soeharto bapak pembangunan

Inilah alasan mengapa mantan Presiden Soeharto dijuluki sebagai bapak pembangunan di Indonesia. Yuk, simak ulasan lengkapnya di artikel ini.

Selama memimpin Indonesia pada Orde Baru, Presiden Soeharto memang dikenal tegas dalam membuat kebijakan.

Salah satu kebijakan yang menjadi fokusnya ketika memimpin adalah pada sektor pembangunan infrastruktur.

Beberapa infrastruktur yang berhasil dibangun pada rezim Soeharto antara lain adalah Bandara Soekarno Hatta, Tol Jagorawi, PLTA Maninjau di Agam, Sumatera Barat, hingga Jembatan Barito di Kalimantan Selatan

Itu baru segelintir nama proyek saja, jika dijumlahkan masih banyak lagi prestasi yang dibuat oleh Soeharto.

Bahkan ia dijuluki sebagai Bapak Pembangunan.

Kira-kira, apa ya alasan dibalik pemberian julukan tersebut?

Yuk, langsung saja kita simak ulasan singkat mengenai mengapa Soeharto dijuluki Bapak Pembangunan berikut ini.

Alasan Mengapa Soeharto Dijuluki Bapak Pembangunan

Mengapa soeharto dijuluki Bapak Pembangunan Sumber: Bukalapak.com

Melansir dari akun @kemensetneg.ri, berdasarkan keterangan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti julukan Bapak Pembangunan diberikan kepada Soeharto karena memfokuskan program kerjanya terhadap pembangunan ekonomi dan menciptakan landasan untuk pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). 

Soeharto mendapat mandat dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia pada 26 Maret 1968. 

Sebelumnya, tentara berpangkat terakhir Mayor Jenderal ini menjadi Pejabat Presiden sejak 12 Maret 1967 menggantikan Presiden Soekarno

Tidak mudah mengawal negara yang baru terbentuk seperti Indonesia waktu itu. 

Indonesia termasuk negara miskin dengan situasi politik yang tidak stabil pasca peristiwa G30 S/PKI. 

Soeharto dihadapkan berbagai persoalan yang harus ia carikan jalan keluarnya. 

Di awal kepemimpinannya, Soeharto mengangkat para teknokrat untuk membantunya mengelola Indonesia menuju ke arah lebih baik. 

Salah satunya adalah Profesor Widjojo Nitisastro yang kemudian merancang Program Repelita pada 1967. 

Widjojo Nitisastro yang menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kemudian menyusun Program Repelita dibantu oleh sejumlah teknokrat dari lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). 

Mereka antara lain Emil Salim, Ali Wardhana, JB Sumarlin, Saleh Afiff, Subroto, dan Mohammad Sadli.

Program Repelita merupakan program pembangunan dengan menetapkan sasaran yang akan dicapai dalam lima tahun. 

Fokus sasaran berganti dalam setiap Repelita menyesuaikan dengan target yang ingin dicapai dalam lima tahun tersebut. 

Karena itu, selama 30 tahun Soeharto memimpin, program sasaran Repelita I hingga Repelita VI selalu berbeda-beda. 

Berikut ini rinciannya:

Repelita I (1969–1974) bertujuan memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur dengan penekanan pada bidang pertanian. 

Repelita II (1974–1979) bertujuan meningkatkan pembangunan di pulau-pulau selain Jawa, Bali dan Madura, di antaranya melalui transmigrasi. 

Repelita III (1979–1984) menekankan bidang industri padat karya untuk meningkatkan ekspor.

Repelita IV (1984–1989) bertujuan menciptakan lapangan kerja baru dan industri. 

Repelita V (1989–1994) menekankan bidang transportasi, komunikasi dan pendidikan. 

Repelita VI (1994–tidak selesai) bertujuan meningkatkan pembangunan iklim investasi asing dalam rangka menggenjot perekonomian dan industri nasional.

Nah, itulah alasan mengapa Soeharto dijuluki Bapak Pembangunan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

Jika kamu sedang mencari rumah, apartemen, tanah atau yang lainnya di marketplace properti tepercaya dan aman, bisa mengunjungi laman Rumah123.com dan 99.co untuk mendapatkan penawaran terbaik seperti di Jade Park Serpong 2 Tangerang.

Buka lembaran baru dan wujudkan impianmu, kami selalu #AdaBuatKamu.

Jangan sampai ketinggalan untuk mendapatkan berita dan tips terbaru mengenai dunia properti dalam negeri serta mancanegara di artikel Rumah123.com.

Bagikan:
237 kali