15101774_1805680336376795_6271534773450047488_n Muhammad Thamrin & Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita di Gedung Olveh (24/11) (Rumah123/Sarasvati)

Masih ingat berita soal rumah tua bergaya kolonial di Menteng, Jakarta yang tiba-tiba dirobohkan menjadi bangunan baru yang modern? Mungkin masih banyak yang mengingat.

Sebenarnya, banyak bangunan tua dari era jaman Belanda yang tiba-tiba hilang berganti menjadi bangunan baru.

Baca juga: Kenapa Arsitek Ternama Frank Gehry Terima Penghargaan dari Obama?

Menurut Muhammad Thamrin, arsitek yang sedang mengerjakan proyek revitalisasi dan konservasi pabrik Kina di Bandung, Jawa Barat menyatakan kalau pemerintah sebenarnya sudah memiliki kesadaran untuk menjadikan sejumlah bangunan tua bersejarah menjadi cagar budaya.

“Saya kira pemerintah sudah sadar ya tetapi implementasinya  kurang. Mungkin pemerintahan kurang bisa menjaga apa yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Itu permasalahannya,” ujar ujar Muhammad Thamrin kepada Rumah123 saat ditemui di Gedung Olveh, Jakarta Barat pada Kamis (24/11).

Baca juga: Sentuhan Inovasi dan Desain Fungsional Santiago Calatrava di Gedung AXA

Thamrin terpilih menjadi salah satu dari tiga talenta kretif dalam acara Olveh Flagship. Thamrin menjadi talenta kreatif di bidang arsitektur. Pameran ketiga talenta kreatif ini juga diselenggarakan di Gedung Olveh hingga 10 Januari 2017.

“Mungkin seperti di kota bandung, orangnya banyak, mereka bisa memonitor, tapi masih banyak bangunan cagar budaya yang  tiba-tiba hilang begitu ya. Apalagi di kota kecil yang resources-nya kurang. Karena itu penegakan peraturannya yang lemah. Saya kira orangnya nggak banyak,” lanjut Thamrin.

Baca juga: Muhammad Thamrin, Arsitek yang Selektif Memilih Klien

Sementara soal masyarakat, Thamrin berpendapat kalau orang sudah sadar untuk menjaga bangunan tua bersejarah.

“Masyarakat aware, begini masyarakat sadar bahwa bangunan tua itu bisa menjadi bagus, bisa menjadi daya tarik, berkarakter iya, karena bisa menjadi komersil dibandingkan dengan bangunan baru. Masalahnya menyeimbangkan kapasitas. Kalau bangunan tua ya hanya segitu, kalau bangunan baru bisa dibangun sepuluh lantai. Ya, soal perawatannya,” lanjut arsitek yang menyelesaikan studinya di Insitut Teknologi Bandung (ITB) pada 1988 ini.

Baca juga: Dulux Cat Ulang Gedung-gedung Kota Tua

Perihal kesadaran masyarakat dan pemerintah yang sudah sadar dibandingkan dengan di luar negeri sebenarnya menurut Thamrin tidak jauh berbeda. Hanya saja memang ada masalah lain soal menjaga cagar budaya.

“Sulit dibandingkan ya, tetapi awarenes pemerintah dan masyarakatnya sama. Tetapi memang ada tarik menarik antara kepentingan ekonomi dari suatu bangunan dengan reservasi lingkungan dan suasana yang unik, selalu tarik menarik, selalu tarik ulur,” kata arsitek yang pernah magang di Jepang dan bekerja di Malaysia ini.

Baca juga: Penting! Menjaga Kelestarian Bangunan Cagar Budaya

Thamrin tidak memungkiri kalau pasti ada tarik menarik kepentingan antara ingin menjaga kelestarian bangunan dengan kepentingan ekonomi.

Bagikan: 1505 kali