peninggalan peradaban Islam di tanah jawa

Ingat melihat bukti peninggalan peradaban Islam di tanah Jawa, kunjungi saja Masjid Menara Kudus. Masjid ini menjadi bukti otentik yang kuat. 

Salah satu peninggalan kebudayaan Islam yang menjadi penanda awal mula masuknya pengaruh Islam di Pulau Jawa adalah Masjid Menara Kudus. 

Masjid Menara Kudus memang unik lantaran bentuknya malah mirip candi ketimbang masjid pada umumnya. 

Masjid ini menjadi bukti perpaduan arsitektur Islam, Hindu, dan Budha, sekaligus bukti peninggalan peradaban Islam di tanah Jawa.

Bentuk masjid ini memang sepintas mirip candi, tengok saja pintu masuknya dan tembok yang berada di depannya. 

Begitu juga dengan material batu bata yang digunakan, lebih bercirikan bangunan Hindu atau Budha. 

Saat masjid dibangun dan Islam mulai disebarkan, masyarakat memang masih menganut agama Hindu dan Budha. 

Jadi ada perpaduan sejumlah elemen dalam bangunan ini, hal yang sama ditemukan pada masjid yang didirikan pada masa Islam mulai masuk ke Indonesia. 

Makam Sunan Kudus Berada di Kompleks Masjid Menara Kudus

peninggalan peradaban Islam di tanah jawa

Lokasi masjid ini berada di Kudus, Jawa Tengah dan didirikan oleh Sunan Kudus yang juga salah satu Wali Sanga. 

Makam Sunan Kudus yang juga  penyebar agama Islam pada masa tersebut terdapat di dalam kompleks Masjid Menara Kudus ini. 

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia, dibangun pada abad ke-16, saat Islam mulai menyebar di Jawa.

Bangunan asli ini mengalami renovasi beberapa kali sehingga kawasan masjid bisa diperluas sehingga menampung jamaah lebih banyak. 

Ada sejumlah bagian yang diganti sehingga tampilan aslinya memang berubah, meski ada juga yang masih bisa dipertahankan. 

Batu Pertama Masjid dari Baitul Maqdis di Palestina 

peninggalan peradaban Islam di tanah jawa

Masjid Menara Kudus ini juga memiliki beberapa nama lain yaitu Masjid Al Quds atau juga Masjid Kudus. 

Saat mulai dibangun, batu pertama memakai batu dari Baitul Maqdis di Palestina sehingga namanya dikenal sebagai Masjid Al Quds atau Masjid Al Aqsha. 

Ada prasasti berbahasa Arab dari Palestina yang menyatakan berdirinya masjid pada 19 Rajab 956 Hijriyah atau 23 Agustus 1549.

Prasasti ini bertuliskan nama sang pendiri yaitu Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus, nah baru tahu kan nama lain sang sunan. 

Wah, ternyata bukti peninggalan peradaban Islam di tanah Jawa ini memang memiliki keterikatan dengan Palestina. 

Masjid Menara Kudus Jadi Bentuk Akulturasi Budaya

peninggalan peradaban Islam di tanah jawa

Seperti telah dibahas sebelumnya di atas, bentuk masjid ini memang lebih menyerupai bangunan candi. 

Ada perpaduan antara arsitektur Islam, Hindu, dan Budha, perpaduan ini biasa terlihat pada masjid yang berdiri saat Islam masuk ke Indonesia. 

Pendirian Masjid Menara Kudus ini tentunya tidak terlepas dari peranan Sunan Kudus sebagai penggagas dan pendiri, 

Seperti juga Wali Sanga lainnya, Sunan Kudus memakai pendekatan budaya dalam melakukan syiar Islam. 

Ada adaptasi budaya Hindu dan Budha yang dilakukan agar agama Islam bisa diterima oleh masyarakat Jawa. 

Akulturasi semua budaya ini memang bisa dilihat dalam konsep bangunan dan juga arsitektur Masjid Menara Kudus. 

Budaya Hindu bisa terlihat dari bentuk menara masjid, sementara peninggalan Budha terlihat dari tempat wudu. 

Sebenarnya, bukti peninggalan peradaban Islam di tanah Jawa lainnya adalah masyarakat Kudus memilih menyantap kerbau ketimbang sapi. 

Hal ini merupakan peninggalan zaman dahulu, saat itu masyarakat Hindu memang tidak memakan sapi karena dianggap hewan suci. 

Bentuk Asli Menara Masjid Menara Kudus 

peninggalan peradaban Islam di tanah jawa

Salah satu bagian yang khas dari Masjid Menara Kudus ini sudah tentu bentuk menaranya, sangat ikonik. 

Menara masjid tersebut memiliki ketinggian 18 meter dengan bagian bawah berukuran 10x10 meter. 

Ada sejumlah hiasan piring bergambar di sekeliling menara yang berjumlah 32, sebanyak 12 di antaranya berwarna merah dengan motif bunga. 

Sementara sisanya, sebanyak 20 piring berwarna biru bergambar masjid, manusia, unta, dan kurma. 

Bisa dikatakan tidak ada masjid di Jawa yang memiliki bentuk menara seperti ini, punya delapan tiang dan menyangga dua tumpuk atap. 

Sebenarnya, sejumlah masjid di Jawa juga tidak mempunyai menara termasuk Masjid Kauman di Yogyakarta. 

Menara masjid sendiri baru mulai dikenal pada masjid-masjid di Indonesia yang dibangun pada abad ke-19. 

Hmm, menarik juga ya mempelajari peninggalan peradaban Islam di tanah Jawa, kamu belum tentu mempelajarinya di buku sejarah. 

Situs properti Rumah123.com selalu menyajikan artikel-artikel menarik mengenai desain arsitektur masjid di Indonesia dan dunia.

Baca juga: Desain Masjid Kauman dan Masjid Agung Demak | Sarat Filosofi Arsitektur Jawa

Bagikan:
9123 kali