LRT Palembang

(Light Rail Transit) LRT Palembang dihadirkan untuk menunjang mobilitas warga di daerah tersebut. Setelah 3 tahun beroperasi, bagaimana kabarnya kini?

Bagi kamu yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, tentu tidak asing dengan infrastruktur LRT ya.

Moda yang dikenal pula dengan sebutan Lintas Rel Terpadu (LRT) Sumatera Selatan ini telah menjadi ikon kota berjuluk Venesia dari Timur tersebut.

Resmi beroperasi sejak Agustus 2018, LRT Palembang dibangun guna menunjang mobilitas masyarakat dan atlet pada perhelatan akbar ASEAN Games 2018 lalu.

Jalur LRT ini dibangun sepanjang 23 kilometer, menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Masjid Agung Palembang dan Jakabaring Sport City.

Setidaknya terdapat 13 stasiun serta 9 sub stasiun dari bandar udara ke hulu Palembang, yang dilewati oleh LRT ini.

Moda transportasi kereta ringan yang menghabiskan dana pembangunan Rp10,9 triliun itu, melintasi sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Lalu, bagaimana kondisi LRT Sumatera Selatan tersebut saat ini, setelah tiga tahun beroperasi?

LRT Palembang Sepi Okupansi Penumpang

LRT Palembang

Sebenarnya, ketika awal operasionalnya LRT Sumatera Selatan ini diminati oleh masyarakat, mungkin karena baru.

Banyak warga Palembang dan wisatawan memanfaatkan kereta ringan tersebut untuk transportasi penunjang aktivitasnya.

Akan tetapi, selama pandemi Covid-19 okupansi penumpang moda transportasi kereta ringan itu turun drastis.

Kepala Balai Pengelola KA Ringan Sumsel Amanna Gappa mengungkapkan, pandemi membawa dampak dalam operasional LRT Sumsel.

"Mulai ada peningkatan walaupun belum stabil, itu tak lepas dari adanya kelonggaran aktivitas dari pemerintah," kata dia.

Untuk menarik minat masyarakat kembali, Amanna berujar akan menjadikan stasiun sebagai pusat rekreasi masyarakat. Hal ini seperti dikutip dari laman Bisnis.com.

"Kamu mendesain khusus Stasiun LRT Ampera, sebagai pusat rekreasi masyarakat dengan menyediakan fasilitas gerai kuliner," kata dia.

Sebagai informasi, lokasi Stasiun LRT Ampera terletak di antara Jembatan Ampera, pusat perbelanjaan pasar 16 Ilir.

Lokasinya juga berdekatan dengan  Benteng Kuto Besak, dan Masjid Agung, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai destinasi wisata.

LRT Palembang Bikin Properti Melesat

LRT Palembang

Pesatnya pembangunan Kota Palembang, terutama pada infrastruktur turut membawa dampak positif terhadap sektor properti.

Melansir laman milik Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), minat pengembang untuk berinvestasi di daerah itu terus meningkat.

Sejumlah pengembang besar nasional sudah masuk ke Palembang seperti Ciputra Group, Lippo Group, dan termasuk Terrakon Property.

Direktur Terrakon Property, Nata Susanto, mengungkapkan pasar properti di Kota Palembang terus membaik.

Hal ini ditandai dengan harga propertinya yang terus merangkak naik. Saat ini, rata-rata harga tanah di Kota Palembang berkisar Rp1,6 juta per m2.

Bahkan, angka tersebut diperkirakan akan terus naik setelah beroperasinya Light Rail Transit (LRT).

"Kami melihat bahwa Palembang memiliki potensi yang bagus, terutama di hulu," ujar Nata.

Perusahaan properti itu diketahui menanamkan investasi sekitar Rp80 miliar, untuk proyek residensial berkonsep resort.

Sementara itu, Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi menilai hal yang sama mengenai ini.

"Setelah CitraGrand City, kami akan menawarkan proyek CitraLand Palembang 120 hektare untuk menangkap pasar yang berbeda," ujarnya.

Nah, demikianlah kabar LRT Palembang kini yang ternyata masih membawa andil terhadap prospek terhadap pasar properti di daerah itu.

Rumah123.com juga pernah membahas proyek infrastruktur lainnya seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang sedang dibangun.

Situs properti Rumah123.com selalu menghadirkan artikel dan tips menarik mengenai properti, desain, hukum, hingga gaya hidup.

Saatnya kamu memilih dan mencari properti terbaik untuk tempat tinggal atau investasi properti seperti Yukata Suites.

Bagikan:
377 kali