mrt banjir- rumah123.com Terowongan MRT Jakarta Fase II Akan Didesain Bisa Mengantisipasi Bencana Banjir yang Sering Terjadi di Jakarta. Seluruh Rute dan Stasiun MRT Jakarta Fase II Berada di Bawah Tanah (Foto: Rumah123/Getty Images)

Pembangunan MRT Jakarta fase II baru akan dimulai. Nantinya, transportasi publik ini didesain bisa mengantisipasi bencana banjir yang sering terjadi di Jakarta.

Banjir besar melanda Jakarta pada Rabu (1/1/2020). Banjir tidak hanya menggenangi Jakarta, namun juga kawasan sekitarnya seperti Tangerang, Bekasi, dan Depok.

Transportasi massal seperti KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line sempat tidak mengoperasikan rute Tangerang-Duri. Ada genangan air yang mengganggu perjalanan kereta.

Baca juga: Rencana Rute MRT Jakarta Diperpanjang Sampai Ke Tangerang Selatan

LRT (Light Rail Transit/Lintas Rel Terpadu) Jakarta juga sempat tidak beroperasi. LRT Jakarta ini baru memiliki rute Pegangsaan Dua-Velodrome Rawamangun.

Hal yang sama juga dialami oleh BRT (Bus Rapid Transit) Transjakarta. Ada sejumlah koridor Transjakarta yang tergenang air.

Sementara hanya MRT Jakarta fase I yang beroperasi normal, padahal ada sejumlah stasiun dan juga rute MRT yang berada di bawah tanah. MRT Jakarta baru memiliki satu rute yaitu Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia.

Baca juga: 2026, Cikarang-Balaraja Akan Memiliki Jaringan MRT

Saat terjadi banjir besar, tidak ada jalur MRT atau stasiun yang terendam. Operator menyatakan semua berjalan normal seperti biasanya.

Pengelola MRT, PT MRT Jakarta menyatakan akan menerapkan pembangunan MRT Jakarta fase II yang antisipatif terhadap pencegahan bencana banjir. Fase II ini merupakan bagian koridor Utara-Selatan yaitu ruas Bundaran Hotel Indonesia-Kota.

Pintu Masuk Stasiun MRT Akan Ditinggikan

Laman berita online Kumparan.com melansir pernyataan Corporate Secretary MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin. Dia menyatakan bahwa dalam pembangunan MRT fase II, pintu masuk menuju stasiun akan ditinggikan.

Operator MRT akan menjaga pintu masuk di stasiun jangan sampai lebih rendah dari prediksi banjir. Pengelola juga akan melakukan pengecekan drainase di lokasi pembangunan MRT fase II yang berjarak 200 meter dari pintu masuk stasiun.

Saat membangun MRT Jakarta fase I, ada penataan trotoar. Hal yang sama akan dilakukan, sekaligus bisa memastikan sistem drainase bisa mengalirkan air dengan baik.

Baca juga: MRT Jakarta Luncurkan Kartu Multi Trip untuk Memudahkan Penumpang

Kamaluddin melanjutkan setiap stasiun MRT memiliki saluran pembuangan air. Setiap stasiun MRT memiliki tangka penampungan air di bawah tanah. Sistem ini dikenal dengan nama sumpit. Setiap stasiun mempunyai dua tangki sumpit yang besar untuk menampung air yang masuk.

Saat air banjir masuk, air tidak akan menggenani lantai stasiun. Air akan dialirkan menuju ke tangki penyimpanan.

Stasiun MRT Berada di Kedalaman 36 Meter di Bawah Tanah

Jalur MRT Jakarta fase II ini mempunyai rute sepanjang 7,8 kilometer. Rute ini memiliki tujuh stasiun. Seluruh stasiun berada di bawah tanah.

Hal ini tentunya berbeda dengan MRT Jakarta rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Sebagian rute dari fase I merupakan jalur layang. Rute fase I mempunyai panjang 15,7 kilometer. Ada 13 stasiun MRT, tujuh di antaranya merupakan stasiun layang. Sisanya, enam stasiun berada di bawah tanah.

MRT Jakarta fase II tidak memungkinkan mempunyai rute layang. Seluruh rute harus berada di bawah tanah lantaran kawasan sekitar sudah padat dengan bangunan.

Baca juga: MRT Jakarta Fase II Mulai Dibangun Pada Maret 2020

Rencananya, ada tujuh stasiun dalam jalur ini. Empat stasiun berada di Jakarta Pusat, sisanya tiga stasiun berada di Jakarta Barat. Stasiun yang berada di Jakarta Pusat adalah Sarinah, Monas, Harmoni, dan Sawah Besar. Sementara stasiun yang berada di Jakarta Barat adalah Mangga Besar, Glodok, dan Kota.

Perbedaan lainnya adalah MRT fase II akan dibangun bertingkat, sedangkan fase I dibuat berdampingan. Jalur yang melewati kawasan Sawah Besar atau Mangga Besar bakal dibangun bertingkat.

Hal ini dilakukan karena keterbatasan area di kawasan Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk. Masalah lainnya adalah keberadaan Kali Batang Hari.

Baca juga: Kehadiran MRT Jakarta Membuat Keinginan Membeli Kendaraan Menurun

Jalur bertingkat ini tentunya membuat desain stasiun dibuat menjadi menjadi empat lantai. Ada dua stasiun yang mempunyai empat lantai yaitu Stasiun Sawah Besar dan Stasiun Mangga Besar.

Dua stasiun tersebut dibangun di kedalaman 36 meter di bawah tanah. Kedua stasiun ini menjadi stasiun yang paling dalam. Sedangkan kedalaman stasiun lainnya mulai dari 17 meter.

Bagikan:
1931 kali