demonstrasi hong kong- rumah123.com Demonstrasi di Hong Kong Pada Selasa, 1 Oktober 2019 Mengubah Kota Ini Seperti Kota Hantu. Sebanyak 25 Pusat Perbelanjaan Tutup dan Separuh dari Layanan Kereta Bawah Tanah Tidak Beroperasi (Foto: Rumah123/Getty Images)

Demonstrasi yang terjadi di Hong Kong ternyata bisa mengubah kawasan ini menjadi kota hantu. Pusat perbelanjaan dan jaringan stasiun tidak berfungsi sebagian.

Hong Kong berubah seperti kota hantu pada 1 Oktober 2019 lalu. Pada hari itu, China dan Hong Kong merayakan National Day.

Mereka merayakan perubahan status China menjadi Republik Rakyat China pada September 1949. Sejak itu, China dan juga Hong Kong merayakan Hari Nasional atau National Day pada 1 Oktober.

Baca juga: Demonstrasi Masih Berlanjut, Developer Hong Kong Jual Properti Lebih Murah

Kebetulan, Hong Kong juga masih dilanda demonstrasi besar-besaran sejak 31 Maret 2019. Demonstrasi dalam skala besar sebenarnya dimulai dari 9 Juni 2019.

Demonstrasi berawal dari masalah peraturan perundangan. Pemerintah Hong Kong berencana membuat Undang-undang (UU) yang memperbolehkan ekstradisi warganya ke negara lain. Hal ini dipicu oleh pembunuhan sesama warga Hong Kong di Taiwan.

Belakangan, demonstrasi berkembang lebih luas. Para demonstran marah dengan perlakuan aparat keamanan. Bentrokan terjadi antara polisi dan demonstran.

Baca juga: Harga Properti Semakin Mahal, Warga Hong Kong Pilih Beli Hunian Berhantu

Selain itu, masalah ketegangan antara China dan Hong Kong kembali terjadi. Sekedar informasi, Hong Kong adalah kawasan yang sebelumnya dikuasai Inggris. Pada 1997, Inggris mengembalikan Hong Kong ke China.

Demonstrasi di Hong Kong memang berskala besar. Media China, South China Morning Post melansir kalau demonstrasi diikuti oleh 1,7 juta orang. Bayangkan kalau penduduk kota ini hanya sekitar 7,8 juta orang.

Hong Kong Jadi Kota Hantu: 25 Mall Tutup, 41 Stasiun Kereta Tidak Beroperasi

Pada Selasa, 1 Oktober 2019, Hong Kong menjadi kota hantu. Tempat tujuan wisata, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukinan terlihat sepi.

Toko-toko dan restoran juga tutup. Masyarakat Hong Kong mendukung aksi demontrasi anti pemerintah pada National Day.

South China Morning Post menyitir bahwa lebih dari 25 pusat perbelanjaan menutup gerai lantaran takut kerusuhan. Sementara 41 dari 91 stasiun kereta bawah tanah menunda layanan. Akibatnya, 45 persen layanan kereta lumpuh.

Salah seorang penumpang sempat berujar ke South China Morning Post sesaat sebelum satu stasiun kereta ditutup pada jam 11.00 waktu setempat, “Seperti kota hantu.”

Jumlah Turis di Hong Kong Turun Drastis

Executive Director Dewan Industri Pariwisata Hong Kong, Alice Chan Cheung Lok Yee menyatakan hanya ada 250 wisatawan atau 10 kelompok turis yang datang ke Hong Kong pada 1 Oktober 2019. Jumlah ini menurun tajam sebesar 90 persen dari waktu yang sama pada 2018 lalu.

Pada Rabu, 2 Oktober 2019, hanya ada 11 kelompok turis yang datang ke Hong Kong. Bayangkan kalau pada waktu yang sama pada 2018, ada 110 grup wisatawan.

Harga properti di Hong Kong pun mengalami perlambatan akibat aksi demonstrasi berkepanjangan ini. Bahkan, ada kekhawatiran harga properti akan turun.

Sebenarnya, aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu juga sempat membuat okupansi atau tingkat hunian hotel di ibu kota turun drastis.

Baca juga: Kehabisan Lahan, Hong Kong Bangun Pulau Buatan Seluas 1.000 Hektare Senilai Rp1.114 Triliun

Bagikan: 2425 kali