Shanghai Menjadi Salah Satu Megacity di Dunia. Di Masa Depan, Penduduk Dunia Akan Terkonsentrasi di Kota Besar (Foto: Rumah123/Geographical.co.uk)

Dunia semakin berkembang. Orang-orang berbondong-bondong datang ke kota besar sehingga membentuk mega city.

Pada 2015, ada 358 kota besar di dunia, 153 di antaranya di Asia. Di masa mendatang, bakal ada 27 megacity, 18 di antaranya berada di Asia.

Baca juga: Semua Bus Listrik, Baru Namanya Ramah Lingkungan!

Sebagai ilustrasi lain, pada 1950 hanya 30% penduduk yang tinggal di perkotaan. Pada 2003, persentasenya naik menjadi 48%. Bahkan, pada 2030 mendatang, 60% penduduk dunia bakal tinggal di perkotaan.

Di Indonesia, hal serupa juga terjadi. Populasi kaum urban sudah mencapai 52,3% dengan laju pertumbuhan 1,49% per tahun. Di Indonesia, megacity tidak hanya menjadi milik Jakarta. Surabaya juga akan menjadi megacity pada 2020 nanti.

Baca juga:  Mau Beli Rumah Mungil yang Ramah Lingkungan?

Pembangunan pesat yang terjadi di megacity, di satu sisi memang memberikan keuntungan yang sangat luas, tetapi di sisi lain juga membawa tantangan sosial. Selain juga, membawa tantangan lingkungan yang berdampak pada kualitas hidup penduduknya.

Data dari Bank Dunia atau World Bank menyatakan kalau ruang terbuka publik sangat penting dan mempunyai dampak besar bagi kualitas hidup penduduk kota dan pengembangan diri mereka. Ruang publik harus dirancang dengan baik.

Baca juga:  Rumah Sempit Ramah Lingkungan dari Bahan Daur Ulang

“Ruang terbuka publik adalah hak dari setiap orang, namun sering kali dilupakan. Ruang terbuka publik yang dirancang dengan strategis dan indah akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan berdampak pada kota yang lebih bahagia dan sehat,” ujar Daliana Suryawinata dalam Construction Talk 2018: Better Living in Megacity pada Rabu (5/8/2018).

“Semakin besar kota, semakin besar pula permintaan untuk mengintegrasikan ruang terbuka publik dengan kehidupan perkotaan,” lanjut Daliana yang juga co-founder biro arsitek SHAU yang memiliki kantor di Indonesia, Belanda, dan Jerman.

Baca juga:  Semua Stadion Piala Dunia 2018 Masuk Kategori Ramah Lingkungan, Ini Baru Keren!

Dalaina menyoroti sustainable design atau desain bangunan berkelanjutan yang mendukung pertumbuhan kebutuhan sosial. Pembicara lainya, Sigit Kusumawijaya menekankan pada arsitektur bangunan hijau yang bisa menyelaraskan alam dan teknologi.

“Konsep bangunan hijau terus berkembang seiring berkembangnya tantangan setiap harinya. Desain hijau yang baik sebenarnya lebih dari sekedar nilai estetika, namun lebih kepada fungsinya sebagai sarana untuk mengatasi permasalahan lingkungan,” ujar Sigit yang juga direktur biro arsitektur dan urban design SIG.

Bagikan: 730 kali