tni vs polri

Bukan rahasia umum TNI dan Polri berseteru, bahkan sudah terjadi sejak lama di masyarakat. Seperti apa sejarahnya? Simak di sini!

Kekompakan TNI dan Polri secara umum banyak kamu lihat di berbagai baliho hingga spanduk untuk sosialisasi masyarakat.

Meski para atasan terlihat akur dan memberi bukti untuk bersinergi, namun hal tersebut tidak terjadi sampai pada bagian akar dan prajuritnya.

Alih-alih kompak, TNI dan Polri berseteru di masyarakat bahkan sering mengalami bentrok yang saling merugikan bahkan kerap melanggar aturan disiplin.

Sejak era orde baru, TNI dan Polri kerap ditemukan dengan tugas yang sangat berbeda satu sama lainnya.

Dimana TNI AD bertugas untuk menjaga keamanan dan pertahanan, sementara Polri bertugas menjaga ketertiban. 

Jenis senjata pastinya berbeda, tapi ternyata TNI dan Polri berseteru dengan gesekan yang cukup tinggi.

Apa penyebab TNI dan Polri berseteru bak Tom and Jerry? Simak pembahasannya bersama-sama!

Penyebab TNI dan Polri Berseteru, Sudah Terjadi Sejak Zaman Sukarno 

Gaji polisi Sumber : Jawa Pos

Ada beberapa hal penting mengenai friksi antara TNI dan Polri yang sangat nyata dengan beberapa fakta menarik berikut ini : 

1. Sama-Sama Bagian dari Angkatan 45 

“Omong kosong jika ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan polisi M. Jasin,” tegas Mayor Jenderal Soedharto yang pernah menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), dalam buku Memoar Jasin : Sang Polisi Pejuang : Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia (2011).

Soedharto melanjutkan “Tanpa peran pasukan-pasukan Polisi Istimewa di bawah M. Jasin tak ada peristiwa November 1945.”

Apabila TNI lahir pada 5 Oktober 1945, atau cikal bakal Badan Keamanan Rakyat maka pada 21 Agustus 1945 sekelompok Polisi di Surabaya telah menyatakan diri berada di balik Republik Indonesia.

Merekalah Polisi Istimewa, yang bersenjata dan siap tempur mendukung Republik Indonesia yang belum seminggu berdiri.

Tapi hari heroik 21 Agustus 1945 itu tidak dijadikan hari lahir korps Polisi Istimewa, yakni Brigade Mobil (Brimob).

2. Cikal Bakal Lahirnya Brimob dalam Kemerdekaan Republik Indonesia 

Gaji polisi 1 Sumber : Antara

Lahirnya Brimob atau Brigade Mobil disebabkan karena saat TNI tergopoh-gopoh memilih panglima lewat rapat koboi, Polisi Istimewa sudah bertarung pada peristiwa 10 November di Surabaya.

Polisi Istimewa tersebut kemudian lebih banyak dijuluki orang sebagai Brigade Mobil (Brimob).

Seperti tentara, satuan Mobrig juga ikut serta dalam menghadapi pergolakan senjata-senjata di daerah dan berperang melawan Belanda pada era revolusi.

Tak hanya memukul pemberontak, TNI dan Polri berseteru menurut buku 20 tahun perkembangan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (1967), Brimob setidaknya pernah dikirim dalam operasi pendaratan di Papua (hlm.210).

Satuan ini memang berpengalaman melawan pemberontak dan tentara asing pada dekade awal sejarahnya.

Di luar pertempuran, selain Brimob, anggota polisi lain pun terlibat dalam Revolusi, termasuk Intelijen Pengawas Aliran Masyarakat di bawah pimpinan Komisaris Oemargatab.

Lembaga ini berperan besar untuk mengumpulkan data penting mengenai daftar musuh negara yang menjadi cikal bakal Badan Intelijen Negara.

3. Dipengaruhi Faktor Politik 

gaji tni Sumber : Antara

Alasan TNI dan Polri berseteru tidak lain tidak bukan juga disebabkan oleh faktor politk yang menimbulkan berbagai efek domino di masyarakat.

