Tertarik untuk mencari pendapat tambahan dengan menjadi ojol? Simak dulu penghasilan Gojek terbaru di tahun 2020 berikut ini!

penghasilan gojek

Kehadiran Gojek sebagai penyedia layanan transportasi di Indonesia sangat dirasakan bukan hanya oleh pengguna tapi para mitra. 

Jika dulu pekerjaan sebagai ojol (ojek online) hanya dipandang sebelah mata.

Kini pesonanya semakin menarik karena keuntungan yang bisa didapatkan bahkan dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian utama. 

Tapi apakah kamu pernah bertanya, berapa sebenarnya penghasilan para driver Gojek yang membuat banyak orang kepincut untuk ikut ‘narik’ sebagai ojol? 

Sistem Gaji dan Penghasilan Gojek 

Seperti yang kita ketahui bahwa sistem transportasi online yang berbasis aplikasi menggunakan kisaran bayaran tetap yang dapat langsung diketahui saat memesan. 

Dari sinilah sumber pemasukan primer yang bisa didapatkan oleh setiap driver yang masih didukung dengan berbagai layanan tambahan lain. 

Penghasilan yang didapatkan oleh para mitra merupakan fee yang dibayarkan oleh pengguna.

Sehingga tidak ada upah yang diberikan langsung oleh pihak perusahaan. 

Dengan demikian, skema pendapatan terbilang relatif kepada masing-masing driver yang menyesuaikan dengan jumlah order dan beberapa faktor-faktor lainnya. 

Faktor-Faktor Penentu Penghasilan Gojek 

Meskipun berada di bawah naungan perusahaan yang sama baik itu Grab atau Gojek, rentang pemasukan setiap mitra bisa bervariasi tergantung dari faktor seperti berikut: 

1. Lokasi driver Gojek

Pembagian lokasi atau sistem zonasi tarif menjadi penentu jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh setiap pengguna untuk menggunakan jasa angkutan dalam jarak tertentu. 

Setiap daerah memiliki perbedaan tarif yang tentu saja disesuaikan dengan standar hidup di tempat tersebut, mirip dengan besaran UMR

Driver yang beroperasi di Jakarta tentu akan lebih mahal ongkosnya dibanding jika kamu menggunakan layanan serupa di Manado atau Yogyakarta. 

2. Waktu beroperasi 

Tak hanya berbeda secara daerah saja, waktu operasional juga akan menentukan penghasilan Gojek. 

Selain tarif normal yang dipatok misalnya Rp2.000/kilometer, pada jam-jam sibuk seperti waktu pergi dan pulang kantor, harganya bisa mengalami peningkatan menjadi Rp2.500/kilometer. 

Bukan hanya pada jam sibuk saja, dalam kondisi atau waktu tertentu juga bisa terjadi kenaikan tarif.

Semisal larut malam, ketika hujan turun, atau di lokasi yang mengalami lonjakan permintaan. 

Hal tersebut menyesuaikan dengan prinsip dasar ekonomi, demand and supply, yang berarti harga menyesuaikan dengan keseimbangan permintaan dan suplai. 

Kalau permintaannya lebih tinggi daripada suplai atau dalam contoh ini berarti armada ojol, maka sudah bisa dipastikan harganya juga langsung menanjak. 

3. Skema tarif Gojek per km

Faktor penentu penghasilan Gojek berikutnya ada pada tarif standar serta perhitungan bonus poin. 

Merujuk pada peraturan dari Kementerian Perhubungan yang resmi diberlakukan sejak bulan Maret 2020, skema harga Gojek yang ditetapkan untuk wilayah Jabodetabek pada Tarif Batas Bawah (TBB) naik dari Rp2.000/kilometer menjadi Rp2.250/kilometer. 

Lalu untuk Tarif Batas Atas (TBA) yang baru mengalami kenaikan dari Rp2.500/kilometer ke Rp2.650 (khusus zona 2 Jabodetabek). 

Penyesuaian tarif ini juga berimbas pada perubahan harga layanan lainnya termasuk ongkos kirim makanan layanan dan paket jarak pendek. 

Penghasilan Gojek dari tarif tidak semuanya diterima oleh mitra, tapi dibagi dengan perusahaan dengan persentase 80:20. 

Jadi driver bisa mengantongi dari tarif Rp2.000 sekitar Rp1.600/kilometer dan sisa Rp400 akan diambil oleh pihak perusahaan. 

4. Perhitungan bonus poin 

Tidak hanya berpaku pada tarif layanan saja, penghasilan Gojek juga dipengaruhi perhitungan bonus poin yang berlaku sesuai dengan lokasi operasional mitra. 

Setiap menyelesaikan satu layanan, driver bisa mendapatkan poin yang kemudian dapat diakumulasikan untuk dikonversi ke uang tunai. 

Ini dia rincian bonus poin di waktu biasa driver Gojek per data Desember 2019:

12 poin = Rp10.000 

16 poin = Rp30.000 

20 poin = Rp40.000 

24 poin = Rp50.000 

30 poin = Rp70.000

Cara mendapatkannya pun bisa dari berbagai layanan yang ada di aplikasi Gojek seperti: 

- Layanan GoRide: 1 poin.

- Layanan GoFood: 2 poin.

- Layanan GoSend: 1 poin.

- Layanan GoShop: 1 poin.

- Layanan Go-Mart: 2 poin.

- Layanan GoMedia: 2 poin. 

Untuk dapat mengklaim poin harian guna meningkatkan penghasilan Gojek, driver harus minimal 55% performa yang dihitung dari penilaian berupa bintang dari pelanggan. 

Sebagai catatan, driver yang memiliki performa buruk di bawah 4.5 bisa terancam diputus hubungan kemitraannya oleh Gojek. 

Baca juga: Cara Memulai Bisnis Ternak Ayam dengan Mudah. Siap Jadi Juragan?

Contoh Kasus Perhitungan Pendapatan Gojek 

Pak Sugih merupakan seorang mitra pengemudi yang tinggal di Jakarta dan beroperasi di hari Kamis pukul 07.00-16.00 WIB

Ia mampu menyelesaikan total 20 orderan Go-Ride dengan rata-rata jarak tempuh 4 km, maka Pak Sugih mampu mengumpulkan penghasilan Gojek sebesar:

- Upah dari tarif per kilometer masing-masing orderan 5 x Rp1.600 = Rp 8.000

- Total penghasilan dari 20 order yang diselesaikan = 20 x Rp16.000 = Rp 160.000

- Jumlah poin dari 30 orderan Go-Ride = 30 poin.

- Jumlah bonus yang bisa dikumpulkan = Rp 70.000.

- Total penghasilan harian driver A = Rp160.000 + Rp 70.000= Rp 230.000. 

- Jika dalam 1 bulan rata-rata Pak Sugih bekerja dengan pola yang sama dengan dalam seminggu 1 hari libur, maka ia bisa mengumpulkan total Rp480.000 x 26 hari = Rp5.850.000

Dengan penghasilan tersebut berarti besaran gaji Pak Sugih telah melebihi standar UMR Jakarta 2020 yaitu Rp4.276.349. 

Namun perlu dicatat bahwa besaran upah yang diterima masih belum dikurangi dengan biaya perawatan motor dan pengisian bahan bakar. 

Semoga informasi mengenai penghasilan Gojek di atas bisa bermanfaat untukmu. 

Pantau terus artikel.rumah123.com untuk berbagai berita terbaru dan berfaedah lainnya.

Bagikan:
31193 kali