resesi ekonomi

Resesi ekonomi kini melanda sejumlah negara di dunia, mulai dari Singapura, Korea Selatan, Prancis, hingga Amerika Serikat. 

Hal itu terjadi akibat dampak pandemi virus corona yang menyebabkan penurunan ekonomi.

Hal inilah yang membuat berbagai indikator resesi terlihat, salah satunya adalah penurunan Domestik Bruto (PDB). 

Begitu pula dengan mersosotnya pendapatan riil, berkurangnya jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, hingga terpuruknya industri manufaktur.

Apa Itu Resesi Ekonomi

Dilansir dari Forbes, Ekonom Julius Shiskin mendefinisikan resesi ekonomi sebagai penurunan PDB yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut. 

Hal ini terjadi lantaran penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi. 

Penurunan tersebut biasanya berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Selama resesi, ekonomi berjuang, orang kehilangan pekerjaan, dan output ekonomi negara secara keseluruhan menurun.

Melansir Kompas, para ahli menyatakan resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami beberapa hal, yaitu:

- Produk domestik bruto negatif (PDB) negatif  - Meningkatnya tingkat pengangguran  - Penurunan penjualan ritel  - Ukuran pendapatan  - Manufaktur yang berkontraksi untuk periode waktu yang panjang 

Resesi adalah hal yang tak terhindarkan dari siklus bisnis yang terjadi dalam perekonomian suatu negara. 

Baca Juga: Mengenal Letter C Tanah, Salah Satu Bentuk Surat Tanah Tradisional di Indonesia

Penyebab Resesi Ekonomi

Resesi dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, berikut di antaranya: 

1. Guncangan Ekonomi Mendadak

Guncangan ekonomi adalah masalah serius yang datang tiba-tiba terkait keuangan.

Misalnya ketika OPEC pada tahun 1970 yang secara tiba-tiba memutus pasokan minyak tanpa peringatan. 

Sama halnya dengan wabah virus corona yang datang tiba-tiba dan mematikan ekonomi di seluruh dunia. 

2. Utang yang Berlebihan 

Ketika individu atau bisnis berutang terlalu banyak, maka biaya untuk melunasinya dapat meningkat. 

Bahkan, sampai ke titik di mana mereka tidak dapat membayar tagihan mereka.

3. Gelembung Aset 

Ketika keputusan investasi didorong oleh emosi, hasil ekonomi yang buruk akan mengikuti. Investor menjadi terlalu optimistis selama ekonomi kuat dan menghadirkan kondisi yang disebut

"kegembiraan irasional". 

Kegembiraan irasional menggembungkan pasar saham atau gelembung real estat dan ketika gelembung itu meletus. 

Hal tersebut akan membuat penjualan panik yang dapat menghancurkan pasar, menyebabkan resesi.

4. Terlalu Sering Inflasi

Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik seiring waktu.

Meski bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. 

Bank sentral mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga, dan suku bunga yang lebih tinggi menekan kegiatan ekonomi. 

Inflasi yang tidak terkendali adalah masalah yang pernah berlangsung di AS pada tahun 1970-an. 

Saat itu untuk menghentikan inflasi, suku bunga dinaikkan tapi justru menyebabkan resesi. 

5. Terlalu Banyak Deflasi 

Walaupun inflasi yang tidak terkendali dapat menciptakan resesi, deflasi bisa membuatnya lebih buruk. 

Deflasi adalah ketika harga turun dari waktu ke waktu, yang menyebabkan upah berkontraksi, dan akhirnya menekan harga. 

Ketika lingkaran umpan balik deflasi tidak terkendali, orang dan bisnis berhenti belanja yang akan berimbas pada perekonomian. 

6. Perubahan Teknologi 

Penemuan baru memang meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang. 

Namun, tentu ada periode jangka pendek untuk melakukan penyesuaian terhadap terobosan teknologi. 

Pada abad XIX, ada gelombang peningkatan teknologi hemat tenaga kerja. 

Revolusi Industri membuat seluruh profesi menjadi usang, memicu reses, dan masa-masa sulit.

Saat ini, beberapa ekonom khawatir bahwa AI dan robot dapat menyebabkan resesi dengan menghilangkan seluruh kategori pekerjaan. 

Baca Juga: 12 Cara Efektif Supaya Biaya Renovasi Rumah Jadi Jauh Lebih Murah

Dampak Resesi Ekonomi ke Sektor Properti

Melansir Okezone, Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan industri properti diprediksi akan terkena dampak resesi ekonomi. 

Hal ini dikarenakan industri properti sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. 

Kebanyakan orang akan cenderung memilih mengutamakan pembelian barang sekunder dan tersier. 

Terutama barang kebutuhan pokok dan yang berkaitan dengan kesehatan. 

Tak heran kalau harga properti tergolong stagnan, bahkan cenderung mengalami penurunan. 

Meski begitu, investasi properti masih menjadi pilihan yang tepat untuk jangka panjang. 

Sebab, properti memiliki siklus yang unik, serta pasti mengalami rebound.

Semoga artikel resesi ekonomi beserta penyebab dan dampaknya ini bisa bermanfaat untukmu ya. 

Jangan lupa kunjungi artikel.rumah123.com untuk dapatkan artikel menarik lainnya seputar properti. 

Kamu juga bisa mencari properti yang sesuai kebutuhanmu seperti Aksara Pure Living hanya di www.rumah123.com.

Bagikan:
495 kali