montessori adalah - Rumah123.com Montessori adalah konsep belajar anak usia dini - Rumah123.com

Bagi kamu yang punya anak di usia sekolah, pasti sudah sering mendengar soal montessori. Tapi bisa saja ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di benakmu. Apa itu montessori? Seperti apa konsepnya? Apa perbedaannya dengan pendidikan anak usia dini yang biasa?? 

Ditambah lagi, banyak orang yang mengaplikasikan montessori di rumah. Nah, di artikel ini, Rumah123,com akan membahas mengenai montessori selengkapnya.

Mengenal apa itu montessori lebih dalam

Montessori adalah metode pendidikan anak-anak, yang didasari oleh teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori sejak lebih dari 100 tahun lalu. Ia adalah seorang pendidik Italia di sekitar akhir abad 19 dan awal abad 20. 

Dalam teorinya, Maria percaya bahwa setiap individu harus mengedukasi dirinya sendiri. Peran guru adalah untuk memberikan informasi dan membingbing siswa. 

Sebagai bahan penelitiannya, Maria mendesain sekolah dengan menyesuaikan perilaku anak. Misalnya, perilaku yang paling umum terdapat pada anak adalah kebiasan sering bergerak. Maka dari itu, ia membuat suasana kelas yang membebaskan anak-anak untuk bergerak.

Baca juga: 8 Aturan dalam Membuat Rumah Menjadi Ramah Anak

5 prinsip utama dalam montessori

Di dalam konsep belajar Montessori sendiri, ada 5 prinsip utamanya yang harus diketahui, antara lain:

1. Hands-on learning (pembelajaran langsung)

Prinsip yang satu ini telah dijelaskan secara singkat di atas. Maria Montessori menemukan bahwa anak-anak sulit untuk diam. Jadi, ia menghindari mengajarkan anak-anak dengan membiarkan mereka hanya duduk diam sambil mendengarkan guru.

Alih-alih mempelajari mata pelajaran dengan menghapal atau mengerjakan PR di buku PR, yang dilakukan anak-anak adalah bekerja dengan material atau alat peraga yang ada untuk mempelajari sebuah konsep. 

Misalnya dalam belajar matematika, mereka tak sekadar menghapal angka, tapi melakukan hitung-hitungan dengan material yang diberikan. 

Dengan cara ini, anak-anak menjadi lebih cepat memahami konsep akan materi pelajaran tersebut. 

Hal ini kemudian diperkuat dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara gerakan dan pikiran. Artinya, dengan menyentuh, mereka bisa lebih mudah memiliki pemahaman penuh ketika belajar.

2. Vertical age grouping (pengelompokkan usia vertikal)

Pada pendidikan anak versi konvensional, setiap anak dengan usia yang sama, akan dikelompokkan pada kelas yang sama pula. Lain halnya pada konsep Montessori. 

Di sini, di dalam satu kelas terdapat tiga kategori usia anak. Anak-anak usia 3-6 tahun akan dibagi dalam satu kelas, begitu juga dengan anak usia 6-9 tahun, dan seterusnya.

Konsep ini diterapkan karena Montessori percaya bahwa mencampurkan kelas dengan anak yang berbeda usia memiliki pengaruh yang baik. Mereka akan belajar dari satu sama lain. 

Anak-anak dengan usia yang lebih tua akan membantu memberikan contoh atau mengajari anak yang lebih muda. Anak-anak dengan usia lebih muda akan belajar dari yang lebih tua.

Ketika anak yang lebih tua mengajari anak yang lebih muda, otomatis mereka juga belajar untuk dirinya sendiri sekaligus melatih jiwa kepemimpinannya. 

3. Holistic learning (pembelajaran menyeluruh)

Pendekatan Montessori adalah menyeluruh, dengan tujuan untuk mengembangkan seluruh aspek dalam hidup anak. Yang diajarkan di sini bukan hanya seputar akademik saja.

Jadi, selain mempelajari matematika, bahasa, maupun ilmu pengetahuan lainnya, anak-anak diajarkan keterampilan hidup (practical life skills). Contohnya seperti cara merawat diri sendiri, cara merawat lingkungan, sehingga mereka terbiasa menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam prinsip ini pula, Montessori percaya bahwa cara belajar dengan merangsang alat indera bisa lebih efektif. Sehingga dalam praktiknya nanti, dibutuhkan sejumlah alat edukasi sensorial untuk mengasah kemampuan 5 indera mereka. 

Ketika mereka mampu mengembangkan seluruh indera yang dimilikinya, kepercayaan diri mereka pun otomatis meningkat. 

