Ilustrasi Foto: Rumah123/iStock
   

Milenial adalah generasi masa kini yang banyak jadi sorotan di segala bidang. Termasuk bidang properti. Dalam hal ini PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mendorong generasi milenial untuk menjadi pengusaha properti.

Menurut Direktur Utama Bank BTN, Maryono, seperti dikutip Republika.co.id, Selasa (23-10-2018), ada beberapa alasan mengapa generasi milenial bisa jadi pengusaha properti, antara lain seperti berikut ini:

Properti merupakan investasi favorit investor kakap.

Mengapa properti menjadi investasi favorit? Ya karena ketersediaan lahan yang semakin terbatas membuat para investor memegang kontrol. Daya juang mereka ketika berinvestasi properti sangat tinggi. Mengapa? Karena nilai aset dapat ditingkatkan dengan modal minimum, ada capital gain dan cashflow, dan bank lebih suka memberikan pinjaman dengan jaminan properti.

Baca juga: Indonesia Butuh Pengusaha Properti Baru

Indonesia potensial jadi tempat aliran investasi properti dunia.

Berdasarkan peringkat Top Cities for Real Estate Investment 2018 dari PriceWaterhouse Coopers (PwC), Jakarta menempati urutan ke-5 setelah Bangalore, Bangkok, Guangzhou, dan Ho Chi Minh City.

“Artinya, banyak investasi yang mengalir ke Jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan kota besar lainnya di Indonesia juga berkembang dan menarik investasi properti karena sejumlah faktor. Di antaranya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan rumah lewat Program Sejuta Rumah, pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan infrastruktur, dan digitalisasi di dunia bisnis yang makin efisien,” kata Maryono.

Ceruk bisnis properti Indonesia besar dan belum tergarap maksimal.

Generasi milenial diproyeksi menjadi tulang-punggung ekonomi bangsa di masa depan. Sementara bisnis properti ceruknya masih besar dan belum tergarap maksimal. Di sini peran generasi milenial sangat besar.

Baca juga: SBM ITB Gandeng BTN Cetak Pengusaha Properti

Kebutuhan rumah di Indonesia masih besar.

Dalam catatan BTN, selisih antara kebutuhan rumah dan kapasitas pengembang menyediakannya masih besar. Di Indonesia kebutuhan rumah 800.000 unit per tahun, sementara kapasitas pengembang hanya bisa membangun 250.000 hingga 400.000 unit per tahun.

Minimnya pasokan membuat daya dorong sektor perumahan terhadap PDB Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2017 hanya mencapai 2,8%. Angka ini sangat rendah dibandingkan negara tetangga, semisal Malaysia yang mencapai di atas 20% dan Thailand yang 8%.

“Padahal jika investasi properti meningkat, kebutuhan rumah masyarakat terpenuhi, setidaknya 170 industri turunan lainnya ikut terdongkrak. Banyak lapangan kerja berkembang yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Maryono lagi.

Baca juga: Ciputra Terus Sebarkan Semangat Kewirausahaan

BTN Membiayai konstruksi dan properti buat para pengembang.

Maryono menjelaskan, dalam bisnis properti terdapat sisi pasokan dan sisi permintaan yang keduanya harus diperhatikan. Makanya BTN tidak hanya membiayai perumahan bagi konsumen (demand), tapi juga pengadaan perumahan oleh pengembang (supply). Jadi guys, ada kredit properti dan konstruksi buat pengembang sebagai wirausaha.

Jumlah wirausaha di Indonesia masih minim.

Jumlah wirausaha di Indonesia masih sedikit. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, hanya 7,8 juta orang dari sekitar 252 juta penduduk Indonesia. Dengan jumlah tersebut, Global Entrepreneurship Index 2018 menempatkan Indonesia di posisi 94 dari 137 negara. Posisi tersebut di bawah Malaysia yang di urutan 58 dan Thailand di urutan 71, serta kalah dibandingkan Singapura yang di urutan 27.

Jadi, ayo para milenial, rame-rame jadi wirausaha properti!

Bagikan: 492 kali