Ketika mengalami perceraian, pembagian aset bersama selama pernikahan jadi hal penting yang harus diurus oleh pasangan. Pembagian aset bersama bisa juga disebut sebagai harta gono-gini.

Ketika mengalami perceraian, pembagian harta gono-gini jadi hal penting yang harus diurus oleh pasangan - Rumah123.com Ketika mengalami perceraian, pembagian harta gono-gini jadi hal penting yang harus diurus oleh pasangan. (Rumah123.com/Getty Images)

Salah  satu aset terbesar yang jadi perhatian utama adalah rumah, karena nilainya cukup besar. Lalu, apa yang harus dilakukan terhadap harta gono gini ketika rumah tangga berakhir pada perceraian? Yuk, simak bersama-sama ketentuan dan aturannya berikut ini!

Tiga macam harta dalam perkawinan

Pemerintah telah mengatur pembagian harta rumah tangga dalam Pasal 35 UU Perkawinan. Berdasarkan pasal tersebut, harta dalam perkawinan dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

Harta bawaan

Harta yang diperoleh suami atau istri sebelum pernikahan berlangsung. Masing-masing memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta benda bawaannya. 

Harta perolehan

Harta ini adalah harta milik masing-masing suami atau istri yang diperoleh dari warisan atau pemberian. Hak terhadap harta benda ini sepenuhnya ada pada masing-masingindividu.

Harta bersama

Harta bersama biasa disebut harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama perkawinan.

Baca juga: Mencari Hunian Impian, Mending Ke Pameran Properti atau Survei Langsung Ya?

Ketentuan membagi harta gono-gini berupa properti

Jika dibuat perjanjian pra-nikah sebelumnya

Sebelum membagi harta bersama, baik itu berupa properti maupun harta lainnya, kamu harus mengetahui dulu satu hal ini. Apakah sebelum pernikahan dilaksanakan sudah dibuat perjanjian pra nikah yang berisi pemisahan harta suami dan istri? Apabila kamu dan pasangan membuat perjanjian pra nikah dan salah satu isinya menyebutkan untuk memisahkan harta bawaan dan harta perolehan, maka ketika perceraian terjadi, baik itu istri atau suami hanya memperoleh harta yang terdaftar atas nama mereka. 

Jika tidak dibuat perjanjian pra nikah sebelumnya

Sedangkan apabila tidak pernah dibuat perjanjian pra-nikah, maka aturan mengenai pembagian harta bersama mengacu pada hukum yang berlaku. alam UU Perkawinan, yang menjadi harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan, sedangkan harta yang diperoleh sebelum perkawinan menjadi harta bawaan dari masing-masing suami dan istri. Harta bawaan dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan berada di bawah penguasaan masing-masing. Oleh karena itu, jika aset berupa properti, misalnya seperti rumah tinggal, diperoleh dalam masa perkawinan, maka menjadi harta bersama yang harus dibagi antara suami dan istri ketika terjadi perceraian. 

Baca juga: Seperti Apa Aturan Pembagian Harta Warisan Berupa Rumah Menurut Islam?

Cara mengajukan pembagian harta gono gini

Pembagian harta bersama baru bisa dilakukan setelah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap. Bagi suami istri yang mencatatkan perkawinannya di kantor catatan sipil, maka bisa mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri tempat tinggal Tergugat. Sedangkan bagi yang perkawinannya dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA), maka bisa mengajukan permohonan/gugatan ke Pengadilan Agama tempat tinggal istri.

Alternatif yang bisa dipilih dalam membagi harta bersama berupa rumah

Dalam  pembagian  rumah, mungkin akan sulit ketika aset harus dibagi dua. Untuk itu, ada  beberapa pilihan yang bisa dipilih oleh pasangan bercerai:

1.  Menjual rumah dan membagi hasil penjualan.

Biasanya pilihan ini dianggap yang paling fair. Tapi, prosesnya panjang dan dapat berdampak pada kehidupan sosial anak.

2.  Salah satu pihak membeli rumah tersebut

Untuk  kebaikan  anak, opsi  ini cukup tepat  untuk dipilih. Sebaiknya  ada pihak ketiga (agen properti) supaya gak terjadi konflik seputar harga jual rumah.

3.  Membagi rumah menjadi dua.

Pilihan yang memungkinkan kalau pasangan tetap menjalin hubungan baik setelah bercerai.

Namun  pilihan  ini jarang  dilakukan karena  biasanya masing-masing  sudah menjalani kehidupan baru.

4. Menyerahkan kepemilikan rumah kepada anak.

Pilihan yang paling bijak karena tak menimbulkan perebutan harta. Kesejahteraan anak di masa depan pun juga terjamin!

Bagikan: 1064 kali