Ilustrasi. Foto: Rumah123/iStok

Buat kamu yang takut ga sanggup bayar cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), juga buat kamu yang sudah beli hunian dan saat ini merasa cicilan KPR-mu memberatkan, ada solusinya kok buat problem keuanganmu ini. Tahu ga kamu? Besar cicilan KPR-mu itu bisa diturunkan, nama kerennya restrukturisasi.

Menurut Perencana Keuangan, Safir Senduk, resktrukturasi KPR dilakukan saat kita merasa sudah tidak sanggup lagi membayar cicilan semula yang awalnya sudah kita sepakati dengan bank. "Kita tetap bisa bayar, tetapi pendapatan kita misalnya turun. Kita coba bernegoisasi dengan bank," kata Safir seperti dikutip Kontan.co.id, Senin (2/9/2017).

Baca juga: Cicilan KPR Memberatkan? Waktunya Cari Solusi!

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Pandji Harsanto, juga berpendapat yang sama dengan Safir, ketika penghasilan kita tidak mencukupi alias rasio keuangan tidak lagi sehat, maka inilah waktunya kita untuk merestrukturisasi utang.

Pandji menyebut semisal kita berhenti bekerja dan belum mendapat pekerjaan baru, maka biasanya kita menggunakan dana darurat. "Tapi, kalau kita ga punya dana darurat, mau tidak mau kita over-kredit rumahnya," katanya lagi.

Kalau kita ga punya dana darurat, menurut Pandji, jangan sampai kita terjebak utang lagi. "Utang itu cuma untuk hal yang produktif atau yang sangat kita perlukan saja," katanya berpesan.

Baca juga: Merasa Cicilan KPR Terlalu Tinggi? Refinance Saja!

Bagi kamu yang akan mengajukan KPR, agar tak terjebak pada kasus gagal bayar cicilan, maka Pandji memberi patokan jangan sampai mencicil lebih dari 30% pendapatan.

"Bunga KPR itu bisa sewaktu-waktu naik. Makanya sebagai panduan, cicilannya tidak lebih dari 30%, agar punya selisih. Misalnya, 25% dari penghasilan," kata Pandji.

Saran lain yang diberikannya yakni saat kita akan mengajukan KPR, sebaiknya persentasi 30% pendapatan itu dari sang pencari nafkah utama, bukan dari gabungan penghasilan suami-istri. Hal ini karena dikhawatirkan kalau pencari nafkah utama tiba-tiba berhenti bekerja bisa memberatkan keuangan keluarga.

Jadi, kalau penghasilan suami Rp10 juta dan istri Rp5 juta. Maka 30% penghasilan yang digunakan untuk mencicil yakni Rp3 juta dari penghasilan si suami saja.

 
Bagikan: 5641 kali