonesia. Biasanya, golput terjadi akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap politik, termasuk terhadap kandidat pemimpin yang akan bersaing. Golput bukan hal yang baru di Indonesia. Menurut majalah Tempo, golput sudah ada sejak tahun 1971 menjelang Pemilu pada waktu itu.

Gerakan golput kemudian makin berkembang setelah pemerintahan semakin otoriter. Walaupun sejak tahun 1973 sudah terdapat tiga pilihan partai, yaitu Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Pembangunan, Partai Golkar selalu menjadi pemenang dan Soeharto selalu kembali menjadi presiden. Sejak itulah, muncul tindakan perlawanan terhadap kemenangan Pemilu yang mutlak tersebut, yaitu golput.

Baca juga: 3 Cara Terbaik Menghadapi Perbedaan Politik dengan Orang Terdekat

Bolehkah kita golput?

golput - rumah123.com

Banyak yang menganggap bahwa golput merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan, atau bahkan masuk ke dalam pelanggaran hukum. Padahal, menurut  Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), baik memilih ataupun tidak memilih, keduanya sama-sama merupakan bagian dari hak politik warga negara.

Pasal 28 UUD 1945 menjamin bahwa setiap warga negara mempunyai kemerdekaan untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya yang ditetapkan dalam undang-undang. Salah satu bentuk turunan dari hak tersebut antara lain adalah hak untuk menyatakan pilihan politiknya dalam pemilihan umum bagi warga negara yang ditetapkan sebagai kategori pemilih dalam pemilu.

Baca juga: Mural Politik Kampanyekan Pemilu 2019

Sebaiknya gunakan hak pilih atau tidak?

golput - rumah123.com

Alasan kaum pro golput mungkin terdengar masuk akal. Tidak ada pasangan calon yang sesuai harapan, kampanye keduanya mengecewakan, mungkin tak sedikit yang setuju dengan argumen tersebut. Tapi, kita harus tahu bahwa dalam dunia politik, tidak ada yang sepenuhnya sempurna.

Nyatanya, ada maupun tidak adanya golput, tidak akan membuat Pilpres berakhir seri. Permasalahan yang terdapat di Indonesia pun tidak langsung bisa terselesaikan begitu saja siapapun presidennya.

Jika memang amanah yang kita berikan ternyata diabaikan ketika pilihan kita telah menang, biarkanlah mereka yang mempertanggung jawabkannya nanti. Ingatlah, bahwa tidak ada pemimpin yang terbaik. Dengan tidak golput, paling tidak kita telah sama-sama berusaha untuk mencegah yang terburuk menguasai negeri kita tercinta. Dan ketahuilah bahwa satu suara akan sangat memengaruhi masa depan bangsa.

Jadi, kamu tim golput atau tim memilih?

golput - rumah123.com

Jadi, sudahkah kamu memutuskan? Mau golput atau memilih pada Pemilu 17 April nanti? Apapun pilihanmu, semoga kamu tetap berpartisipasi dalam menjalankan pemilu damai dan aman.

Untuk mewujudkan Pemilu damai, Rumah123.com mengajak masyarakat Indonesia ikut dalam gerakan #AkurSerumah. Ceritakan kisahmu yang telah berhasil tetap #AkurSerumah di tengah perbedaan, dengan mengunggah foto kebersamaanmu dengan orang terdekat di media sosial!

Bagikan: 676 kali