Di luar kota-kota besar seperti Jakarta, ternyaa ada banyak kota alternatif yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat. Cocok untuk ditinggali anak muda!

kota alternatif - rumah123.com Photo by Muhammad Rizal Fahmi on Unsplash

Sejak dulu, Jakarta dan kota-kota besar lainnya kerap dijadikan destinasi pilihan bagi masyarakat dari daerah lain untuk mengadu nasib.

Mereka mencari peruntungan di pusat kota karena banyak asumsi bahwa banyak lapangan pekerjaan yang tersedia di sana.

Nyatanya, sejak era otonomi daerah awal 2000-an, perekonomian tak lagi terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Medan, tapi menyebar ke banyak daerah. 

Kebijakan otonomi telah mengalirkan sebagian dana pembangunan langsung dari pusat ke kabupaten/kota. 

Di sinilah, dana otonomi ini menyemaikan bibit-bibit pertumbuhan baru.

Selain aliran dana otonomi, ada sejumlah hal lain yang membuat banyak daerah mengalami perkembangan pesat.

Pembangunan infrastruktur (jalan tol, bandara, pelabuhan laut dan jaringan kapal tol-laut) yang digenjot Presiden Joko Widodo, juga ikut mengubah peta pertumbuhan di daerah. 

Selain itu, mobilitas kelas menengah yang kian santer, berkat perkembangan teknologi digital dan pembangunan infrastruktur, memberi “bensin” pada beberapa kota/kabupaten tertentu.

Terdapat 9 kota alternatif lain yang berkembang lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional

Seperti yang telah disebutkan di atas, pertumbuhan wilayah yang dinamis tidak hanya terjadi di kota besar. 

Ternyata, terdapat sejumlah wilayah lain di luar kota besar tersebut, yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat.

Lokadata mencermati laju pertumbuhan PDRB (produk domestik regional bruto) pada 514 kabupaten/kota dan membandingkannya dengan pertumbuhan nasional.

Dari penyisiran itu, Lokadata menemukan 100 daerah yang selama sembilan tahun terakhir, selalu tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional. 

Namun, harus diakui bahwa indikator pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut memiliki sejumlah kelemahan. 

Salah satunya adalah pembabatan hutan sebagai “biaya” lingkungan yang harus dibayar.

Selain itu, terdapat distribusi kesejahteraan yang timpang sehingga pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh sebagian kecil populasi.

Lepas dari berbagai kelemahan itu, para ekonom sepakat bahwa perekonomian tetap diperlukan agar tersedia lapangan kerja baru, agar generasi mendatang lebih baik dari orang tuanya, dan agar standar kehidupan masyarakat meningkat.

kota alternatif - rumah123.com

9 kota alternatif tersebut memiliki penduduk dengan usia produktif yang lebih besar

Selain indikator pertumbuhan yang stabil, Lokadata juga menyaring daerah-daerah potensial dengan dua variabel lain: 

(1) tersedianya angkatan kerja yang melimpah,

(2) porsi pengeluaran non-pangan yang lebih besar ketimbang pengeluaran untuk makanan.

Angkatan kerja (kelompok usia 15-65 tahun) yang melimpah menunjukkan adanya “bonus” demografi: jumlah penduduk usia produktif lebih besar ketimbang mereka yang mesti ditanggung (tidak produktif). 

Sementara itu, besarnya pengeluaran non-pangan menunjukkan adanya ruang anggaran yang cukup longgar untuk belanja di luar kebutuhan pokok.

Dari ketiga variabel itu (pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil; jumlah tenaga kerja yang semakin melimpah; serta porsi pengeluaran non-pangan yang besar), Lokadata menemukan sembilan wilayah kabupaten/kota pilihan yang berpotensi untuk terus berkembang di masa datang.

Terjadi pergeseran sumber perekonomian di 9 kota alternatif tersebut

kota alternatif - rumah123.com (Sumber: Lokadata)

Kesembilan daerah terpilih tersebut memiliki kecenderungan serupa. 

Yaitu adanya pergeseran sumber perekonomian dari sektor primer (pertanian dan pertambangan) ke sektor pengolahan (manufaktur, konstruksi, listrik dan gas), dan terutama ke sektor jasa (perdagangan, keuangan dan wisata).

Pergeseran sumber perekonomian ini sejalan dengan analisis Ari Kuncoro, ekonom yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia. 

Bagi Ari, pertumbuhan sektor jasa bisa saja mendorong industri manufaktur untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Polanya tidak harus urut dari pertanian ke industri, lalu ke jasa,” katanya. 

“Kita bisa melompat. Dengan jumlah kelas menengah yang banyak, bisa dimulai dari sektor jasa dulu.”

Salah satu contoh kota yang mengalami perubahan sumber perekonomian adalah Kota Batu.

Kota Batu, pada era sebelum dicanangkan sebagai kota administratif, awalnya juga berperan sebagai pendukung Kota Malang sebagai pemasok kebutuhan buah, sayur, dan produk pertanian. 

Tapi belakangan, Kota Batu terus berkembang dan tumbuh pesat dengan sumbangan perekonomian utama berasal dari sektor jasa pariwisata.

Kebanyakan penduduk di kota alternatif tersebut memiliki standar hidup yang tinggi

Selain dipenuhi anak muda, penduduk di kabupaten/kota terpilih ini juga memiliki porsi pengeluaran non-pangan yang cukup besar. 

Di Tangerang Selatan, Gianyar dan Bandung, jumlah pengeluaran non-pangan mencapai lebih dari 60 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 50,5 persen.

Besarnya porsi pengeluaran non-pangan merupakan salah satu petunjuk tingginya standar hidup. 

Bagikan:
1124 kali