Proyek ini diharapkan bisa mengurai kemacetan di Jalan Sudirman dan Gatot Subroto.. FOTO: Rumah123/Jhony Hutapea

Otw alias on the way, wah ini jadi alasan paling ampuh warga Jakarta yang terjebak macet saat berkendara di jalan raya. Iya nggak? Pasti kamu pernah kasih alasan ini ketika ada teman atau kerabat yang menanyakan keberadaan kamu via WhatsApp, Line, atau lainnya.

Kemacetan di Jakarta memang semakin parah. Semakin banyaknya mobil dan motor, serta pembangunan fasilitas di Jakarta menambah jalanan terasa semakin sesak.

Baca juga: Integrasi Bus, Kereta, dan Sepeda, Ini Baru Sistem Transportasi Oke!

Perusahaan transportasi berbais aplikasi daring (online) asal Amerika Serikat, Uber merilis hasil riset mengenai kemacetan di Jakarta. Uber melakukan survei terhadap 9.00 responden berusia 18 hingga 65 tahun pada kurun waktu Juli hingga Agustus 2017.

Responden tersebar di Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Jakarta, Manila (Filipina), Hongkong, Taiwan, Hanoi (Vietnam), Ho Chi Minh (Vietnam), dan Bangkok (Thailand).

Baca juga: Kalau Ada Jaringan Hyperloop, Kamu Kerja di Jakarta Tapi Tinggal di Semarang Lho!

Menurut data dari hasil riset konsumen Uber terungkap kalau kemacetan Jakarta memakan waktu 22 hari setahun bagi setiap pengendara terutama bagi mereka yang menggunakan mobil.

“Rata-rata pemilik mobil di Jakarta menghabiskan 68 menit terjebak macet dan 21 menit mencari tempat parkir setiap hari, setara 22 hari per tahun,” kata Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia, John Colombo seperti dikutip dari Kompas.

Baca juga: Kapan Ya Penumpang Kereta di Indonesia Pakai Tiket Microchip Seperti di Swedia?

Angka ini tidak jauh berbeda dengan rata-rata kemacetan di kota-kota lainnya di Asia. Setiap hari, warga kota lainnya di Asia terjebak macet selama 52 menit dan menghabiskan waktu 26 menit untuk mencari parkir. Angka ini setara dengan 19 hari per tahun.

Lantaran kesulitan mencari tempat parkir, 72 persen warga di kota-kota Asia dan 74 persen warga Jakarta pernah melewatkan atau terlambat datang ke momen penting seperti pernikahan, cek kesehatan dengan dokter, wawancara kerja, acara duka, hingga konser musik.

Baca juga: Sekarang Saatnya Bepergian Naik Roket, Siapa Milenial yang Mau Ikut?

Uber memberikan analisa yang menunjukkan bahwa orang yang menggunakan transportasi online lebih mungkin beralih dari menggunakan kendaraan pribadi. Mereka bisa mengombinasikan perjalanan pribadi dengan transportasi massal seperti bus dan kereta.

Hmm, menghabiskan waktu 68 menit karena macet plus 21 menit mencari tempat parkir? Itu sama saja 89 menit atau nyaris 1,5 jam per hari.

Baca juga: Mobil Futuristik Buat Rame-rame! Yuk, Satu Kampung Naek!

Bagaimana dengan 22 hari per tahun kena macet? Bayangkan kalau cuti tahunan kamu biasanya 12 hari per tahun. Jumlah tadi malah nyaris dua kali cuti tahunan. Dan kamu menghabiskannya di jalanan.

Nggak mau kena macet? Pakai kendaaran umum dong seperti bus, mikrolet, TransJakarta atau kereta commuter line. Kamu harus membiasakan diri memakai transportasi umum. Kalau di negara-negara maju, orang sudah biasa tuh naik kereta atau bus.

Baca juga: Di Jerman Sudah Ada Bus Tanpa Sopir, Kalau di Indonesia Kapan Ya?

Solusi lainnya adalah memiliki hunian yang dekat dengan transportasi umum seperti commuter line. Kalau beberapa tahun lagi sih, akses light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) bisa memperbanyak pilihan kamu dalam mencari hunian.

Kamu mau menghabiskan waktu kamu di jalanan alias tua di jalan? Mendingan juga kamu habiskan bersama keluarga atau sahabat.

Bagikan: 1664 kali