xintiandi-china-daily Xintiandi, Shanghai (Rumah123/China Daily)

Kota Bandung sempat menjadi kota penghasil kina terbesar di dunia pada era Hindia Belanda di awal 1900-an. Pabrik yang berada di kota ini menghasilkan 90 persen produksi kina dunia.

Sekarang,  pabrik kina yang pernah mengenyam masa kejayaannya ini memang telah terbengkalai. Kimia Farma, badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki kompleks pabrik kina ini bermaksud untuk merevitalisasi kawasan ini menjadi lebih baik.

Baca juga: Wah, Ini Nih Pentingnya Revitalisasi dan Restorasi Bangunan Tua

Arsitek Muhammad Thamrin ikut dalam proyek revitalisasi dan konservasi kawasan pabrik seluas tujuh hektar ini.  Thamrin menyatakan kalau proyek ini akan menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pengerjaannya.

Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini memaparkan kalau kawasan bekas pabrik ini akan menjadi tempat retail, mall, tempat wisatan kuliner, tempat wisata, konvensi, galeri, tempat ekonomi kreatif, hotel, mesjid, hingga rumah sakit.

Baca juga: Kesadaran Jaga Bangunan Tua Sudah Ada, Tetapi Implementasi Masih Kurang

Banyak bangunan tua di kawasan pabrik kina ini yang diproyeksikan untuk dialihfungsikan nantinya. Namun, semua itu harus melewati banyak tahapan.

“Ini sesudah kita menapis dengan banyak kriteria, di mana yang kita bisa bangun. Ini bisa menyeimbangkan tuntutan ekonomi tadi. Suasana akan tetap seperti ini, tetapi akan kita aktifkan dengan membangun hotel, mesjid yang besar, mall,” ujar Muhammad Thamrin kepada Rumah123 saat ditemui di Gedung Olveh, Jakarta Barat pada Kamis (24/11).

Baca juga: Desainer Produk Ini Membuat Radio yang Eco-Friendly

Thamrin terpilih menjadi salah satu dari tiga talenta kretif dalam acara Olveh Flagship. Thamrin menjadi talenta kreatif di bidang arsitektur. Pameran ketiga talenta kreatif ini juga diselenggarakan di Gedung Olveh hingga 10 Januari 2017.

“Jadi isinya akan terintegrasi, orang akan jalan-jalan. Seperti Xintiandi di Shanghai, bangunan lamanya tidak dibongkar tetapi diaktifkan menjadi mall, tetapi menjadi tempat yang chic, kekinian banget,” lanjut Thamrin  yang pernah merancang paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman.

Baca juga: Spedagi, Sepeda Bambu Keren Ini Produksi Indonesia Lho

Thamrin memberikan contoh Xintiandi di Shanghai, Tiongkok. Sebuah kawasan yang memiliki banyak bangunan lama, namun sekarang diubah fungsinya menjadi tempat yang bisa menarik perhatian para pelancong.

Xintiandi adalah kawasan wisata belanja, wisata kuliner, dan hiburan di Shanghai. Wilayah ini bebas dari mobil.

Baca juga: Muhammad Thamrin, Arsitek yang Selektif Memilih Klien

Kawasan ini memiliki banyak bangunan dari material batu yang dibangun pada abad 19. Bangunan tua ini sekarang dialihfungsikan menjadi toko, restoran, cafe, dan lainnya.

Thamrin memaparkan lagi kalau kawasan bangunan tua di Indonesia bisa dibuat seperti di Xintiandi, dialihfungsikan menjadi kawasan wisata.

Baca juga: Bangunan Tua Itu Sebenarnya Punya Banyak Cerita Lho

Nah, kalau sudah seperti ini, wisatawan asing dan domestik pun tertarik untuk mendatangi kawasan tua yang telah direvitalisasi sehingga ada keuntungan finansial yang didapatkan.

Bagikan: 1178 kali