4. Prepared environment (lingkungan yang dipersiapkan)

Ruang belajar dalam Montessori perlu didesain khusus dan dibuat sedemikian rupa untuk membantu anak bisa mengeksplorasi dan bisa belajar secara mandiri.

Misalnya seperti alat-alat peraga yang ditata dengan rapi di rak-rak rendah.

Material ditata sesuai urutan, dari yang sederhana ke yang kompleks, sehingga membawa anak-anak belajar dari hal konkrit ke hal yang abstrak. 

Di dalam kelas Montessori, semua material ditata serba teratur. Setiap benda memiliki tempatnya masing-masing. Dengan begitu, anak bisa tenang dan nyaman karena bisa menemukan alat pembelajaran mereka dengan mudah. 

5. Freedom within limit (kebebasan dalam batasan)

Anak-anak akan diberi kebebasan, namun tetap dalam batasan. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah kebebasan untuk melakukan apapun.

Jika masuk ke dalam kelas Montessori, kamu akan melihat anak-anak yang bergerak ke sana ke mari untuk belajar menggunakan material yang disediakan.

Baca juga: 6 Cara Mudah dan Murah Menata Kamar Sempit untuk Anak Perempuan 

Cara penerapan Montessori di rumah

Itu dia penjelasan mengenai apa itu Montessori. Nah, apakah bisa metode pendidikan Montessori dibawa ke dalam rumah? Jawabannya bisa. Metode pendidikan ini bisa diterapkan di rumah untuk anak usia mulai dari dua tahun.

Bagaimana cara memulainya? Kamu bisa mengikuti langkah-langkah ini.

1. Persiapkan ruangan khusus untuk menerapkan Montessori

Seperti yang dibahas di atas, Montessori membutuhkan lingkungan yang dipersiapkan. Hal ini menjadi penting agar manfaat dari Montessori itu sendiri bisa didapatkan anak-anak secara maksimal. 

Dengan mempersiapkan ruangan yang berisi material-material pembelajaran dan ditata di rak secara rapi, anak-anak dapat menemukan apa yang mereka butuhkan. Mulai dari pengalaman konkret saat belajar, dan bergerak sambil belajar. 

Mereka juga akan terlatih mandiri dan tak meminta bantuan orang lain hanya untuk meletakkan atau mengambil mainannya misalnya. 

Maka dari itu, siapkan ruangan khusus yang berisi dengan rak-rak. Pastikan material yang digunakan terbuat dari bahan-bahan natural, bukan dari plastik. 

2. Bereskan rumah dari barang yang tak digunakan lagi

Tak jarang anak-anak memiliki terlalu banyak mainan. Mulai sisihkan barang-barang tersebut bersama anakmu.

Siapkan beberapa wadah, dan sortir mana yang masih digunakan, dan mana yang tidak. Tentu saja, libatkan anak dalam proses ini. 

3. Memberi label nama pada barang-barang

Tuliskan nama barang yang ada di dalam rumah. Misalnya lemari, tuliskan kata “LEMARI” pada label. Minta pada anak untuk menempelkan label tersebut ke barang yang kamu tunjuk. Mungkin anakmu tak langsung mengerti arti dari label tersebut. 

Tapi semakin sering mereka melihatnya, mereka akan lebih mudah untuk mengingat kosakata tersebut. Cara ini adalah cara untuk menstimulasi otak anak pada lingkup area bahasa. 

4. Biarkan anak berpakaian sendiri

Mungkin dengan membiarkan anak berpakaian sendiri, mereka akan memakainya dengan salah. Namun di sinilah mereka punya kesempatan belajar hal baru dan belajar dari kesalahan. 

Biarkan juga mereka untuk memilih padu padan pakaiannya. Tak masalah jika hasilnya tak matching. Dengan cara ini, kepercayaan diri mereka akan meningkat.

Jika mereka mulai kesulitan, baru tawarkan bantuan. Pastikan mereka tahu bahwa kamu ada untuk membantu mereka, tapi bukan berarti kamu buru-buru membenarkan ketika mereka melakukan kesalahan. 

5. Biarkan anak membantumu bersih-bersih rumah

Siapkan peralatan bersih-bersih seperti sapu dalam ukuran mereka. Setiap kali kamu bersih-bersih rumah, minta mereka untuk ikut melakukan hal yang sama, namun dengan peralatan miliknya.

Mereka pelan-pelan akan mengerti bahwa selesai melakukan aktivitas yang mengotori rumah, harus ada aktivitas bersih-bersih setelahnya.

Bagikan:
4920 kali