sumber air minum

Masyarakat Indonesia ternyata memiliki sumber air minum yang berbeda. Tetapi, ternyata masih banyak yang mendapatkan dari sumber mata air. 

Kalau kamu ditanya dari mana sumber air minum setiap hari, maka jawabannya pasti macam-macam.

Bagi yang tinggal di perkotaan seperti Jakarta dan sekitarnya memiliki banyak pilihan sumber air minum. 

Pilihan bisa berupa air tanah, air PDAM (perusahaan daerah air minum), air isi ulang, hingga air kemasan. 

Bagi yang menggunakan air isi ulang atau air kemasan pastinya pernah melihat pariwara di televisi. 

Salah satu pariwara air kemasan menyatakan sumber air minum, “Dari sumber mata air pegunungan.” 

Laman berita online Lokadata.id melansir statistik bahwa lima dari sepuluh rumah tangga di Indonesia minum dari sumber mata air. 

Sementara lima sisanya mendapatkan kebutuhan sumber air minum dari sumur, PDAM, air hujan, dan sumber lainnya. 

Dari lima di atas, empat di antaranya mendapatkan air minum dari air kemasan bikinan pabrik yang telah diperkaya mineral.

Jangan kaget ya, kalau jumlah rumah tangga di Indonesia yang mengambil air minum langsung dari sumber mata air cukup banyak. 

Jumlahnya mencapai 7,7 juta keluarga yang biasanya tinggal di kawasan yang belum berkembang. 

Atau juga prasarana belum terkelola, bisa juga karena daerah dikelilingi banyak sumber air minum. 

Cara ini lebih mudah dan murah dengan mengambil langsung dari mata air dibandingkan dengan menggali sumur. 

Atau berlangganan PDAM dan juga membeli air kemasan pabrik yang harganya mahal, apalagi yang bermerek ternama. 

Di sejumlah daerah, meskipun ada sumber air minum dari mata air langsung, namun tidak bisa diakses dengan mudah dan murah. 

Karena bisa jadi, sumber mata air berjarak beberapa kilometer, bahkan bisa terhalang oleh gunung. 

Sebenarnya, minum air dari sumber mata air bisa membuat orang lebih sehat karena kualitas air masih bagus. 

Selain itu, konsumsi dari sumber mata air juga bisa mengurangi jumlah pengambilan air tanah di kota-kota besar. 

Baca juga: Waduh, Masyarakat Indonesia Masih Konsumsi Air Kurang Layak

sumber air minum

Masyarakat Indonesia di Pedesaan Masih Memanfaatkan Mata Air Sebagai Sumber Air Minum

Lokadata.id mengambil data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 mengenai pemanfaatan sumber mata air untuk minum. 

Hasilnya di sejumlah kawasan terdapat kabupaten dengan penduduk yang menggunakan sumber mata air. 

Sebanyak 99,8% dari 14 ribu rumah tangga di Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua memenuhi kebutuhan minum dari mata air. 

Jadi hanya dua persen dari seluruh populasi di area ini yang mempunyai akses ke sumur atau produk air kemasan. 

Persentase ini menjadi yang tertinggi di kawasan Papua, area memang dibagi dalam sejumlah zona. 

Untuk kawasan Sumatera, peringkat pertama ditempati oleh Kabupaten Kepulauan Anambas yang berada di Kepulauan Riau. 

Kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Natuna ini memiliki 74% dari 12 ribu rumah tangga yang minum langsung dari mata air. 

Wilayah Nusa Tenggara, posisi pertama diduduki oleh Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. 

Sebanyak 73,5% dari 60 ribu rumah tangga juga mengambil air minum langsung dari sumber mata air. 

Area Sulawesi, persentase terbesarnya ditempati oleh Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah. 

Kabupaten yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Banggai Kepulauan tersebut mempunyai 69,1% dari 19 ribu rumah tangga. 

Mereka masih mengandalkan air bersih dari sumber mata air dan belum memiliki akses air bersih lainnya. 

Masalah yang Sama Terkait Sumber Air Minum di Jawa 

Cerita yang sama juga terjadi di Jawa yang sebenarnya sudah memiliki fasilitas air bersih yang baik. 

Di Jawa, wilayah nomor satu dengan penduduk masih menggunakan sumber mata air berada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. 

Persentasenya mencapai 57,5% dari 227 rumah tangga di kawasan yang berada di Pegunungan Dieng ini. 

Lantas bagaimana dengan kawasan lainnya seperti Maluku, Kalimantan, dan juga Bali. Kisahnya masih serupa. 

Di kawasan Maluku, peringkat pertama masyarakat yang menggunakan sumber mata air ditempati oleh Kabupaten Buru Selatan, Maluku. 

Kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Buru ini memiliki persentase 46,6% dari 12 ribu rumah tangga yang memakai sumber mata air langsung. 

Sementara di area Kalimantan, posisi pertama adalah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. 

Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Ketapang ini mempunyai persentase 40,3% dari 26 ribu rumah tangga. 

Terakhir, kawasan Bali dengan Kabupaten Bangli, Bali yang memiliki persentase 39,9% dari 59 ribu rumah tangga. 

Kabupaten Bali menjadi satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki daerah yang berada di tepi laut. 

Artikel ini merupakan kerjasama antara situs properti Rumah123.com dengan laman berita online Lokadata.id.

Bagikan:
1450 kali