investasi properti- rumah123.com Ilustrasi Hotel. Kenaikan Harga Tiket Pesawat Sejak November 2018 Ternyata Berdampak Pada Penurunan Jumlah Wisatawan Nusantara. Tingkat Hunian Properti Sewa Termasuk Kondotel Pun Terkena Dampaknya (Foto: Rumah123/Realestate.com.au)

Harga tiket pesawat masih mahal pada 2019. Hal ini ternyata berdampak kepada investasi properti khususnya pada kondotel di destinasi wisata.

Tiket pesawat domestik masih mahal sepanjang 2019 lalu. Sebenarnya, mahalnya tiket pesawat sudah terjadi sejak November 2018.

Laman berita online Detik.com melansir pernyataan Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno pada akhir Desember 2019. Dia menyatakan bahwa harga tiket pesawat domestik saat ini masih malah.

Baca juga: Tiga Keunggulan Investasi Properti di Gedung Mixed Use Berkonsep 3.0

Masyarakat pun mengeluh, terutama bagi wisatawan. Mahalnya harga tiket rute domestik dipicu oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang tidak lagi memberlakukan tarif bervariasi alias sub kelas tarif. Tidak ada lagi alokasi tarif murah dalam satu penerbangan.

Maskapai-maskapai penerbangan lainnya mengikuti. Alhasil, harga tiket pesawat secara merata memang mahal. Harga tiket promo untuk rute domestik tidak dibuka. Kalau pun, tiket maskapai penerbangan lain lebih murah dari Garuda Indonesia, itu pun hanya beberapa ratus ribu rupiah saja.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio juga menyatakan wisatawan masih mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat.

Tiket Pesawat Mahal Berimbas Pada Penurunan Jumlah Wisatawan

Tingginya harga tiket pesawat rute domestik tentunya berimbas pada jumlah orang yang bepergian untuk berwisata. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan adanya penurunan jumlah penumpang pesawat domestik.

Jumlah penumpang pesawat domestik sepanjang Januari-Oktober 2019 tercatat sebanyak 63 juta penumpang. Ada penurunan jumlah penumpang kalau melihat kurun waktu yang sama pada 2018.

Pada periode Januari-Oktober 2018, ada 78,6 juta penumpang pesawat rute domestik. Ada penurunan 19,9 persen pada Januari-Oktober 2019 dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga: Meneropong Potensi Investasi Properti di Koridor Timur Jakarta

Penurunan jumlah penumpang terjadi di semua bandara domestik. Lima bandara terbesar di Indonesia termasuk di dalamnya seperti Soekarno-Hatta (Banten), Kualanamu (Medan), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Bali), dan Hasanuddin (Makassar).

Persentase penurunan terbesar terjadi di Juanda. Sementara Bali yang menjadi tujuan destinasi wisata domestik dan mancanegara juga mengalami hal serupa. Ada penurunan sebesar 12,7 persen.

Jumlah penumpang di Ngurah Rai pada Januari-Oktober 2019 tercatat 4 juta penumpang. Sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 4,7 juta orang.

Penurunan Jumlah Wisatawan Akhirnya Berdampak Kepada Investasi Properti

Berkurangnya jumlah wisatawan tentunya berdampak kepada penurunan okupansi atau tingkat hunian hotel, kondotel, vila, dan lainnya. Bagi yang berinvestasi kondotel atau kondominium hotel tentu merasakan hal ini.

Kondotel biasanya berlokasi di destinasi wisata seperti Bali, Bandung (Jawa Barat), dan Yogyakarta. Kondotel juga ada di pusat bisnis seperti Surabaya, Balikpapan (Kalimantan Timur), atau Medan (Sumatera Utara).

Jaringan hotel biasanya mengelola kondotel. Pemilik hanya bisa menginap di kondotel miliknya dalam jumlah waktu terbatas.

Baca juga: Melirik Investasi Properti Komersial di Kota Mandiri yang Telah Berkembang

Tingkat okupansi berdampak pada pendapatan pemilik kondotel atau investor. Penurunan jumlah wisatawan akan berimbas pada penurunan jumlah tamu yang menginap.

“Tiket pesawat itu yang terkena dampak ya Bali, destinasi wisata,” ujar Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto saat menjawab pertanyaan situs properti Rumah123.com.

“Kalau Balikpapan, itu bisnis, bukan plesiran. Kalau tamu-tamu hotel ke Surabaya atau Balikpapan (Kalimantan Timur) itu business trip. Ke Bali itu orang berwisata,” lanjut Ferry.

Untuk kondotel yang berada di kota-kota lainnya seperti Surabaya, Yogyakarta, atau Bandung, tentunya wisatawan biasa menyiasatinya dengan mengendarai mobil. Apalagi saat ini, Trans Jawa sudah menghubungkan sejumlah kota besar di Jawa.

Baca juga: Berinvestasi Properti di Kawasan Sub Urban yang Paling Berkembang

Bagikan:
885 kali