investasi properti- rumah123.com Kamu Harus Memiliki Tabungan dan Juga Investasi. Investasi Terbagi Antara Investasi Saham, Obligasi, Reksadana, Emas, Hingga Properti (Foto: Rumah123/Getty Images)

Investasi atau menabung ya? Saat kamu dihadapkan pada pilihan ini sebenarnya kamu malah harus memiliki semuanya lho. Kamu mesti memahami alasannya.

Saat memiliki uang atau investasi yang cukup, tentunya kamu bisa melakukan banyak hal. Kamu juga tidak menyusahkan anak dan cucu saat memasuki masa pensiun.

Pertanyaan selalu berkisar soal investasi atau menabung. Sebenarnya, kedua bukan merupakan pilihan. Namun, kamu harus memiliki keduanya.

Kamu Harus Memiliki Tabungan

Idealnya, kamu harus memiliki tabungan sebanyak tiga kali pengeluaran kalau masih lajang. Kalau sudah menikah, sebaiknya kamu mempunyai tabungan minimal enam kali pengeluaran. Rumah123.com sempat berbincang dengan beberapa financial planner atau perencana keuangan yang mengatakan hal ini.

Ingat ya, bukan gaji tetapi pengeluaran rutin bulanan. Misalnya, kamu mempunyai gaji Rp5 juta. Namun, pengeluaran kamu hanya 40 persen dari gaji yaitu Rp2 juta per bulan. Ada baiknya kamu memiliki setidaknya Rp10 juta per bulan di rekening bank.

Kalau kamu mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau memilih untuk berbisnis, setidaknya kamu bisa hidup dari uang tabungan selama enam bulan. Nah, seperti ini ilustrasinya.

Kamu Wajib Mempunyai Investasi

Saat mendengar kata investasi, kamu membayangkan orang super kaya. Nah, ini salah. Orang menjadi kaya karena berinvestasi. Bukan menjadi orang kaya terlebih dulu, kemudian baru berinvestasi.

Investasi itu beragam. Ada investasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Investasi jangka pendek itu adalah deposito. Deposito memberikan bunga lebih baik dari tabungan.

Saat kamu telah memiliki tabungan sebanyak enam kali pengeluaran, kamu bisa melirik investasi jangka pendek yaitu deposito.

Baca juga: 5.200 Kilometer Jalan Tol Akan Dibangun Hingga 2024, Mau Investasi Properti Di Mana?

Setelah kamu merasa tabungan sudah cukup dan telah memiliki investasi jangka pendek, saatnya untuk melirik investasi jangka menengah. Contoh dari investasi ini adalah emas dan reksadana.

Kalau bicara soal emas, maka investasi ini memang terbilang aman. Sebenarnya, emas bisa masuk investasi jangka panjang. Kamu membeli 10 gram emas pada 2019 ini, kamu bisa menyimpan dan kemudian membandingkan harganya pada 2029 atau 2034. Berapa harga emas setelah 10-15 tahun?

Reksadana juga bisa menjadi pilihan. Sebelum memiliki reksadana, sebaiknya kamu bertemu manajer investasi untuk belajar memahami seluk beluk reksadana.

Investasi Jangka Panjang dengan Memiliki Properti

Investasi jangka panjang yang harus kamu miliki adalah properti, saham, hingga obligasi. Seperti halnya, reksadana, kamu harus mempelajari saham dan obligasi terlebih dahulu.

Lantas bagaimana dengan properti? Sebenarnya, kamu tidak perlu membayangkan memiliki 10 rumah, apartemen, ruko, tanah, dan lainnya sebagai investasi properti.

Saat kamu memiliki rumah tinggal, sesungguhnya kamu telah berinvestasi properti. Bayangkan kalau kamu memiliki rumah dengan menyicilnya sejak usia 25 tahun. Sebagai ilustrasi rumah ini berharga Rp500 juta. Kamu menyicilnya selama 20 tahun.

Baca juga: Ragam Bentuk Investasi, Salah Satunya Investasi Properti

Setelah 20 tahun, ketika kamu baru berusia 45 tahun, kamu telah memiliki aset properti. Nilai rumahnya sudah menurun tajam lantaran rumah sudah lama. Tetapi, harga tanah sudah melambung tinggi.

Pastinya setelah 20 tahun, rumah tidak lagi berharga Rp500 juta. Rumah kamu bisa berharga jauh lebih mahal lho. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja kepada orang tua, mertua, om dan tante kamu. Bandingkan harga rumah saat mereka membeli 30-40 tahun lalu dengan harga sekarang.

Kembali lagi ke pertanyaan awal. Investasi atau menabung? Kamu harus memiliki semuanya lho, tabungan dan juga investasi.

Baca juga: Tips Investasi: Keuntungan dan Kekurangan Saat Menyewakan Properti

Bagikan: 2535 kali