Monorail fast train on railway, Moscow, Russia Ilustrasi. Rumah123/istockphoto

Transportasi massal di kawasan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) sebenarnya bisa mengatasi mobilitas masyarakat di kawasan ini.

Sayangnya, transportasi umum di Jabodetabek saat ini masih dianggap belum efisien karena tidak adanya integrasi fisik antar jaringan moda transportasi.

"Pergantian angkutan umum saat ini masih dua hingga tiga kali per trip dan integrasi fisik jaringan juga belum terbentuk sehingga banyak kecamatan dan kelurahan yang belum terkoneksi," ujar Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit seperti dikutip oleh Kompas.

Integrasi fisik menjadi kunci dari efisiensi transportasi umum di kawasan Jabodetabek. Salah satu yang paling dimungkinkan adalah integrasi fisik antara kereta Commuter Line dan bus Trans Jakarta.

"Perencanaan yang sulit seringkali membuat lokasi halte dan stasiun kurang sinkron. Maka dari itu, perlu ada keinginan kuat dari pemerintah daerah (pemda) untuk merealisasikannya," lanjut Danang.

Baca juga: MTI Dukung Swasta Bangun Moda Transportasi Massal

Pemerintah sudah mulai memperbaiki jaringan transportasi massal dengan mendekatkan titik transfer, integrasi tiket melalui e-ticketing dan e-payment system, serta integrasi jadwal.

Tetapi, upaya integrasi fisik jaringan yang lebih penting justru diabaikan padahal semestinya didahulukan.

"Seharusnya integrasi fisik dikerjakan terlebih dahulu karena akan meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum secara bersama dan mampu menjangkau masyarakat lebih luas lagi," kata Danang lagi.

Bagikan: 1539 kali