Han Awal, arsitek Han Awal wafat meninggalkan jejak etika profesi dan karya-karya arsitektur terpuji. Foto: Kompas.com

Berpulangnya arsitek Han Awal pada Sabtu (14/5) merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Bersama Sandi Siregar dan Achmad Noe'man, beliau merupakan arsitek besar, tegar, sekaligus teguh menjalankan prinsip-prinsip etika profesi.

Ketiga pria tersebut akan terus dikenang sebagai penjaga etika dan pencipta karya-karya arsitektur luar biasa. Kepulangan mereka membuat teman-temannya sesama arsitek kehilangan sosok tempat bertanya, terutama masalah etika profesi.

Sebagai seorang legenda, Han Awal seperti dikutip dari Kompas.com adalah arsitek serbabisa yang cemerlang 'membumikan' budaya dan juga perubahan kota, manusia, dan lingkungan sekitarnya menjadi karya yang tak lekang ditelan masa.

Lahir dengan nama Han Hoo Tjawan di Malang, Jawa Timur, 16 September 1930, Han Awal menyelesaikan pendidikan arsiteknya di Technische Hoogeschool di Delft, Belanda, dan Technische Universitata, Berlin Barat, Jerman, dan lulus pada 1960.

Direktur sekaligus Pendiri RUJAK Center for Urban Studies, Marco Kusumawijaya, menulis dalam blognya bahwa seorang Han Awal adalah modernis terakhir yang pergi dengan bercahaya.

Han Awal berpendidikan modern berlatar klasik. Hal ini membuatnya mampu dengan cepat memberi nilai pada kebaikan-kebaikan yang berbeda dalam banyak lingkungan dan masa, di luar gaya dan keterampilannya sendiri.

Baca juga: Zaha Hadid, Arsitek Paling Berpengaruh di Dunia

Keseluruhan praktik profesional Han Awal menunjukkan dirinya seorang modernis yang sangat menghargai dan mencintai warisan masa lampau.

Salah satu prestasi Han Awal adalah melestarikan Gereja Katedral Jakarta di Lapangan Banteng dan Gedung Museum Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada. Dia juga berkontribusi melestarikan Gedung Bank Indonesia Jakarta Kota, dan Gereja Immanuel.

Untuk kontribusinya di bidang budaya, Han Awal menerima penghargaan Profesor AA Teeuw, seorang guru besar kajian budaya Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Penghargaan itu diberikan dua tahun sekali sejak 1992 kepada warga Indonesia yang dinilai berjasa meningkatkan hubungan kebudayan kedua negara.

Prestasinya di bidang arsitektur juga membuahkan penghargaan International Award of Excellence Unesco Asia Pasific Heritage untuk bangunan gedung Museum Arsip Nasional.

Karya Han lainnya ialah kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan Gedung Sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru.

Han juga terlibat dalam pembangunan Gedung Conefo 1964-1972, yang kemudian dikenal sebagai Gedung DPR-MPR.

Arsitektur karya Han Awal Salah satu arsitektur karya Han Awal yang mengagumkan. Foto: theculturetip.com
Kantor Han awal & Partners Kantor Han Awal & Partners. Foto: itchcreature.com
Bagikan:
4044 kali