Pembagian harta warisan kerap menjadi sesuatu hal yang sangat sensitif, sekalipun bisa menjadi permasalahan yang membahayakan.

Sebab, harta warisan tidak hanya berkaitan dengan orang yang sudah meninggal saja, melainkan juga keluarga yang di tinggalkan.

Dalam banyak kesempatan, pembagian harta warisan pun bisa menjadi suatu sengketa antar anggota keluarga, sehingga hal ini harus diselesaikan dengan baik.

Salah satu contohnya adalah pembagian harta warisan yang hanya diperoleh untuk satu orang anak saja.

Lantas, apakah hal tersebut diperbolehkan sesuai landasan hukum, baik perdata maupun hukum waris islam? Simak pembahasannya bersama-sama!

Mengenal aturan pembagian harta warisan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 

Sebagai bukti hukum yang sah, pembagian harta warisan merujuk pada beberapa batasan yang harus diketahui bersama.

Batasan, pembagian harta meliputi : 

1. Tidak boleh pengangkatan waris atau hibah wasiat lompat tangan (fidei-commis). 2. Tidak boleh memberikan wasiat kepada suami/istri yang menikah tanpa izin. 3. Tidak boleh memberikan wasiat istri kedua melebihi bagian yang terbesar yang boleh diterima istri kedua. 4. Tidak boleh membuat sesuatu ketetapan hibah wasiat yang jumlahnya melebihi hak pewaris dalam harta persatuan. 5. Tidak boleh menghibah wasiat untuk keuntungan wali, seperti guru, imam, dokter maupun orang yang dengan pewaris yang akhirnya menyebabkan kematian. 6. Tidak boleh memberikan wasiat pada anak luar kawin melebihi bagian anak biologis. 7. Tidak boleh memberikan wasiat kepada teman berzina dari pewaris. 8. Larang menerima harta warisan bagi orang yang sudah melakukan pemufakatan jahat, memalsukan surat waris, dan menghalangi hak anak dan istri biologis.

Baca Juga : Seperti Apa Aturan Pembagian Harta Warisan Berupa Rumah Menurut Islam?

Pembagian harta warisan sesuai dengan hukum waris Islam 

Selain batasan yang berkaitan sesuai hukum perdata di Indonesia, pembagian harta warisan juga harus disesuaikan dengan hukum waris Islam.

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan mengenai harta warisan, dengan beberapa rincian sebagai berikut berdasarkan Kompilasi Hukum Islam :

Pengelompokan ahli waris : 

Berdasarkan hubungan darah

Golongan laki-laki : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. 

Golongan perempuan : ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.

Menurut hubungan perkawinan terdiri dari janda atau duda.

Jika semua ahli waris dalam keadaan lengkap, maka yang berhak mendapat warisan adalah anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Besaran bagian dari ahli waris 

Adapun, besaran pembagian harta warisan sesuai hukum islam adalah :

1. Anak perempuan apabila hanya seorang, maka akan mendapat separuh bagian, jika dua orang atau lebih maka mendapat ⅔. bagian. 2. Apabila anak perempuan sepasang dengan laki-laki, maka bagian anak laki-laki dua berbanding satu dengan anak perempuan.  3. Ayah mendapat sepertiga bagian jika pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah berhak menerima ⅙ bagian. 4. Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah. 5. Duda mendapat separuh bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda memperoleh seperempat bagian. 6. Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila pewaris meninggalkan anak, maka mendapat ⅛ bagian. 7. Bila seorang laki-laki meninggal tanpa anak dan ayah, maka saudara laki dan perempuan berhak atas ⅙ bagian, apabila dua orang atau lebih maka mendapat ⅓ bagian. 8. Seseorang meninggal tanpa anak dan ayah, sedangkan ia mempunyai saudara perempuan kandung atau satu ayah, maka mendapat separuh bagian.

Apakah pembagian harta warisan bisa dilakukan hanya untuk satu anak saja? 

Berdasarkan praktiknya, pembagian harta warisan tidak hanya merujuk pada hukum perdata maupun hukum islam saja, melainkan juga berkaitan dengan surat pribadi.

Tak jarang, pembagian harta warisan tidak sepenuhnya terbagi dengan adil, bahkan ada seseorang yang bisa mendapatkan lebih, baik dalam hubungan sedarah maupun tidak sedarah.

Sebagai contoh, seorang anak angkat bisa mendapatkan warisan yang lebih besar karena banyak mengurus kepentingan dibandingkan anak lainnya.

Lantas, apakah hal tersebut bisa dilakukan dalam proses pembagian harta warisan? Jawabannya tidak!

Sebab, pembagian warisan sudah merujuk berdasarkan hukum yang sudah ditetapkan, sehingga hal ini pun tergolong sulit untuk direalisasikan.

Adapun, ketentuan lain yang menguatkan besaran harta warisan bagi anak angkat, bisa dilakukan dengan memberikan surat hibah. 

Baca Juga : Aturan Pembagian Harta Gono-Gini Aset Properti Pasca Bercerai

Demikian beberapa hal yang perlu kamu ketahui mengenai pembagian harta warisan, khususnya dalam kepemilikan aset properti.

Untuk cari tahu inspirasi menarik seputar keluarga dan properti, selengkapnya di artikel.rumah123.com.

"Sedang mencari apartemen baru? Kamu bisa pilih Headquarters Business Residence di sini selengkapnya."

Bagikan:
2090 kali