Foto: Rumah123/Getty
   

Gak ada yang menyangkal bahwa punya rumah itu penting! Tapi, kadang untuk mewujudkannya gak semudah kita membeli barang yang lainnya. Dibutuhkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah untuk membeli sebuah hunian. Apa solusinya? Menabung! Ya benar sekali. Tapi, rajin menabung saja gak cukup lho! Pasalnya, laju tabungan kita gak sebanding dengan lajunya kenaikan harga-harga, ada faktor inflasi dan laju kenaikan gaji yang gak sejalan.

Selain menabung, diperlukan upaya yang lain, yakni investasi. Dengan berinvestasi, apa pun tujuan keuangan kamu, sebut aja punya rumah, bisa dicapai. Begitulah yang disampaikan konsultan keuangan dari Schroders Indonesia, Adrian Maulana, di acara yang digelar Rumah123, Kamis (18-05-2018), di Gedung 88, Kota Kasablanka, Jakarta.

Menurut Adrian, dengan menyisihkan 10 persen aja dari gaji setiap bulan, kamu sudah bisa berinvestasi di reksa dana. Sebenarnya Adrian menyarankan 20 persen dari gaji itu untuk pos dana darurat, investasi, dan asuransi. Dengan berinvestasi, kamu akan bisa mencapai dana yang dibutuhkan untuk punya rumah atau sekadar dana untuk uang muka (DP)-nya aja.

Baca juga: Dari Muda Investasi, Udah Tua Kaya Sekali

Masalahnya, untuk meyisihkan 10 persen penghasilan itu gak mudah. Alasannya, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada cara yang bisa memudahkannya, yakni dengan debet otomatis sejumlah dana yang ingin kamu investasikan. Cara ini efektif bagi kamu yang bekerja sebagai karyawan atau pegawai. Kalau buat kamu yang berprofesi sebagai wirausaha, segera sisihkan 10-15 persen setiap penghasilan yang kamu dapat. Emang butuh komitmen yang tinggi sih untuk bisa melaksanakan hal ini. Pasalnya, gak ‘dipaksa’ sistem komputer untuk mendebetnya.

Saran Adrian untuk berinvestasi reksa dana juga disarankan oleh perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie, di Harian Kompas, Sabtu (21-4-2018). Menurut Prita yang sangat menyukai produk keuangan reksa dana ini, berbagai reksa dana dapat dicocokkan dengan tujuan keuangan kita. Produk reksa dana dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp100.000. Pembelian bisa dilakukan melalui jalur konvensional, yaitu bank ataupun perusahaan manajemen investasi (semisal Schroders Indonesia, tempat Adrian Maulana bekerja), ataupun secara digital.

Baca juga: Gaji Kecil Kok Investasi? Salah Kaprah Keleuuusss!

Penyesuain jenis reksa dana, mulai dari pasar uang hingga saham, harus dilakukan dengan faktor profil risiko dan jangka waktu lamanya investasi, sehingga tujuan keuangan kamu bisa tercapai. Dalam hal ini dibutuhkan konsultan atau perencana keuangan semacam Adrian atau Prita.

Selain investasi reksa dana, Prita menyarankan 4 alternatif jenis investasi yang lain, yakni:

Logam Mulia (LM)

Investasi LM lebih terstandardisasi untuk kebutuhan investasi ketimbang emas perhiasan atau berlian. Sepanjang 2017, harga LM mengalami kenaikan 7,36 persen. Tapi, Prita gak menyarankan LM untuk investasi jangka pendek karena memiliki risiko fluktuasi harga. LM bisa dialokasikan untuk dana darurat setelah kamu punya tabungan. Selain itu, LM juga juga cocok sebagai aset untuk bertahan melawan inflasi.

Baca juga: Sisihkan THR untuk Beli Rumah, Jangan Gak Ya!

Saham

Investasi saham sangat cocok untuk tujuan keuangan jangka panjang (di atas 10 tahun). Pasalnya, bisa memberikan imbal balik yang lebih besar. Potensi keuntungan berinvestasi langsung pada saham bisa melebihi rata-rata tingkat inflasi. Mau contoh? Saham perusahaan Unilever bisa memberikan kenaikan total return 941 persen selama 10 tahun terakhir ini. Di periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami kenaikan total 131 persen.

Meskipun imbal balik dari investasi saham itu lebih besar, tapi risikonya juga tinggi. Untuk itu, menurut Prita, kamu harus memahami terlebih dulu dan menyesuaikannya dengan profil risiko dan tujuan keuangan kamu. Salah memilih saham, kerugiannya bisa gak sedikit. Bahkan bisa bikin kamu jadi kapok berinvestasi. Saran dari Prita, kalau kamu ingin memilih investasi saham, maka pahami usaha yang dijalankan oleh emiten. Misalnya, kalau kamu suka belanja di supermarket, bisa kamu pilih saham perusahaan yang menjual produk rumah tangga.

Baca juga: Menjadi Tua, Pasti! Punya Rumah Sendiri Itu Kemauan!

Merintis Start-up

Memulai usaha rintisan atau start-up juga merupakan investasi. Modal awal yang kamu alokasikan, itu merupakan investasi. Bagusnya kamu punya usaha rintisan, kamu jadi bisa mengisi waktu senggang dengan kegiatan produktif. Tapi, pahami juga bahwa investasi pada bidang usaha itu berisiko paling gede dibandingkan dengan jenis investasi yang lainnya.

Peminjaman Uang Antarpihak atau Peer to Peer Landing

Kalau bikin usaha rintisan sendiri kamu rasakan ribet, alternatif lain yakni berinvestasi melalui platform peer to peer alias P2P. Kamu menempatkan sejumlah dana dengan harapan menerima imbal balik lebih besar daripada produk perbankan. Potensi pengembalian bisa aja bervariasi, tergantung dari usaha atau kegiatan apa yang kamu beri pendanaan. Begitu juga dengan durasi investasinya. Risiko investasi pada platform ini tentu aja lebih besar ketimbang risiko investasi di deposito misalnya.

Dengan memahami jenis-jenis investasi tersebut di atas, maka kamu bisa menentukan pilihan investasi yang tepat agar terkumpul dana buat beli rumah. Jangan lupa, bahwa berapa pun gaji kamu, sedikit atau banyak, semua orang pada dasarnya bisa berinvestasi, asalkan mau (ada niat kuat).

Bagikan: 3954 kali