industri properti

Pandemi covid-19 ternyata mengubah lanskap industri dan bisnis properti. Para pelaku bisnis properti harus memiliki strategi untuk bertahan. 

Siapa menyangka kalau penyebaran virus corona akhirnya menjadi sebuah pandemi covid-19 yang mendunia. 

Pandemi ini mengubah hidup manusia mulai dari kebiasaan yang kecil sehingga hal yang besar. 

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat orang tidak bisa ke mana-mana karena segala aktivitas dilakukan di rumah. 

Hal ini juga membuat jalannya roda perekonomian mengalami masalah karena terhenti, semua sektor kena imbasnya. 

Sektor properti juga terkena imbas dari pandemi covid-19 dengan turunnya penjualan properti selama masa pandemi. 

Pandemi ini tentunya mengubah industri dan bisnis properti sehingga membuat para pelaku harus mempunyai strategi untuk bertahan. 

Situs properti Rumah123.com menggelar webinar Property Outlook 2020 untuk membahas permasalahan ini. 

Rumah123.com dan juga laman properti 99.co merupakan bagian dari 99 Group yang berkantor pusat di Singapura. 

Tema Property Outlook ini adalah “Revolusi Industri Properti dan Strategi Bertahan di Masa Pandemi”.

Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara termasuk Country Manager 99 Group Maria Herawati Manik. 

Para pembicara lainnya adalah Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Hidayat Amir. 

Hadir juga Hari Ganie yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP REI (Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia). 

Selain itu, Wakil Ketua Umum 1 AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) Nurul Yaqin juga menjadi pembicara. 

Baca juga: Rumah123 Memperoleh Penghargaan dari Bank Indonesia

industri properti

Industri Properti Jadi Salah Satu Sektor yang Tetap Tumbuh 

Hidayat Amir yang memaparkan makalahnya pertama kali menyatakan kalau properti menjadi salah satu dari tiga sektor yang masih tumbuh. 

Ada tiga sektor yang masih tumbuh positif meskipun memang mengalami penurunan jika dibandingkan pada 2019.

Dari sisi pembangunan proyek memang terganggu, namun orang masih mencari rumah tempat tinggal. 

“Pertumbuhan kredit properti masih tetap tumbuh positif, sementara NPL (non performing loan) memang naik tetapi masih relatif baik,” ujar Hidayat. 

Pemerintah sendiri telah memberikan sejumlah insentif untuk sektor properti lantaran sektor ini memang terkait dengan sektor lain.

Insentif yang diberikan mulai dari perpajakan, FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan), hingga yang terbaru Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat). 

Baca juga: Rumah123.com Akan Terus Berinovasi dalam Program Marketing

industri properti

Perubahan Perilaku Konsumen Properti 

Maria memberikan pemaparan mengenai tren pencarian properti selama masa pandemi, sejumlah hal terungkap.

Para pencari properti masih didominasi oleh generasi milenial, mayoritas malah kaum perempuan dengan persentase mencapai 54,8 persen. 

Ada hal menarik mengenai pencarian dengan pasokan properti yang ada, 30 persen pencari rumah menginginkan rumah dengan harga kurang dari Rp300 juta. 

Sementara pasokan rumah yang dipasarkan lebih banyak didominasi dengan harga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar, persentasenya mencapai 22,5 persen. 

Perilaku konsumen sudah mulai berubah dengan adanya pandemi ini dengan lebih menggunakan online untuk mencari rumah. 

Konsumen juga mulai mencari rumah pada akhir pekan, durasi pencariannya pun semakin bertambah. 

Baca juga: Kompetisi Rumah Sempit 2018 Rumah123.com Raih Penghargaan Marketing PR Awards 2019

industri properti

Efek Dahsyat Pandemi Terhadap Industri Properti 

Hari mengungkapkan dampak pandemi terhadap industri dan bisnis properti, efeknya memang besar. 

Dampaknya tidak hanya pada penjualan rumah komersial yang turun antara 50 hingga 80 persen, tetapi sub sektor lainnya. 

Tingkat pengunjung mal turun hingga 85 persen, okupansi hotel terjun bebas hingga 90 persen, belum lagi tingkat keterisian perkantoran yang turun 74,6 persen. 

Sebagai asosiasi yang membawahi ribuan perusahaan pengembang dengan jutaan karyawan, dia memaparkan sejumlah langkah penyelamatan. 

Untuk jangka pendek, developer memang harus menyelamatkan cashflow, meminta relaksasi pajak, dan menghitung biaya operasional. 

Sementara untuk jangka panjang, REI meminta kebijakan pemerintah untuk menciptakan ekosistem investasi agar industri properti bisa tumbuh. 

Baca juga: Rumah123: Developer Mesti Pahami Kenapa Konsumen Milenial Ga Mau Beli Rumah

industri properti

Agen Properti Harus Bisa Melihat Perubahan Perilaku Konsumen 

Nurul Yaqin memaparkan mengenai perubahan perilaku konsumen dalam mencari properti pada masa pandemi. 

Selain perubahan, dia juga melihat kalau saat ini kondisi pasar adalah buyer’s market, pembeli memiliki posisi tawar lebih baik. 

Situasi dan kondisi lainnya adalah penurunan penjualan, pasokan yang berlebihan, konsumen yang menunda membeli. 

Konsumen juga memilih wait and see sebelum membeli rumah atau melakukan investasi properti. 

Agen properti harus memahami semua ini saat memasarkan properti pada masa pandemi covid-19. 

Broker memang harus berevolusi dan beradaptasi terhadap perubahan besar yang terjadi belakangan ini. 

Situs properti Rumah123.com selalu menghadirkan update terkini mengenai industri dan bisnis properti.

Bagikan:
1104 kali