properti hong kong- rumah123.com Imbas Dari Demonstrasi Besar-Besaran dan Perang Dagang China dengan Amerika Serikat, Harga Properti di Hong Kong Mengalami Perlambatan (Foto: Rumah123/Getty Images)

Properti Hong Kong dijual di bawah harga pasaran. Hal ini terkait demonstrasi yang terus berlanjut dan juga efek dari Perang Dagang China-Amerika Serikat.

Salah satu perusahaan pengembang terbesar di Hong Kong, Sun Hung Kai Properties mengakui adanya tekanan pada harga di pasar properti. Harga properti nyaris stagnan, bahkan dipasarkan 25 persen lebih murah dari harga pasaran.

Sun Hung Kai Properties tengah memasarkan 235 unit apartemen di proyek Cullinan West III, Nam Cheong. Harganya rata-rata hanya USD 2.770 (Rp39 juta) atau 21.722 Dollar Hong Kong (Rp39 juta) per kaki persegi.

Baca juga: Harga Properti Semakin Mahal, Warga Hong Kong Pilih Beli Hunian Berhantu

Properti di luar Indonesia biasanya dipasarkan dalam ukuran kaki persegi. Tiga kaki kurang lebih sama dengan satu meter.

Harga ini 25 persen lebih murah dari harga hunian serupa yang sedang dipasarkan. Harga ini sama dengan harga dua tahun, saat developer membangun fase kedua.

Harga hunian yang rendah ini ditawarkan lantaran ada kekhawatiran dari para perusahaan pengembang besar terkait sentimen pasar. Hong Kong dilanda protes besar.

Baca juga: Kehabisan Lahan, Hong Kong Bangun Pulau Buatan Seluas 1.000 Hektare Senilai Rp1.114 Triliun

Demonstran memprotes kebijakan pemerintah terkait ekstradisi. Bayangkan, kalau aksi demo ini sudah berlangsung sejak 31 Maret 2019!

Selain itu, ada masalah lainnya. China dan Amerika Serikat sedang terlibat perang dagang sejak Januari 2018. China adalah negara eksportir terbesar di dunia, sedangkan Amerika Serikat adalah importir terbesar di dunia.

Pembeli Potensial Properti Hong Kong Memilih Menunggu

“Harga properti ini seperti langkah mudur. Pasar hunian lokal melambat dalam beberapa bulan terakhir. Kami hanya menyesuaikan harga Cullinan West III,” ujar Deputy Managing Director Sun Hung Kai Properties, Victor Lui seperti dikutip oleh media China South China Morning Post.

“Semua ini terimbas dari keresahan sosial dan perang dagang China-Amerika Serikat belakangan ini, terungkap kalau sentimen menunggu yang dilakukan para pembeli potensial sedang meningkat belakangan ini,” lanjut Lui.

Harga properti yang ditawarkan oleh Sun Hung Kai Properties terbilang atau cenderung tidak naik jika dibandingkan dengan penawaran pertama proyek yang sama.

Baca juga: Sewa Hunian di Singapura Lebih Mahal dari Hong Kong dan Tokyo?

Saat merilis fase kedua, perusahaan pengembang menawarkan harga 21.152 Dollar Hong Kong (Rp38 juta) per kaki persegi pada November 2017. Harga ini sempat turun 9,1 persen pada peluncuran terakhir pada Agustus 2018.

South China Morning Post juga melansir bahwa hanya tiga jam setelah Sun Hung Kai Properties mengumumkan harga baru, perusahaan pengembang besar lainnya CK Asset menawarkan rencana pembayaran yang lebih fleksibel dan pengaturan pinjaman untuk sisa unit apartemen Seanorama di Ma On Shan.

Masalah Politik Pengaruhi Pasar Properti

Urusan politik memengaruhi pasar dan industri properti sebenarnya tidak hanya terjadi di Hong Kong. Properti di Inggris juga mengalami hal serupa pasca Inggris ingin keluar dari Uni Eropa (EU) alias Brexit.

Sementara di Indonesia, sejumlah perusahaan pengembang mengungkapkan kepada Rumah123.com bahwa investor memilih menanti hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Setelah hasil pilpres diketahui, investor mulai bergerak lagi untuk berinvestasi.

Kebetulan, Bank Indonesia juga sudah menurunkan suku bunga acuan dua kali hingga mencapai 0,50 persen. Jadi siapa bilang industri dan pasar properti tidak terimbas politik dan ekonomi?

Baca juga: Harga Sewa Hunian Jakarta Lebih Mahal dari Hong Kong?

Bagikan: 1313 kali