cuaca ekstrem Ilustrasi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Menyatakan Indonesia Sedang Mengalami Fenomena Cuaca Ekstrem (Foto: Rumah123/REA Adobe Experience Manager)

Kamu merasa hujan deras sering terjadi belakangan ini? BMKG menyatakan Indonesia sedang mengalami fenomena cuaca ekstrem.

Saat memasuki musim penghujan pada awal 2020 ini, mungkin kamu merasakan kalau hujan deras sering terjadi. Curah hujan cukup tinggi.

Orang awam pasti merasakannya. Sejumlah media sempat mewartakan bahwa Indonesia mengalami fenomena cuaca ekstrem.

Laman berita online CNNIndonesia.com melansir pernyataan Kepala BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Dwikorita Karnawati.

Baca juga: 10 Penyakit Akibat Banjir yang Wajib Diketahui

BMKG menyatakan fenomena cuaca esktrem berupa curah hujan tinggi yang terjadi belakangan ini di tanah air telah diprediksi sejak 1900. Prediksinya sejak satu abad lalu.

Menurut prediksi, ada pola cuaca ekstrem yang terjadi. Hal ini berlangsung dalam siklus yang semakin pendek dan juga intensitas yang semakin tinggi.

“Hal yang perlu dipahami, yaitu seluruh fenomena ini bukan kejadian yang kebetulan saja,” ujar Dwikorita.

“Fenomena ini adalah fenomena yang terkait dengan data yang kami pantau selama sejak tahun 1900 bahkan 1860-an,” lanjutnya.

Baca juga: Bandung Dilanda Banjir, Ribuan Orang Terdampak Bencana

“Grafik kondisi perkembangan cuaca ekstrem sejak tahun 1900 sampai 2020,” kata mantan Rektor Universitas Gadjah Mada ini.

BMKG Mencatat Cuaca Ekstrem Terjadi Pertama Kali Pada 1918

Dwikorita memaparkan data dan analisa yang dilaksanakan oleh BMKG. Cuaca ekstrem yang tercatat pertama kali pada 1918.

Lantas cuaca ekstrem berikutnya terjadi pada 1950. Ada rentang waktu 32 tahun usai cuaca ekstrem yang pertama.

Cuaca ekstrem berikutnya terjadi pada 1979. Ada jeda waktu 29 tahun dari fenomena cuaca ekstrem sebelumnya.

Fenomena serupa terjadi pada 1996. Rentang waktu fenomena ini semakin pendek. Kali ini, jeda waktunya hanya 17 tahun dari fenomena sebelumnya.

Baca juga: Banjir Melanda Surabaya, Sejumlah Jalan Protokol Tergenang Air

Selanjutnya, cuaca ekstrem terjadi lagi pada 2002. Jeda waktu terjadinya fenomena makan semakin pendek, hanya enam tahun.

Cuaca ekstrem juga terjadi pada 2007, kemudian menyusul pada 2008. Bisa dibayangkan betapa dekatnya jarak waktu.

Fenomena cuaca ekstrem ini semakin sering terjadi. Setelah 2008, cuaca ekstrem terjadi pada 2013. Rentang waktu keduanya hanya lima tahun.

BMKG menyatakan jarak fenomena cuaca ekstrem ini semakin pendek yaitu pada 2014 dan 2015. Yang terbaru adalah pada 2020.

Baca juga: Cara Dapatkan Bantuan Pemerintah Rp50 Juta Bagi Rumah yang Rusak Akibat Banjir

“Kesimpulannya apa? Kondisi ekstrem ini kejadian semakin sering dalam 30 tahun terakhir dan semakin pendek dalam 10 tahun terakhir,” ujar Dwikorita yang merupakan Profesor Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana di UGM.

BMKG Mencatatkan Intensitas Curah Hujan yang Semakin Tinggi

Selain jangka waktu yang semakin pendek, BMKG menyatakan intensitas curah hujan juga semakin tinggi. Tidak heran kan kalau ada hujan lebat.

BMKG mencatatkan curah huhan sebesar 125,2 mm (milimeter) pada 1918. Curah hujan naik menjadi 198 mm pada 1979.

Lantas curah hujan semakin naik menjadi 216,2 mm pada 1996. Curah hujan sempat menurun pada 2007.

Intensitas curah hujan pada 2007 sebesar 203,7 mm. Curah hujan sempat turun naik pada tahun-tahun terjadinya cuaca ekstrem lainnya. Curah hujan tertinggi mencapai 277,5 mm pada 2015.

Baca juga: Seperti Apa Dampak Bencana Banjir Terhadap Harga Properti?

Dwikorita melanjutkan bahwa intensitas curah hujan tertinggi terukur pada 25 Februari 2020 pukul 07.00 WIB (Waktu Indonesia Barat).

Curah hujan ini terjadi di Kemayoran, Jakarta Pusat yang mencapai 278 mm. Angka ini melewati 150 mm. Hal ini berarti intensitas hujan ekstrem.

Nah, kira-kira kamu sudah memahami kan kenapa belakangan ini curah hujan begitu lebat? Fenomena cuaca ekstrem menjadi penyebabnya.

Baca juga: Kenapa Sih Listrik Harus Dipadamkan Saat Terjadi Bencana Banjir?

Bagikan:
805 kali