Cara pembagian warisan tak hanya untuk orang yang sudah berkeluarga, namun bisa dilakukan bagi orang yang memutuskan untuk tidak menikah. Seperti apa? Simak selengkapnya di sini.

Cara pembagian warisan_Featured Image

Beberapa orang memilih untuk tetap sendiri tak menyari pasangan, bahkan hingga dirinya meninggal dunia. 

Hal itu pun membuat orang kerap bingung untuk saat akan melakukan pembagian warisan. 

Lantas, bagaimana cara pembagian warisan tersebut diberikan jika pewaris tak memiliki istri/suami dan keturunan?

Yuk cari tahu hukum dan cara pembagian warisan jika pewaris tidak menikah yang dilansir dari Hukum Online di bawah ini:

Hukum dan Cara Pembagian Warisan dalam Islam

Manusia sebagai subjek hukum berawal ketika lahir dan berakhir karena meninggal. 

Dengan meninggalnya seseorang, maka berakhir pula subjek hukum sehingga hak dan kewajiban akan beralih kepada ahli warisnya. 

Namun yang beralih adalah hak dan kewajiban di bidang hukum harta kekayaan saja. 

Sedangkan hak dan kewajiban di bidang hukum keluarga tidak dapat beralih ke ahli warisnya.

Syarat-syarat Terpenuhinya Warisan

Cara pembagian warisan dalam hal ini akan terjadi apabila syarat pewarisan terpenuhi, yaitu:

1. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan.

2. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

3. Harta waris adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat.

Dalam pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama menyebutkan pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang :

1. Perkawinan

2. Waris

3. Wasiat

4. Hibah

5. Wakaf

6. Zakat

7. Infaq

8. Shadaqah

9. Ekonomi syari’ah

Penyebab Terjadinya warisan

Berpedoman pada pasal pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, Ahmad Azhar Basyir dalam bukunya Hukum Waris Islam Edisi Revisi, dalam hal kewarisan Islam berlaku bagi semua orang yang beragama Islam. 

Hukum waris islam disebut dengan istilah faraid, yang berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari faridah yang berarti bagian tertentu dari warisan.

Menurutnya, terdapat beberapa penyebab dalam cara pembagian warisan, yakni:

1. Hubungan kerabat atau nasab, seperti ayah, ibu, anak, cucu, saudara kandung seayah seibu dan sebagainya.

2. Hubungan perkawinan, yaitu suami atau istri, meskipun belum pernah berkumpul atau telah bercerai tetapi masih dalam masa ’iddah talak raj’i.

3. Hubungan walak, yaitu hubungan antar bekas budak dan orang yang memerdekakannya apabila bekas budak itu tidak mempunyai ahli waris yang berhak menhabiskan seluruh harta warisan.

4. Tujuan Islam (jihatul islam), yaitu baitul maal perbendaharaan negara), yang menampung harta warisan orang yang tidak meninggalan ahli waris sama sekali.

Kelompok Ahli waris

Terdapat dua jenis kelompok ahli waris dalam cara pembagian warisan yang harus kamu ketahui, yaitu:

1. Menurut Hubungan Darah

Hubungan darah dari golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.

Sementara, dari golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

2. Menurut Hubungan Perkawinan 

Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.

Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya: anak, ayah, ibu, janda atau duda.

Meski syarat-syarat dan cara pembagian warisan terpenuhi, proses pewarisan tidak akan terjadi apabila ahli waris tidak beragama Islam 

Selain harus beragama islam, seseorang terhalang menjadi ahli waris jika dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, yakni:

1. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris;

2. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Dengan demikian, yang berhak menjadi ahli waris dari pewaris adalah kedua orang tua serta saudara-saudaranya, jika ia tak menikah dan tak mempunyai keturunan.  

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Kingland Avenue hanya di www.rumah123.com.

Bagikan:
413 kali