Pasalnya, sejak awal Amerika ingin mendekati Indonesia berharap komunisme di Indonesia segera punah.

Sebagai contoh, pasukan Brimob juga sempat dilatih oleh Tentara Amerika berdasarkan majalah Commando (1955,1959, 1960) untuk dilatih pasukan Amerika di Filipina.

Dari sini kemudian lahir Brimob Ranger, yang kemudian berganti nama dengan Resimen Pelopor.

Jika Polisi memiliki Brimob, maka TNI AD memiliki pasukan khusus bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Pada 1960, kepolisian masuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) berada di bawah kendali Presiden.

Namun, ada para panglima yang membawahi angkatan masing-masing.

Pada era tersebut, Amerika Serikat dianggap telah dekat dengan Angkatan Darat terlebih, Jenderal Ahmad Yani memiliki peranan sangat penting sebagai penghubung.

“Salah seorang Amerika yang mempunyai hubungan paling dekat dengan Angkatan Darat Indonesia adalah George Benson, penasihat Civic Action untuk Angkatan Darat Indonesia.

Ia mempunyai hubungan pribadi yang erat dengan Ahmad Yani dan banyak perwira dalam SUAD,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto (2007 : 271).

4. Perseteruan TNI dan Polri sebelum Sukarno Lengser 

Di akhir kepemimpinan Sukarno, Angkatan Darat yang dipimpin oleh Ahmad Yani menjadi kekuatan sentral militer di Indonesia.

Sukarno berjaga-jaga dengan mendekati angkatan lain, khususnya Marinir AL dan Brimob yang loyal terhadap Sukarno.

Pasca lengsernya Bung Karno, pasukan khusus Kepolisian dan Angkatan Laut mengalami penyusutan jumlah personel.

Terdapat Operasi Ikan Paus di KKO yang bertugas menumpas paham jejak G30S di dalamnya, kemudian Menpor bubar dan Brimob tidak segarang di era Sukarno.

Alasan TNI dan Polri berseteru juga dijelaskan menurut Julius Pour dalam buku gerakan 30 September : Pelaku, Pahlawan, & Petualang (2010 : 152).

Waktu itu, TNI dan Polri berseteru karena ada isu RPKAD ingin menyerang Istana, Komisaris Soemirat menyarankan Seokarno keluar dari Jakarta.

Soemirat melakukannya atas Panglima Angkatan Komisaris Jenderal Soetjipto Joedodihardjo.

“Panglima bersama Kolonel Anton Soedjarwo sudah bersama Resimen Rangers Brimob sudah siap di Kelapa Dua, membantu pengamanan bila diperlukan,” kata Soemirat.

KKO yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Hartono juga siap membela Presiden dan siap bertarung dengan pasukan manapun, termasuk RPKAD.

Setelah masa tersebut, Angkatan Darat kian diunggulkan di era Soeharto dan sangat berkembang bahkan tidak memiliki musuh.

Kemudian alasan TNI dan Polri berseteru pada pangkat terendah karena memang tertanam lama di masing-masing angkatan.

Sebagai contoh TNI dan Polri berseteru ketika Anggota TNI AD melihat anak sekolah dengan pakaian Pramuka dan tampak menjengkelkan, bisa dikatakan ia adalah mata-mata Brimob.

Kebencian dan seteru diperparah dengan buruknya citra Polisi di masyarakat sebagai tukang tilang. 

Ini bisa membuat citra polisi makin direndahkan, seperti yang terjadi pada jaman kolonial ketika KNIL meremehkan Polisi karena Korupsi Van Rossen pada 1930-an.

Itulah beberapa alasan TNI dan Polri berseteru berdasarkan sejarah nyata di masyarakat.

Temukan informasi menarik seputar gaya hidup dan properti, selengkapnya di artikel.rumah123.com

Kamu bisa wujudkan hunian idaman seperti LRT City Cibubur, hanya di Rumah123.com dan 99.co, yang pastinya #AdaBuatKamu!

Bagikan:
418 kali