Indonesia Memiliki 75.000 Desa. Jika Dioptimalkan Melalui Digital, Ekonomi Masyarakat di Desa Tertinggal Bisa Digerakkan (Foto: Rumah123/Pak Tani Digital)

Indonesia memiliki hampir 75.000 desa. Bagaimana jadinya kalau setiap desa memiliki produk unggulan, pastinya perekonomian negara akan terus bertumbuh.

Ekonomi digital bisa memberdayakan daerah terpencil. Produk unggulan suatu daerah bisa dipasarkan dan dijual memanfaatkan internet.

Baca juga: Seberapa Penting Sih Digital Marketing Sekarang Ini?

Kebetulan, Indonesia juga pengguna internet aktif. Sebagian besar menggunakan smartphone. Hal ini tentu peluang besar untuk mengembangkan ekonomi digital.

“Saya punya harapan kalau satu kabupaten itu punya sepuluh produk online. Itu udah banyak,” ujar Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Samsul Widodo kepada Rumah123.

Baca juga:  Agen Properti Zaman Now Wajib Gunakan Digital Marketing

“Indonesia memiliki hampir 75.000 desa. Kalau diberdayakan, ada 75.000 produk. Kalau satu hari ada transaksi Rp100 ribu saja, ada Rp7,5 triliun,” lanjutnya.

Dia mengutarakan hal ini di sela-sela acara Lokal Good. Widodo menjadi salah satu pembicara. idEA, Indonesia E-commerce Association menyelenggarakan Lokal Good dengan tema “Berjayanya Produk Lokal di Era Digital” di The Hall Kasablanka, Jakarta Selatan pada 12-14 September 2018.

Baca juga:  Ekonomi Digital Bisa Berdayakan Masyarakat Desa Tertinggal

Melalui ekonomi digital, sebuah produk pertanian dari daerah terpencil bisa dipasarkan hingga ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan lainnya. Biasanya, konsumen di kota-kota besar memang mampu membelinya.

Bayangkan kalau alpukat Soe yang diklaim terbaik di Indonesia hanya berharga murah di daerah asalnya, Soe, Nusa Tenggara Barat. Namun, jika sudah dikemas dengan baik dan dipasarkan di kota besar, harganya sudah berpuluh kali lipat.

Baca juga:  Aplikasi Digital Bikin Hidup Petani dan Nelayan Jadi Lebih Gampang

Alpukat ini hanya berbuah sekali dalam setahun. Sulitnya akses transportasi dan juga pemasaran yang kurang baik membuat alpukat ini hanya menjadi makanan ternak.

Adanya teknologi digital bisa memudahkan dalam memasarkan dan menjual produk pertanian. Tidak hanya bagi konsumen tetapi juga untuk perusahaan.

Baca juga:  Kemendes PDTT Siap Kolaborasi dengan idEA Bangun Ekonomi Digital

Teknologi memudahkan untuk mengetahui kapan panen mangga, pisang, dan bawang di suatu tempat. Konsumen yang membutuhkan hanya perlu masuk ke dalam aplikasi.

Nah, kalau sudah begini apa yang dibayangkan mengenai peran ekonomi digital dalam membangun kawasan tertinggal bakal terwujud. Bayangkan kalau ada perputaran uang Rp7,5 trilin per hari karena setiap desa terjadi transaksi penjualan.

Bagikan: 623 kali