sampah rumah tangga Sumber: Lokadata.id

Setiap rumah pastinya menghasilkan sampah rumah tangga setiap harinya. 

Di Indonesia, dari 104.000 ton sampah per hari, 53.000 ton (51 persen) di antaranya berasal dari rumah tangga. 

Sebagai perbandingan, jumlah sampah rumah tangga mencapai 3,5 kali sampah dari pasar tradisional; sembilan kali sampah industri dan perniagaan; serta 12 kali sampah perkantoran.

Bahkan menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rata-rata rumah tangga Indonesia membuang 199 gram sampah per orang per hari. 

Bagaimana dengan kamu? Coba sesekali timbang tong sampah di rumahmu.

Jika berat sampah di rumahmu kurang dari itu, kamu telah memberi sumbangan besar pada penanganan sampah di dunia.

Berbagai kota di Indonesia mulai menangani masalah sampah rumah tangga

Sampah rumah tangga merupakan persoalan serius di seluruh jagat. 

Berbagai kota di dunia, dari New York sampai Tokyo, dari Taipei sampai San Francisco mencoba menangani soal sampah rumah tangga dengan berbagai cara.

Termasuk menggunakan teknologi otomasi, sensor, dan alat vakum raksasa.

Dilansir dari Lokadata.id, sejumlah daerah berhasil menekan sampah rumah tangga, dengan jumlah yang sangat istimewa. 

Pengolahan data KLHK 2017-2018 menunjukkan, Kabupaten Sleman rata-rata hanya membuang 0,03 gram sampah rumah tangga per orang per hari - atau hanya 0,02 persen dari rata-rata nasional.

Dengan rekor tersebut, warga Kabupaten Sleman tercatat sebagai masyarakat yang paling sedikit membuang sampah di Indonesia.

Kabupaten Tanah Bumbu dan Barito Utara, di urutan kedua dan ketiga, memproduksi sampah masing-masing 2 gram dan 2,5 gram per orang per hari. Ini hanya 1 - 1,3 persen dari rata-rata nasional.

Selain wilayah kabupaten, sejumlah kota di Indonesia juga mencatat keberhasilan serupa. 

Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan, misalnya, memproduksi hanya 42,8 gram sampah per orang per hari, atau 22 persen baseline nasional. 

Kota Baubau, Sulawesi Tenggara 177 gram per hari atau 89 persen nasional.

Cara kota-kota tersebut untuk menekan jumlah sampah rumah tangga

Lalu bagaimana daerah-daerah tersebut berhasil menekan jumlah sampah rumah tangga? Sleman, bisa jadi contoh. 

Di wilayah penghasil buah salak itu, pemerintah daerah membagikan unit-unit komposter kepada publik agar sampah yang dibuang benar-benar hanya yang tak bisa dimanfaakan

Sejumlah komunitas merintis pembangunan bank sampah, membentuk kelompok pengelola sampah dari tingkat rukun tetangga (RT), dan menggelar berbagai pelatihan daur ulang.

Di Donokerto, Kecamatan Turi, misalnya, pemerintah desa menggelar pelatihan daur ulang sampah menjadi berbagai macam kerajinan tangan.

"Kelompok-kelompok ini juga membangun tempat sampah 3R reduce, reuse, recycle ,” kata Hendra Michael Aquan, lulusan manajemen lingkungan Universitas Massey, New Zealand, yang kini mengajar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Namun, perlu dicatat, angka sampah rumah tangga yang sangat kecil di Sleman bukan 100 persen lantaran pengelolaan sampah yang baik.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Dwi Anta Sudibya, masih terdapat masyarakat yang membuang sampah rumah tangga ke selokan yang menimbulkan tumpukan sampah liar. 

Tak ayal, banyak sampah rumah tangga yang tak tercatat karena dibuang ke sembarang tempat.

Kabupaten Banyuwangi yang hanya membuang sampah 4,4 gram per orang per hari (2,5 persen baseline nasional) juga fokus pada penanganan sampah di tingkat terbawah - mirip dengan strategi Sleman.

Di Tembokrejo, Kecamatan Muncar, misalnya, sampah warga dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). 

Sampah warga diangkut, dikumpulkan, lalu dipilah dan diolah.

Sampah organik diproses menjadi kompos dengan memobilisasi pasukan larva lalat black soldier yang punya kemampuan mengurai sampah organik, sedangkan yang non-organik dipilah dan dijual.

Bekerjasama dengan Systemiq, sebuah LSM internasional, Bumdes Tembokrejo kini sudah menjual sampah olahan ke Surabaya dan Pasuruan dengan pendapatan Rp 25 juta per bulan.

“Kami ingin Banyuwangi tidak hanya bersih kotanya saja, tapi juga desanya," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, seperti dilansir dari DLH Kota Semarang.

Sementara itu, di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, pemerintah menekan jumlah sampah rumah tangga dengan mengutip retribusi sampah.

Besarnya retribusi memang tidak ditentukan oleh jumlah sampah yang dibuang (seperti sistem pay-as-you-throw di luar negeri), tapi dengan dasar luas rumah. 

Rumah dengan luas lebih dari 120 meter persegi, ditarik iuran Rp15.000 per bulan.

Semakin kecil luas rumahnya, semakin murah tarifnya. 

Yang paling murah, retribusi sampah untuk rumah ukuran kurang dari 36 meter persegi, yang hanya membayar Rp5.000 per bulan.

Keberhasilan pungutan retribusi sampah di kota peraih Piala Adipura ini ditentukan oleh kemampuan satuan administrasi terkecil, yaitu rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) yang aktif mengampanyekan pentingnya kebersihan lingkungan.

Bagikan:
539 kali