Pendiri dan CEO Crown Group, Iwan Sunito. Foto: Rumah123/Crown Group

Siapa yang berpendapat bahwa pasar properti Indonesia masih lesu? Coba simak pendapat pendiri dan CEO Crown Group, Iwan Sunito. Orang nomor satu di perusahaan pengembang ternama yang berbasis di Australia ini mengemukakan pendapatnya perihal situasi terkini dunia properti Indonesia. Pendapatnya berikut ini disampaikannya di sela kunjungan singkatnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu.

Menurut Iwan,  yang perlu dicermati adalah harga hunian yang ditawarkan harus berbanding lurus dengan tingkat pendapatan dan kemampuan daya beli masyarakat kita saat ini agar tercipta keseimbangan yang sempurna.

Baca juga: Bidik Pasar Indonesia, Crown Group Paparkan Keunggulan Berinvestasi di Waterfall

Menurut data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, saat ini backlog perumahan kita mencapai 13,5 juta unit per tahun. Sementara, kebutuhan rumah baru yang bersumber dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi setiap tahunnya mencapai sekitar 800 ribu unit.

“Kondisi backlog ini juga dialami Australia, khususnya Sydney, di mana jumlah pasokan tidak bisa mengimbangi jumlah permintaan,” kata Iwan dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/10/2017).

“Bahkan backlog yang dialami Indonesia jauh lebih tinggi daripada yang dihadapi Australia, yang sekitar 50.000 hunian per tahunnya,” kata Iwan lagi.

Baca juga: Pasokan dan Permintaan Properti di Sydney Seimbang

Akan tetapi, yang perlu kita ingat, kata Iwan, harga yang ditawarkan kepada konsumen di Australia sesuai dengan daya beli masyarakatnya. Sehingga, keseimbangan terjadi, yang akhirnya membuat pasar Australia menjadi salah satu yang terbaik untuk investasi properti di kawasan Asia.

“Selama titik keseimbangan itu tercipta (harga hunian = daya beli masyarakat), saya yakin pasar properti di Indonesia dapat menjadi salah satu yang terkuat di kawasan Asia dalam beberapa tahun mendatang,” kata Iwan meyakinkan.

Menurutnya, tingginya jumlah permintaan akan hunian di Indonesia, dapat dikatakan bahwa pasar properti Indonesia adalah yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Iwan Sunito: Patriotisme Tak Selalu Berarti Harus Tingggal di Negara Asal

“Sempat ada kekhawatiran bahwa pasar properti Indonesia akan mengalami bubble, namun saya tidak melihat bahwa Indonesia akan mengalami hal tersebut,” kata Iwan.

Argumentasi dia, jumlah permintaan hunian di Indonesia masih jauh di atas kemampuan para pengembang dalam menyediakan pasokan. “Memang sempat terjadi slowing down pasca-Tax Amnesty, namun kalau kita perhatikan, saat ini sudah mulai merangkak naik,” kata Iwan lagi mengungkapkan pendapatnya.

Baca juga: Iwan Sunito: Peluang Global Butuh Jaringan Global

Dia melihat kecenderungan “naik” tersebut dari beberapa hal. Pertama, dukungan pemerintah Indonesia yang saat ini berusaha mendorong pertumbuhan sektor properti. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini akan semakin memudahkan masyarakat untuk memiliki hunian.

Kedua, kebijakan hunian yang berorientasi kepada transportasi massal. Hal ini akan membuat pasar properti Indonesia, khususnya di Jakarta, menjadi lebih berwarna dengan berbagai macam pilihan hunian.

Bagikan: 1415 kali