DN Aidit dikenal sebagai salah satu Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tak luput dari pembantaian pengikut PKI pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S). 

Kala itu Aidit ditemukan di Solo setelah sempat menghilang pada malam hari peristiwa G30S.

Pada saat penangkapan, Aidit diketahui bersembunyi di dalam sebuah lemari. 

Pada saat itu, ia ditemukan oleh Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri, dan para anak buahnya.

Melansir Liputan6.com, kala itu, Aidit berkali-laki meminta pada Kolonel Yasir untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. 

Namun, ia tidak mau menuruti begitu saja permintaan Aidit.

“Jika diserahkan kepada Bung Karno pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain,” ungkap Yasir dilansir dari buku Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia karya Abdul Gafur. 

Eksekusi Mati DN Aidit

DN Aidit Sanggau

Yasir pun memutuskan untuk pergi dengan membawa Aidit meninggalkan Solo. 

Ia kemudian memasuki Boyolali dan membelokkan mobilnya menuju ke Markas Batalyon 444.

Di sana, ia menanyakan pada Mayor Trisno, komandan batalyon, apakah ada sumur di tempat itu. 

Sang komandan pun menunjuk sebuah sumur tua di belakang markas. 

Yasir kemudian membawa Aidit ke sana.

Di depan sumur itu, Yasir mempersilahkan tahanannya untuk mengucapkan pesan terakhir. 

Namun, waktu itu justru Aidit mengumandangkan pidato dengan berapi-api.

Mendengar pidato itu, Kolonel Yasir dan para anak buahnya naik pitam. 

Dia langsung menembak Aidit dengan peluru hingga dadanya berlubang hingga jenazahnya jatuh ke dalam sumur. 

Jenazah Aidit Hilang Tanpa Jejak

Setelah bertahun-tahun berlalu, tak ada tanda keberadaan sumur di pekarangan gedung tua bekas markas Batalyon 444 di Boyolali. 

Tanahnya sudah ditumbuhi berbagai tanaman seperti labu siam, ubi jalar, pohon mangga, serta jambu biji.

Namun, banyak orang meyakini bahwa di sana dulu ada sumur tua yang menjadi tempat pembuangan jenazah Aidit. 

Salah satu orang yang meyakininya ialah Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali, Tamam Saemuri (71).

Pada tahun 1965, seorang aktivis Gerakan Pemuda Ansor bernama Tamam Muda sempat bertemu dengan Kolonel Yasir. 

Dalam sebuah rapat organisasi di pendopo kantor kabupaten, Tamam menyampaikan jika Yasir telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya.

Selain itu, Yasir juga menunjukkan arloji Aidit yang ia bawa dan menceritakan pada saat membunuhnya. 

Ia menuturkan bahwa Aidit diberondong senapan AK sampai habis satu magasin.

Lokasi Makam Ditemukan Puluhan Tahun Kemudian

makam aidit Kumparan

Kisah kematian pemimbin besar PKI itupun akhirnya diketahui oleh sang putra, yakni Ilham Aidit. 

Dia terus mencari tahu keberadaan makam ayahnya yang memang sulit ditemukan itu.

Pencarian Ilham akhirnya berakhir ketika sebuah lembaga swadaya masyarakat di Boyolali menghubunginya. 

LSM itu mengisahkan tentang kisah kematian hingga lokasi makam ayahnya tersebut. 

Mereka mengaku mendapatkan informasi itu dari sumber-sumber kredibel yang terlibat langsung dalam pembunuhan anggota PKI saat itu.

Pada tahun 2003, Ilham akhirnya berkesempatan untuk datang ke pusara ayahnya. 

Tempat itu kini telah menjadi gedung tua yang digunakan sebagai mes pegawai Komando Distrik Militer (Kodim) Boyolali. 

“Naluri saya mengatakan memang di sinilah tempatnya,” katanya dikutip dari Liputan6.com.

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Verdi Residence hanya di www.rumah123.com.

Bagikan:
181 kali