Ilustrasi Hunian (Rumah123/Realestate.com.au)

Kenapa sih mesti beli hunian? Kan harga apartemen atau rumah tapak mahal. Mendingan juga ngontrak rumah, tinggal di rumah kos, atau sewa apartemen.

Seandainya kamu memiliki pekerjaan yang harus berpindah-pindah kota, pilihan tidak punya rumah sih masuk akal. Lain halnya, kalau kamu berkarier di Jakarta, misalnya.

Baca juga: Berkat Investasi Properti dan Menabung, Generasi Milenial Ini Bisa Jadi Miliarder

Mau tidak mau, kamu harus memiliki rumah. Dalam jangka panjang, kamu akan menikmati hasil jerih payah investasi kamu.

Sementara kalau memilih mengontrak, kamu bakal merugi. Oke, kalau kebutuhan hunian terpenuhi tetapi kamu membayar sewa tempat yang tidak pernah menjadi hak milik.

Baca juga: Kalau Milenial Bisa Investasi Properti Seperti Ini Masuk Kelas Kakap Lho

Apalagi, kalau kamu lebih memilih membeli gadget mahal seperti smartphone berharga belasan juta dengan mencicil.

“Oke, kalau ngontrak semua terpenuhi. Semua bisa dipenuhi. Konsekuensinya abis juga. Masih ngontrak tetapi beli gadget,” ujar perencana keuangan atau financial planner Avian Dwiputra RFA kepada Rumah123.

Baca juga: Milenial Berani Minta Kenaikan Gaji. Nah, Sudah Berani Investasi Properti Belum?

“Kalau kita pakai buat DP rumah, mendingan beli rumah yang harganya naik terus 10-20 persen pertahun,” kata Avian lagi.

Kamu pernah membayangkan kalau kamu susah payah mencicil smartphone, motor, atau mobil? Harga semuanya akan menurun setelah beberapa tahun.

Baca juga: Milenial Mesti Maksa Investasi Properti, Kalau Ga…..

Sebaliknya, kalau kamu memaksa membeli properti, apakah harganya akan turun? Justru sebaliknya, harga hunian akan terus naik terutama untuk rumah tapak.

Kalau harga sewa atau kontrak sama dengan cicilan properti, ngapain kamu ngontrak? Kan mendingan beli properti. Setelah 10-15 tahun, unitnya menjadi hak milik. Jika huniannya sudah tidak nyaman, ya jual saja. Nah, kamu pilih mana?

Bagikan: 1250 kali