Masa Iddah menjadi salah satu rangkaian yang harus diketahui bagi muslimah yang ditalak maupun ditinggalkan suami. Simak selengkapnya di sini. 

Dalam mahligai perkawinan semua hal bisa terjadi, tak hanya kematian melainkan juga perceraian.

Bagi wanita yang ditinggalkan, masa iddah merupakan salah satu proses dalam merancang lembaran baru kehidupan di dunia nyata.

Bukan hanya terkait dengan pasangan, bagian ini juga menjadi proses kebiasaan baru setelah ditinggal suami maupun dalam keadaan berpisah.

Perceraian dan kematian selalu menjadi misteri, bahkan kamu tak akan mengetahui hal baik dan buruk akan terjadi di depannya.

Seperti apa masa iddah bagi wanita muslimah, apa saja hak dan kewajiban yang harus mereka pahami? 

Simak pembahasannya bersama-sama! 

Masa Iddah secara Harfiah

Secara etimologis, kata Iddah berasal dari kata “adda ya”uddu yang artinya kurang lebih hitungan, perhitungan atau sesuatu yang dihitung.

Mengutip tulisan Dosen Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dari sudut bahasa, Iddah digunakan untuk menunjukkan hari-hari suci pada perempuan.

Artinya, perempuan menghitung hari-hari haid dan masa sucinya.

Namun berdasarkan pengertian umum, masa iddah adalah suatu tenggang waktu tertentu yang harus dihitung oleh perempuan setelah ia berpisah.

Perpisahan bisa disebabkan oleh talak maupun dipisahkan karena sang suami meninggal dunia. 

Dalam masa tersebut, perempuan tidak diperkenankan untuk menikah dengan laki-laki lainnya.

Kemudian, masa iddah terdiri atas dua jenis, yang pertama perempuan ber-iddah karena ditinggal wafat suaminya antara lain: 

1. Empat bulan sepuluh hari, dengan catatan tidak hamil baik pernah berhubungan maupun tidak.

2. Sampai melahirkan, jika kehamilannya dinisbatkan kepada shahib al-iddah.

Selain itu, proses iddah juga disebabkan oleh talak dengan ketentuan : 

1. Sampai melahirkan, bila kehamilan dinisbatkan shahib al-iddah.

2. Tiga kali suci dari haid, jika ia pernah menstruasi.

3. Tiga bulan, bila belum menstruasi atau sudah putus dari periode haid.

Hak Perempuan dalam Masa Iddah 

masa iddah cerai Dream.co.id

Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui mengenai hak perempuan yang ditinggalkan maupun dalam proses talak sebagai berikut. 

1. Perempuan dalam Masa Iddah dari Talak Raj’i 

Ia berhak memperoleh hidup layak, nafkah, pakaian, dan biaya hidup dari mantan suami, terkecuali ia durhaka sebelum diceraikan. 

Hal tersebut juga berdasarkan firman Allah yang berbunyi : 

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya yang wajar dan hitunglah masa iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.”

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.

Dan juga sabda Rasulullah SAW : “Perempuan beriddah yang bisa dirujuk oleh (mantan) suaminya berhak mendapat kediaman dan nafkah darinya.”

Ini karena talak raj’i yang masih bisa dirujuki, maka ia berstatus sebagai istri.

Suami bisa saja rujuk kapanpun selama masa iddah, tanpa melalui akad baru dan tanpa ridha istri.

2. Iddah dari Talak Ba’in 

Baik karena khulu’, talak tiga, atau karena fasakh dan tidak dalam keadaan hamil, maka berhak memperoleh tempat tinggal saja tanpa nafkah, terkecuali ia durhaka terhadap suaminya sendiri.

“Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati mereka.

Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, berikan kepada mereka nafkahnya hingga masa bersalin, kemudian jika menyusukan anak-anakmu, maka berikan kepada mereka upahnya.” (QS Ath Tholaq : 6).

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada nafkah untukmu kecuali jika engkau dalam keadaan hamil.” (HR. Abu Daud no.2290).

