Generasi Milenial- Rumah123.com Ilustrasi Generasi Milenial. Generasi Milenial Harus Mempertimbangkan Membeli Rumah Terlebih Dahulu Ketimbabg Mementingkan Traveling (Foto: Rumah123/Getty Images)

Kemajuan zaman tak bisa kita hindari, dan baik kita akui atau tidak, sedikit banyak hal ini juga mengubah pola pikir kita, terutama kamu yang termasuk generasi millenial—generasi modern yang sangat melek teknologi.

Perubahan pola pikir seperti apa? Misalnya saja, banyak yang lebih suka menghabiskan gajinya untuk membeli skincare ketimbang top up investasi. Atau, yang paling banyak terjadi, mending bikin rencana liburan ketimbang membuat rencana membeli rumah sendiri.

Padahal, seharusnya membeli properti atas nama sendiri ini menjadi prioritas dalam hidup kita, alih-alih hanya terus merencanakan traveling atau liburan. Mengapa?

   
  1. Rumah adalah simbol kemandirian finansial

Ya, punya rumah sendiri itu adalah salah satu bagian terpenting dalam perencanaan keuangan, lantaran rumah atas nama sendiri merupakan simbol kemandirian finansial. Apalagi jika kita sudah berkeluarga.

Okelah sekarang masih bisa kontrak. Tapi, sampai kapan sih mau kontrak terus? Akan ada saat ketika penghasilan kamu tidak bisa lagi kamu pergunakan untuk biaya sewa atau kontrak rumah.

Menunda membeli rumah? Oke, tak mengapa. Tapi jangan sampai menunda mengumpulkan down payment-nya.

   
  1. Harga rumah semakin tinggi

Penyebab lain mengapa para millenial takut untuk membeli properti adalah harganya yang selangit.

Ya, ini sih memang kenyataan ya? Tak bisa dimungkiri, setiap tahun harga tanah dan rumah yang memang seakan tak terjangkau, terasa semakin tinggi saja.

Tapi ini bukan berarti lantas dihindari. Justru harus segera direncanakan sedini mungkin, karena lebih cepat memulai maka berarti kamu akan lebih sedikit harus menyisihkan uang gajimu untuk mewujudkannya.

Misalnya, kamu punya target untuk punya rumah sendiri di usia 35 tahun, dan kamu sudah mulai menabung, menyisihkan uang, membandingkan beberapa program KPR, dan menyiapkan dana down payment sejak kamu masuk kerja di usia 23 tahun. Tentunya waktu kamu berarti akan lebih banyak kan, dibandingkan kamu sekarang sudah berusia 30 tahun, dan baru akan menyisihkan uang untuk membeli rumah agar tak harus kontrak lagi di usia 35 tahun?

Harga rumah saat kamu berusia 23 tahun pasti juga akan lebih “masuk akal” ketimbang harga rumah saat kamu berusia 30 tahun.

   
  1. Rumah/properti = investasi

Rumah atau properti bisa menjadi aset aktif, yang berarti dapat menjadi salah satu instrumen investasi yang bisa memberimu pendapatan bulanan. Kira-kira, kalau traveling atau liburan bisa memberikan tambahan pendapatan bulanan enggak ya? Hmmm.

Ya, mungkin sekarang kamu memang merasa belum butuh untuk punya rumah sendiri—karena mungkin kamu masih tinggal bersama orang tua—tapi bukan berarti kamu tak akan butuh rumah sendiri lo, dan kemudian memilih untuk lebih baik liburan saja menghabiskan gaji. Jika kamu masih belum akan menempati rumahmu sendiri itu, kamu bisa menyewakannya. Dengan demikian, rumah itu akan memberimu penghasilan.

Lumayan banget kan, bisa dipakai untuk liburan tuh. Lifestyle terpenuhi, dan saat pulang dari traveling, kamu juga punya rumah untuk dituju.

Jadi, setuju kan, bahwa rumah sendiri itu harus dipunya lebih dulu sebelum kamu merencanakan liburan?

 

Artikel ini merupakan kerja sama situs properti Rumah123.com dengan konsultan keuangan QM Financial.

Bagikan: 2885 kali