Anggapan bahwa perantau memiliki karakteristik pekerja keras ternyata dibuktikan oleh data. Ini buktinya! perantau - rumah123.com

Para perantau memang lekat dengan karakteristik pekerja keras, tak kenal lelah, dan tak mudah putus asa. 

Apakah kamu sering juga mendengarnya?

Citra perantau di mata masyarakat sebagai pekerja keras biasanya disebabkan karena mereka jauh dari zona nyaman.

Ternyata, citra mengenai perantau tersebut bukan sekadar omongan yang umum beredar di masyarakat semata.

Data pun sudah berbicara demikian!

Realitas ini tergambar dalam data yang diolah oleh Lokadata.id atas Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Definisi perantau atau “migran semur hidup” sendiri dideskripsikan sebagai penduduk yang provinsi tempat lahirnya berbeda dengan provinsi tempat tinggal sekarang (pada saat pencacahan).

Perantau lebih gigih karena mereka ingin meningkatkan kesejahteraan

“Jam kerja migran umumnya lebih panjang karena mereka lebih termotivasi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. 

Pada umumnya migran lebih gigih dan pekerja keras,” terang Ngadi, Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI dalam perbincangan, Rabu (3/6/2020).

Jam kerja pekerja migran tetap yang lebih panjang bisa jadi lantaran mereka melakoni lebih dari satu pekerjaan.

“Mereka datang ke Jakarta untuk menyambung hidup, jadi melakukan lebih banyak pekerjaan,” kata I Dewa Gede Karma Wisana, Wakil Direktur Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Sayangnya, durasi jam kerja perantau di Ibukota lebih panjang dan kerap melebihi batas

perantau - Lrumah123.com Sumber: Lokadata.id

Dalam UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, durasi bekerja dalam seminggu adalah 40 jam

Lebih dari itu dihitung lembur atau pekerja mendapatkan insentif.

Data memperlihatkan jam kerja migran tetap terpanjang pada pekerja bebas di pertanian yang mencapai 70 jam per minggu. 

Sektor pertanian termasuk tanaman pangan, hortikultura, peternakan, hingga perikanan. 

Bahkan dengan pengecualian sekalipun, jam kerja ini tak sesuai aturan.

Ngadi berpendapat, pertanian sudah tidak dikenal oleh orang asli DKI Jakarta. 

“Atau pekerjaan ini memang tidak menarik karena upah rendah, sehingga seluruh pekerja bebas pertanian ini adalah migran,” tuturnya kepada Lokadata.id.

Perantau tetap di Jakarta kebanyakan merupakan pekerja formal

Masyarakat asli Jakarta sudah terbiasa dengan kehadiran 2,3 juta migran tetap.

Warung makan, toko kelontong, hingga Asisten Rumah Tangga (ART) dalam kendali para migran senantiasa menyuguhkan berbagai kemudahan bagi warga DKI Jakarta.

Mencermati status pekerjaannya, migran tetap di Ibu Kota kebanyakan merupakan pekerja formal. 

Artinya, mereka berusaha dibantu buruh tetap atau buruh dibayar.

Bisa juga mereka bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai.

Kebanyakan perantau di DKI Jakarta berasal dari Jawa

perantau - Lrumah123.com Sumber: Lokadata.id

Secara jumlah, migran tetap di DKI Jakarta kebanyakan berasal dari Jawa. Persisnya Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Meski identik dengan Warung Tegal, hanya sekitar 20 persen migran tetap asal Kabupaten Tegal yang bekerja di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.

Sebanyak 21 persen migran tetap kelahiran Tegal melakoni bidang pekerjaan jasa lainnya, sisanya antara lain menekuni lapangan usaha perdagangan (18 persen), industri pengolahan (14 persen), serta transportasi dan pergudangan.

Tiga sektor terbesar yang jadi lahan uang bagi para migran seumur hidup di DKI adalah perdagangan, industri pengolahan, dan jasa lainnya. 

Baru disusul penyediaan akomodasi dan makan minum serta transportasi dan pergudangan.

Terdapat pola serupa saat menyorot lebih jauh, tiga sektor terbesar. 

Ketiganya didominasi migran tetap dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Bagikan:
869 kali