3. Masa Iddah dari Talak Ba’In dalam Keadaan Hamil 

Berhak atas tempat tinggal dan nafkah saja, namun tidak berhak atas biaya lainnya dengan dalil sebagai berikut : 

Dari Al Furai’ah binti Malik bin Sinan yang merupakan saudari Abu Sa’id Al Kudri, dia berkata:

 “Dia datang kepada Rasulullah SAW meminta izin kepada beliau untuk kembali kepada keluarganya di Bani Khudrah karena suaminya keluar mencari beberapa budaknya yang melarikan diri hingga setelah mereka berada di Tharaf Al Qadum dia bertemu dengan mereka lalu mereka membunuhnya. 

Dia berkata, “Aku meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk kembali kepada keluargaku karena suamiku tidak meninggalkan rumah dan harta untukku,”

Ia berkata, “Kemudian aku keluar hingga setelah sampai di sebuah ruangan atau di masjid, beliau memanggilku dan memerintahkan agar aku datang.”

Kemudian beliau berkata, “Apa yang tadi engkau katakan?” Kemudian aku kembali menyebutkan kisah yang telah saya sebutkan, mengenai keadaan suamiku.

Kemudian beliau bersabda, “Tinggallah di rumahmu hingga selesai masa ‘iddahmu.”

“Dia berkata, “Aku melewati masa ‘iddah di tempat tersebut selama empat bulan sepuluh hari.” (HR. Abu Daud no. 2300, At Tirmidzi no. 1204).

Kewajiban Muslimah dalam Masa Iddah 

masa iddah larissa chou Kompas.com

Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui mengenai kewajiban muslimah dalam masa iddah secara lengkap berikut ini. 

1. Tidak Bersolek 

Perempuan yang ditinggal wafat suaminya berkewajiban untuk ihdad, yakni tidak bersolek maupun berdandan dengan hal-hal mencolok.

Selain itu, juga tidak diperkenankan menggunakan wewangian baik pada badan maupun pakaian yang niatnya untuk berdandan. 

Adapun, larangan bersolek diterangkan dalam hadis berikut : 

“Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah.” (HR Bukhari no.302 dan Muslim no.2739). 

2. Selalu Berada di Rumah 

Ini berlaku untuk istri yang ditalak maupun ditinggal oleh suami dalam masa iddah dan tak ada hak bagi suami atau yang lain untuk mengeluarkannya.

Selain itu, dia tidak boleh keluar dari rumah terkecuali ada kebutuhan, seperti bekerja maupun berbelanja.

Apabila ada hal yang mendesak di malam hari, perempuan tersebut boleh keluar rumah dan kembali pulang di malam tersebut kecuali ada hal yang membahayakan penghuni rumah. 

3. Tidak Boleh Menikah Dulu 

Setelah masa iddah, perempuan yang telah ditinggalkan tidak diperbolehkan untuk menikah dengan laki-laki maupun lamaran berupa sindiran.

Allah berfirman : “Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya.” (QS Al-Baqarah : 235).

4. Boleh Terima Tawaran tapi Tidak Lamaran 

Selain tidak boleh menikah, perempuan tersebut juga tidak diperkenankan menerima lamaran dari lawan jenis.

Meski demikian, selama masa iddah masih diperbolehkan menerima tawaran dari laki-laki lain.

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. 

Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan perkataan yang ma’ruf.  (QS Al-Baqarah : 235).

Itulah beberapa hal yang perlu kamu ketahui mengenai proses masa iddah serta hak dan kewajiban bagi pasangan yang ditinggalkan.

Temukan informasi menarik seputar gaya hidup terkini, selengkapnya di Rumah123

"Cari tahu keunggulan Arumaya Residence di sini."
Bagikan:
610 kali

Redaksi Rumah123.com

Alamat

Level 37 [email protected]
Jl. Casablanca Kav.88
Jakarta Selatan
Jakarta 12870
Indonesia