Ilustrasi (Foto: Rumah123/iStock)

Bank Indonesia (BI) sedang mengkaji aturan terkait loan to value (LTV) secara spasial. LTV adalah nilai kredit atau jumlah pembiayaan yang bisa diberikan bank kepada pemohon kredit dengan jaminan atau agunan properti atau kendaraan. Saat ini, LTV tercatat 85% jadi uang muka yang dibebankan kepada peminjam adalah 15%. Secara spasial artinya aturan akan diterapkan berbeda secara wilayah atau geografis. Itu berarti, setiap daerah punya batas minimal DP rumah yang berbeda-beda nanti. "Detailnya seperti apa masih dalam kajian," kata Asisten Gubernur BI, Dody Budi Waluyo, seperti dikutip detikFinance, Rabu (25/10/2017).

Baca juga: Bank Artha Graha Merespons Positif Pelonggaran LTV

Beberapa waktu sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara menjelaskan LTV, spasial secara detail masih dibahas oleh BI, tapi nantinya akan diatur per daerah.

 "Ya LTV spasial itu kan di daerah misalnya ditingkatkan dan bisa dilonggarkan. Atau di daerah yang NPL-nya tinggi di sektor perumahan termasuk KPR mungkin saja bisa diperketat," ujar dia. Dia menjelaskan, harga tanah, rumah di daerah harus tersedia. Hal ini diperlukan kerja sama dengan para pengembang hingga asosiasi. "Untuk data-data spasial," ujarnya.

Baca juga; Kalau LTV Lebih Dilonggarkan Lagi, DP Rumah Bisa Lebih Kecil, Setuju? BI menyebut kajian pelonggaran LTV secara spasial untuk mendukung ekspansi atau intermediasi perbankan untuk menyalurkan kredit yang lebih baik. Pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk intermediasi perbankan. Penyaluran kredit properti dari data uang beredar BI per Agustus tercatat Rp762,1 triliun (tumbuh 13,5%), melambat dibandingkan periode bulan sebelumnya yang Rp755,1 triliun (tumbuh 13,9%).

Baca juga: Disiplin Menabung, Kunci Tercapainya Dana DP Rumah Sementara untuk KPR dan KPA tercatat Rp389,2 triliun (tumbuh 10,4%) dibandingkan bulan sebelumnya yang Rp385,7 triliun. Kredit real estate Rp133 triliun (tumbuh 8,5%) dibandingkan bulan sebelumnya yang Rp132 triliun.

Jadi, ada benarnya kalau dikatakan sektor properti Indonesia bangkit secara perlahan. Atau paling tidak cukup stabil dan masih menunjukkan pergerakan yang cukup aktif di kelas menengah ke bawah.

Bagikan:
1392 kali