Ketika menjual rumah hasil warisan, prosedurnya hampir mirip dengan menjual rumah biasa. Perbedaannya ada pada pajak yang dibebankan kepada penjual.

Seorang ibu memberikan warisan kepada anaknya berupa tanah dan rumah - rumah123.com Seorang ibu memberikan warisan kepada anaknya berupa tanah dan rumah (Rumah123.com/Getty Images)

Lantaran orang yang hadir menandatangani akta jual beli adalah ahli waris (bukan orang yang namanya tercantum pada sertifikat), maka si penjual rumah akan diwajibkan untuk membayar pajak waris. Selain itu, ada dokumen-dokumen wajib yang harus kamu perhatikan ketika menjual rumah warisan. Apa saja dokumen tersebut? Yuk, simak bersama-sama di artikel ini!

Dokumen yang wajib ada dalam penjualan rumah warisan

1. Surat Kematian yang ditindaklanjuti dengan akta kematian

2. Surat Keterangan Waris (atau penetapan pengadilan agama tentang siapa saja ahli warisnya), karena surat tersebut sebagai sumber utama dan pertama untuk menentukan mengenai siapa-siapa saja yang berhak mewaris. 

Untuk warisan berupa tanah, para ahli waris bisa menjual tanah tersebut tanpa harus dilakukan balik nama sertifikat terlebih dahulu. Namun di Kantor Pertanahan, prosesnya didahului dengan balik nama waris terlebih dahulu. Maka sebelum itu, kamu harus membayarkan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) warisnya. 

Dilansir dari Hukumonline.com, dokumen-dokumen jual beli selanjutnya yang dibutuhkan adalah:

Data tanah, meliputi:

1. Pajak Bumi dan Bangunan 5 tahun terakhir dan bukti bayarnya (asli)

2. Sertifikat tanah (asli)  

3. Izin Mendirikan Bangunan (asli)

4. Bukti pembayaran rekening listrik, telepon, air (bila ada); 

Data Penjual dan Pembeli (masing-masing) meliputi:

1. Perorangan:

- Copy KTP suami istri;

- Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah;

- Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada, untuk WNI keturunan).

 2. Perusahaan:

- Copy KTP Direksi dan Komisaris yang mewakili;

- Copy Anggaran Dasar lengkap berikut pengesahannya dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia;

- Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas atau Surat Pernyataan untuk menjual sebagian kecil aset.

3. Suami/istri atau kedua-duanya yang namanya tercantum dalam sertifikat sudah meninggal dunia, maka yang melakukan jual beli tersebut adalah Ahli Warisnya.

Jadi, data-data yang diperlukan adalah:

- Surat Keterangan Waris

-         Untuk pribumi: Surat Keterangan Waris yang disaksikan dan dibenarkan oleh Lurah yang dikuatkan oleh Camat;

-         Untuk WNI keturunan: Surat Keterangan Waris dari Notaris.

  • Copy KTP seluruh ahli waris;
  • Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
  • Bukti pembayaran BPHTB Waris (Pajak Ahli Waris), dimana besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi dengan Nilai tidak kena pajaknya.

Adapun jenis dan perhitungan pajak yang ditanggung oleh penjual dalam proses jual beli tanah warisan adalah sebagai berikut:

Ke-1: BPHTB Waris

{5% (NJOP – NJOPTKP)} x 50%

NJOP : Nilai Jual Objek Pajak

NJOPTKP : Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak

Ke-2: Pajak Penghasilan (PPH)

Sebagai pihak yang menjual atau memperoleh penghasilan dalam suatu perbuatan hukum maka ahli waris diwajibkan membayar PPH, sama seperti penjualan rumah pada umumnya.

Besarnya PPH yang harus dibayarkan:

5% x Harga Transaksi/NJOP (dipilih yang lebih besar)

Ke-3: BPHTB Pembeli

Besarnya BPHTB pembeli dihitung seperti proses jual beli biasa, yaitu:

{5% (NJOP – NJOPTKP)}

BPHTB Waris dan PPH akan dibebankan kepada ahli waris. Sedangkan BPHTB pembeli ditanggung oleh pembeli. Sementara itu, biaya akta jual beli bisa dipikul secara bersama-sama oleh penjual dan pembeli atau sesuai kesepakatan. 

Seluruh ahli waris harus hadir untuk tanda-tangan AJB. Atau jika tak bisa hadir,  perlu dilampirkan Surat Persetujuan dan kuasa dari seluruh ahli waris kepada salah seorang di antara mereka yang dilegalisir oleh Notaris. 

Bagikan: 3957 kali