jenderal merah putih vs jenderal hijau

Pasti banyak yang tidak tahu rivalitas jenderal merah putih vs jenderal hijau, persaingan dua kubu militer pada era Presiden Soeharto.

Saat Presiden Soeharto masih berkuasa, ada rumor mengenai rivalitas dua kubu jenderal di sekeliling presiden.

Sejarawan Salim Said pernah mengatakan dalam bukunya 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016).

“Label serta isu ABRI Hijau versus ABRI Merah-Putih adalah sesuatu yang mengada-ada, menyesatkan dan kemudian dengan cepat berlalu.”

Isu ini memang terdengar kencang dalam percakapan politik zaman Orde Baru, plus jadi wacana yang bisa diperdebatkan.

Setelah Presiden Soeharto lengser, para jenderal yang diklaim masuk salah satu kubu ini mulai berani berbicara mengenai hal tersebut.

Ketika Presiden Soeharto mulai berkuasa pada akhir 1960-an, ia dekat dengan sejumlah jenderal merah putih, salah satunya Jenderal L.B. Moerdani.

Kubu jenderal merah putih ini ikut berperan dalam menumpas komunis pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Hubungan Soeharto dengan jenderal merah putih mulai merenggang ketika Benny Moerdani mulai mengkritik bisnis anak-anak presiden.

Kisah jenderal merah putih vs jenderal hijau pun bermula, Soeharto mulai mendekati kelompok Islam dari militer dan sipil.

kisah blusukan presiden soeharto

Jenderal Merah Putih vs Jenderal Hijau Pada Era 1990-an

Laman Tirto.id mengutip pernyataan purnawirawan militer, Mayor Jenderal Kivlan Zen mengenai jenderal merah putih vs jenderal hijau ini.

Jenderal merah putih atau ABRI merah putih adalah tentara yang dianggap nasionalis dan tidak membawa bendera agama.

Sementara jenderal hijau atau ABRI hijau adalah tentara subkultur Islam yang dekat dengan kiai, ulama, dan tokoh Islam.

By the way, sebelum menjadi TNI (tentara nasional Indonesia), nama ABRI (angkatan bersenjata RI) masih digunakan.

Sejumlah nama yang masuk jenderal merah putih adalah Jenderal Moerdani, Mayjen Edy Sudrajat, Mayjen Sintong Pandjaitan, dan Brigjen Theo Syafei.

Sementara jenderal yang masuk jenderal hijau adalah Mayjen R. Hartono dan Mayjen Feisal Tanjung, keduanya dianggap jenderal santri.

Sebelum 1993, para jenderal merah putih ini memiliki karier yang bagus, berbanding terbalik dengan jenderal hijau.

Setelah 1993, hal yang terjadi adalah sebaliknya, lantaran Presiden Soeharto mulai merangkul kelompok Islam.

Nah, itulah kisah perseteruan kubu jenderal merah putih dan jenderal hijau pada era pemerintahan Presiden Soeharto,

Jangan lupa membaca artikel Rumah123.com untuk mendapatkan berita, tips, atau panduan yang menarik mengenai properti, desain, hukum, hingga gaya hidup.

Laman ini juga memudahkan bagi para pencari properti, penjual properti, hingga sekadar mengetahui informasi, karena Rumah123.com memang #AdaBuatKamu.

Saatnya kamu memilih dan mencari properti terbaik untuk tempat tinggal atau investasi properti, hanya di Rumah123.com dan 99.co.

Bagikan:
729 kali