penipuan rumah syariah- rumah123.com Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, Jawa Timur Mengungkap Praktik Penipuan Perumahan Bermodus Syariah Fiktif. Kasus Serupa Juga Terjadi di Jakarta Pada November 2019 (Foto: Rumah123/Getty Images)

Kasus penipuan perumahan dengan kedok syariah fiktif kembali terungkap. Korban mencapai puluhan orang dengan kerugian puluhan miliar.

Penipuan perumahan syariah dengan modus syariah fiktif terjadi lagi. Penipuan ini terjadi di Jawa Timur. Puluhan orang menjadi korban.

Laman berita online Kompas.com melansir bahwa Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya menangkap pemilik sekaligus Direktur Utama PT Cahaya Mentari Pratama, Sidik Sarjono.

Baca juga: Mengenal Seluk Beluk Properti Syariah: Ciri Khas, Sistem KPR, Hingga Developer Syariah

Sidik mengoperasikan bisnis properti perumahan syariah dengan nama Multazam Islamic Residence. Perumahan ini berlokasi di Desa Kalanganyar, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Kepala Unit Harta Benda Satuan Reserse Kriminal (Kanit Harda Satreskrim) Polrestabes Surabaya Inspektur Satu Giadi Nugraha menyatakan Sidik ditangkap setelah adanya laporan dari para korban penipuan.

Satreskrim Polrestabes Surabaya langsung melakukan tindak lanjut laporan itu. Setelah itu, polisi melakukan penyidikan kasus.

Pelaku Penipuan Perumahan Berkedok Syariah Fiktif Hanya Menyewa Lahan Milik Orang Lain

Setelah melakukan penangkapan, polisi melakukan penyidikan. Hasil penyidikan mengungkapkan bahwa status lahan yang dipasarkan oleh pelaku sebenarnya merupakan lahan milik orang lain. Pelaku hanya menyewa lahan tersebut.

Sebagian lahan masih berupa rawa, sedangkan sisa lahan telah dipasangi paving block. Giadi menyatakan tersangka cuma menyewa sebidang tanah tersebut.

Usai lahan dipasangi paving block, kemudian tersangka memfotonya. Setelah itu, dia memasarkan kepada masyarakat.

Baca juga: KPR di Bank Konvensional atau Syariah? Yuk, Kenali 4 Dasar Perbedaannya

Polrestabes Surabaya menduga pelaku tidak hanya Sidik, namun ada orang lain yang terlibat. Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Komisaris Besar Polisi Sandi Nugroho meyakini bahwa Sidak tidak melakukan hal ini seorang diri.

Sandi menyatakan pihaknya masih melakukan pendalamam kasus. Polisi juga terus memeriksa para saksi. Ada kemungkinan terungkapnya tersangka lain dalam kasus ini.

Korban Penipuan Perumahan Syariah Fiktif Mencapai 32 Orang

Polisi menyatakan korban penipuan perumahan bermodus syariah fiktif ini berjumlah 32 orang. Para korban bergabung dalam sebuah paguyuban.

Salah satu ketua paguyuban, Tony Aries menyatakan ada ratusan orang yang menjadi korban. Sejumlah korban sudah melakukan Ikatan Jual Beli (IJB) dan menandatangani Akta Jual Beli (AJB).

Korban sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening perusahaan. Tetapi akhirnya terungkap kalau tersangka menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadi.

Baca juga: KPR Syariah Lebih Cocok untuk Kamu yang Punya 5 Kepribadian Ini

Polisi memperkirakan kerugian penipuan perumahan berkedok syaruah ini mencapai Rp1 triliun. Salah satu korban menyatakan dia tertarik untuk membeli rumah lantaran melihat iklan dan konsep properti tanpa riba. Dia sudah melunasi satu kavling berukuran 6x15 meter senilai Rp123 juta pada 2017.

Salah satu brosur dan poster promosi tersangka menampilkan foto ulama ternama Ustad Yusuf Mansur. Dai kondang ini sempat memberikan klarifikasi melalui akun media sosial Instagram @yusufmansurnew. Sang ustadz menyatakan siap untuk memberikan keterangan kepada polisi.

Pemimpin Pondok Pesantren Daarul Quran ini juga menyatakan kalau kasus penipuan ini mencederai gerakan ekonomi syariah yang sedang bagus. Dia meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih properti berbasis syariah.

Penipuan Serupa Terungkap Pada November 2019

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya menangkap empat pelaku penipuan perumahan bermodus rumah syariah. Salah satu pelaku adalah Direktur PT ARM Cipta Mulia. Perusahaan ini memiliki usaha di bidang pembangunan rumah syariah sejak 2015.

Laman berita online Tirto.id melansir pernyataan Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Kapolda Metro Jaya), Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono. Gatot menyatakan korban kasus ini mencapai 270 orang. Sebanyak 41 korban sudah melaporkannya ke polisi. Total kerugian mencapai Rp23 miliar.

Modus pelaku adalah menawarkan pembangunan rumah syariah tanpa bunga bank, tidak ada riba, tidak ada pengecekan dari Bank Indonesia (BI checking), dan penawaran menarik lainnya.

Setelah uang terkumpul, pelaku menggunakan untuk gaji karyawan, membuat miniatur rumah, dan membebaskan lahan di lima lokasi. Kelima lokasi perumahan tersebar di Bogor, Bekasi, Bandung, dan Lampung. Tetapi, perumahan tersebut belum dibangun. Tersangka juga memilih melarikan diri.

Baca juga: Mau Beli Rumah Halal Lewat Developer Properti Syariah? Ketahui Dulu 5 Hal Ini

Bagikan: 787 kali