Ilustrasi Foto: Rumah123/Getty
 

Milenial boleh setuju boleh gak, katanya salah satu ciri khas generasi milenial adalah suka hidup nyaman meskipun penghasilannya masih terbatas. Tentunya milenial punya kebutuhan dan keinginan. Tapi, biasanya mereka mengutamakan keinginan ketimbang kebutuhan, semisal lebih suka traveling, nonton konser, makan di restoran.

Coba kamu pikirkan, bukankah biaya untuk memenuhi keinginan tersebut pastinya naik tiap tahun karena faktor inflasi? Nilai uang Rp1,5 juta untuk membeli sesuatu tahun ini, misalnya, 10 tahun lagi untuk membeli barang yang sama dibutuhkan Rp3,9 juta. Kamu mungkin udah paham soal inflasi ini, tapi kenapa tetap aja belum mengubah perilaku dalam mengeluarkan uang?

Menurut perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie, dalam Detik.com, Selasa (2-10-2018), ada tiga kesalahan milenial dalam mengelola keuangannya. Apa aja? Simak yuk yang berikut ini:

Baca juga: DP 0% Tingkatkan Jumlah Milenial Beli Rumah, Termasuk Kamu? 

Kesalahan pertama. Para milenial gak suka membeli aset (semisal beli rumah). Milenial lebih suka membelanjakan kelebihan uangnya untuk pengeluaran berbasis pengalaman ketimbang yang berbasis aset, semisal liburan, nonton konser musik, dan makan di restoran. Bahkan, pengeluaran untuk makan di restoran porsinya paling besar dari penghasilan dibanding generasi sebelum mereka.

Kesalahan kedua. Gak mengalokasikan cukup uang untuk masa depan (dana pensiun). Buat milenial, masa pensiun belum kebayang. Masih jauh perjalanannya buat mereka. Padahal, kalau usia pensiun adalah 55 tahun, maka milenial masih punya waktu setidaknya 18 tahun bahkan lebih untuk mempersiapkan dana pensiun. Emang masih lama sih, tapi sebenarnya kalau milenial menyiapkan dana pensiun sejak dini, maka nilai investasi dari dana pensiun akan lebih besar ketimbang menunda terus untuk berinvestasi.

Kesalahan ketiga. Milenial melupakan pentingnya proteksi dalam perencanaan keuangannya. Banyak kejadian yang berdampak pada kondisi finansial meskipun kamu masih muda seperti sakit kritis, kecelakaan, bahkan mati muda.

Baca juga: Awas, Milenial Terancam Jadi Penyewa Hingga Umur 40 

Kalau kamu menyepelekan faktor risiko tersebut, bisa aja dana yang udah terkumpul dalam aset investasi akhirnya lenyap saat ada kejadian tak terduga tersebut. Makanya, selain harus mulai berinvestasi, kamu pun sekaligus harus memiliki proteksi (asuransi).

Idealnya sih, investasi terbaik bagi kamu dilakukan secara berkala dengan nominal berapa aja, yang penting mulai dari sekarang. Berapa idealnya alokasi pengeluaran untuk investasi? Idealnya minimal 10% dari penghasilanmu.

Kalau masih lajang, kamu malah bisa mengalokasikan minimal 15% dari penghasilan. Berat? Coba deh pikirin lagi, kalau kamu gak beli kopi favoritmu atau kopi impor setidaknya 4 kali dalam sebulan dan duitnya kamu tabung, paling gak kamu udah punya duit Rp200.000 (sekali ngopi sekitar Rp50.000 kan?) untuk berinvestasi.

Baca juga: Trik Biar Kamu yang Ngaku Milenial Bisa Bayar DP Rumah

Kalau dana yang Rp200.000 itu kamu investasikan ke dalam dana kelolaan berbasis saham selama 20 tahun ke depan, misalnya, maka potensi pengembangan dana ini bisa mencapai Rp200 juta. Takjub kan jumlahnya bisa segitu? Nah, itu baru 4 kali gak ngopi lho. Gimana kalau 10 kali, 20 kali, dan seterusnya. Ya kalikan aja sendiri. Bisa beli rumah tuh dari hasil kamu berinvestasi.

Bagikan: 834 kali