OK

5 Bangunan Peninggalan Portugis di Indonesia, Masih Berdiri Kokoh!

30 Nopember 2022 · 3 min read · by Nik Nik Fadlah

benteng tolukko

Ada sejumlah bangunan peninggalan Portugis yang berada di wilayah Indonesia. Kira-kira di mana saja?

Indonesia memiliki sejarah panjang sebelum berhasil meraih kemerdekaan. Tercatat, sejumlah bangsa pernah menjajah Indonesia. 

Selain Belanda dan Jepang, bangsa Portugis pun pernah ikut menjajah Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Portugis pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1511.

Bahkan di tahun yang sama, bangsa Portugis pun berhasil merebut Malaka. 

Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa bangunan yang menjadi saksi bisu sebagai bukti bahwa bangsa Portugis pernah menjajah Indonesia. Di mana saja? Berikut ulasannya.

Bangunan Peninggalan Portugis di Indonesia

1. Benteng Tolukko 

benteng tolukko

Sumber: Nativeindonesia.com

Terletak di Sangaji Utara, Ternate, Maluku, Benteng Tolukko dibangun pada tahun 1540 oleh Fransisco Sereo yang merupakan seorang panglima perang Portugis.

Di masa awal pembangunannya, Benteng Tolukko bernama Benteng Hollandia. Kemudian, masyarakat setempat menyebutnya Benteng Tolukko.

Penamaan tersebut berasal dari nama penguasa kesepuluh di Kesultanan Ternate. 

2. Benteng Oranje

benteng oranje

Sumber: Indonesiakaya.com

Dahulu, benteng ini merupakan peninggalan dari bangsa Portugis yang dihuni oleh orang-orang Melayu. 

Namun ketika Belanda memasuki wilayah Indonesia, benteng tersebut dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda. 

Bangunan Benteng Oranje sempat mengalami kerusakan parah. Kemudian, oleh pemerintah setempat benteng ini direvitalisasi dan saat ini menjadi tempat wisata yang menarik di Ternate. 

3. Benteng Kalamata

bangunan peninggalan portugis di indonesia bentang kalamata

Sumber: Idntimes.com

Mayoritas bangunan peninggalan Portugis di Indonesia berada di wilayah Ternate, termasuk Benteng Kalamata.

Benteng Kalamata sendiri terletak di Kayu Merah, Kecamatan Ternate Selatan, Maluku Utara. 

Benteng ini berada di ujung pulau dan menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Pulau Maitara. 

Didirikan pada tahun 1540, Benteng Kalamata awalnya dibangun untuk menghadapi serangan bangsa Spanyol dari Rum dan Tidore. 

Benteng Kalamata pun dibangun kembali oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yakni Pieter Both dan dipergunakan untuk keperluan pemerintah Belanda. 

4. Gereja Tugu

gereja tugu

Sumber: Kompas.com

Jika dibandingkan dengan bangunan yang telah disebutkan di atas, Gereja Tugu merupakan bangunan peninggalan Portugis di Indonesia yang satu-satunya terletak di ibu kota Jakarta. 

Terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara, gereja megah ini dibangun oleh Pendeta Melchior Leydecker. 

Tidak ada yang tahu pasti kapan Gereja Tugu dibangun, tetapi ahli sejarah percaya bahwa gereja ini dibangun pada tahun 1676-1678. 

5. Penjara Tua Kema

penjara tua kema bangunan peninggalan portugis di indonesia

Sumber: Okezone.com

Selain Lapas Nusakambangan, Indonesia juga memiliki penjara bersejarah yang berada di Sulawesi Utara.

Berdasarkan catatan sejarah, bangsa Portugis juga pernah menyambangi Minahasa. Salah satu peninggalan paling terkenalnya adalah Penjara Tua Kema. 

Untuk datang ke tempat ini, Property People harus menyusuri gang sempit yang terletak di antara perumahan penduduk. 

Tampilan bangunan Penjara Tua Kema hampir menyerupai bangunan rumah dan di dalamnya terdapat 3 bilik tahanan dengan ukuran yang kecil.

***

Nah, itulah sejumlah bangunan peninggalan Portugis di Indonesia. 

Apakah Property People pernah mengunjungi salah satunya?

Temukan informasi menarik lainnya mengenai kabar properti hanya di Artikel Rumah123.com.

Jangan lupa juga untuk mengikuti Google News kami agar tak ketinggalan berita terbaru, ya.

Sedang mencari hunian terbaik seperti di Singhamerta City?

Yuk, cek selengkapnya di Rumah123.com, karena kami selalu #AdaBuatKamu.


Tag: ,


Nik Nik Fadlah
Nik Nik Fadlah

Penulis di Rumah123.com. Sedang menekuni penulisan di bidang properti. Suka membuat digital collage art di waktu luang.